seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup. (Magnific)
Hubungan yang toxic adalah hubungan yang secara konsisten menimbulkan stres, ketidakbahagiaan, manipulasi, kontrol berlebihan, kekerasan emosional, atau bahkan kekerasan fisik. Meski menyakitkan, banyak orang merasa sulit melepaskan diri dari pola tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (5/8), terdapat delapan alasan utama mengapa seseorang dapat terus mengulangi hubungan yang toxic menurut berbagai temuan dalam psikologi.
1. Terbiasa dengan Pola Hubungan Sejak Masa Kecil
Salah satu penjelasan paling kuat berasal dari teori attachment (ikatan emosional). Pengalaman masa kecil bersama orang tua atau pengasuh membentuk "cetak biru" mengenai seperti apa hubungan yang dianggap normal.
Apabila seseorang tumbuh di lingkungan yang penuh pertengkaran, kritik, manipulasi, atau kasih sayang yang tidak konsisten, mereka dapat menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Akibatnya, ketika dewasa mereka justru merasa nyaman dengan pasangan yang memiliki karakter serupa.
Misalnya:
Pasangan yang sering marah.
Pasangan yang posesif.
Pasangan yang sulit memberikan kasih sayang.
Pasangan yang membuat mereka terus berjuang demi mendapatkan perhatian.
Bukan karena mereka menyukai rasa sakit, melainkan karena otak mengenali pola tersebut sebagai sesuatu yang familiar.
2. Harga Diri yang Rendah
Harga diri memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hubungan.
Seseorang yang merasa dirinya tidak cukup baik sering kali percaya bahwa mereka tidak pantas mendapatkan pasangan yang memperlakukan mereka dengan hormat.
Mereka mungkin berpikir:
"Aku memang tidak layak dicintai."
"Kalau dia marah, mungkin memang salahku."
"Tidak akan ada orang lain yang mau menerimaku."
Keyakinan negatif ini membuat mereka bertahan dalam hubungan yang sebenarnya merugikan.
Psikologi menyebut kondisi ini sebagai self-esteem yang rendah, yang sering berkembang akibat pengalaman penolakan, bullying, kritik berlebihan, atau pola asuh yang keras.
3. Trauma Bonding
Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus perlakuan buruk yang diselingi dengan kasih sayang.
Pola ini biasanya berlangsung seperti berikut:
Pasangan menyakiti.
Korban ingin pergi.
Pasangan meminta maaf.
Pasangan menjadi sangat romantis.
Hubungan kembali harmonis.
Tidak lama kemudian kekerasan terulang lagi.
Siklus tersebut membuat otak melepaskan hormon stres dan hormon penghargaan secara bergantian.
Akibatnya, korban justru merasa semakin terikat secara emosional meskipun terus disakiti.
Inilah sebabnya mengapa banyak korban mengatakan bahwa mereka "tidak bisa meninggalkan" pasangannya.
4. Takut Sendirian
Rasa takut terhadap kesendirian sering kali lebih besar daripada rasa sakit akibat hubungan yang toxic.
Psikologi mengenal istilah fear of abandonment, yaitu ketakutan berlebihan akan ditinggalkan.
Orang dengan ketakutan ini cenderung berpikir:
Lebih baik memiliki pasangan yang buruk daripada tidak memiliki pasangan sama sekali.
Kesendirian terasa lebih menyakitkan.
Hubungan toxic masih lebih baik dibanding kehilangan seseorang.
Padahal, bertahan dalam hubungan yang merusak biasanya justru memperburuk kesehatan mental dalam jangka panjang.
5. Menganggap Cinta Harus Penuh Perjuangan
Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta sejati harus diperjuangkan melalui penderitaan.
Misalnya:
Semakin sulit hubungan, semakin besar cintanya.
Cemburu berarti sayang.
Bertengkar setiap hari dianggap normal.
Pasangan yang mengontrol dianggap peduli.
Padahal, hubungan yang sehat justru ditandai dengan rasa aman, saling menghormati, komunikasi yang baik, dan kemampuan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Ketika seseorang memiliki keyakinan keliru mengenai cinta, mereka lebih mudah menerima perilaku toxic sebagai sesuatu yang normal.
6. Sulit Mengenali Tanda-Tanda Hubungan Toxic
Tidak semua hubungan toxic dimulai dengan kekerasan.
Sebagian besar justru diawali dengan perhatian yang berlebihan.
Contohnya:
Terlalu cepat menyatakan cinta.
Terlalu cepat ingin berkomitmen.
Selalu ingin mengetahui lokasi pasangan.
Mengisolasi pasangan dari teman dan keluarga.
Mengontrol aktivitas dengan alasan sayang.
Pada awal hubungan, perilaku tersebut sering disalahartikan sebagai bentuk cinta yang besar.
Baru setelah hubungan berjalan cukup lama, kontrol tersebut berubah menjadi manipulasi dan kekerasan emosional.
Kurangnya pemahaman mengenai tanda-tanda awal hubungan toxic membuat seseorang lebih mudah mengulang pola yang sama.
7. Berharap Pasangan Akan Berubah
Harapan adalah salah satu alasan terbesar seseorang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.
Mereka terus mengingat sisi baik pasangan.
Mereka berkata:
"Dia sebenarnya baik."
"Dia hanya sedang stres."
"Nanti kalau menikah pasti berubah."
"Kalau aku lebih sabar, semuanya akan membaik."
Dalam psikologi, harapan yang terus dipertahankan meskipun bukti menunjukkan sebaliknya dapat membuat seseorang mengabaikan kenyataan.
Perubahan memang mungkin terjadi, tetapi hanya jika pasangan benar-benar memiliki kesadaran, kemauan, dan usaha yang konsisten untuk berubah.
8. Pola yang Belum Disembuhkan
Setelah keluar dari hubungan toxic, banyak orang fokus mencari pasangan baru tanpa terlebih dahulu menyembuhkan luka emosionalnya.
Akibatnya, pola lama tetap terbawa.
Misalnya:
Mudah mengabaikan tanda bahaya.
Terlalu cepat percaya.
Sulit menetapkan batasan (boundaries).
Takut mengatakan "tidak."
Selalu ingin menyenangkan pasangan.
Tanpa proses penyembuhan, seseorang cenderung tertarik pada tipe pasangan yang sama karena pola psikologis di dalam dirinya belum berubah.
Inilah mengapa terapi psikologi, refleksi diri, dan proses pemulihan sering menjadi langkah penting untuk memutus siklus hubungan yang toxic.
Bagaimana Cara Memutus Pola Hubungan Toxic?
Kabar baiknya, pola hubungan tidak bersifat permanen. Otak manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan membentuk kebiasaan baru. Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
Mengenali pola hubungan yang berulang.
Meningkatkan harga diri melalui pengembangan diri dan dukungan sosial.
Belajar menetapkan batasan (boundaries) yang sehat.
Memahami tanda-tanda awal manipulasi dan kekerasan emosional.
Tidak terburu-buru menjalin hubungan baru setelah putus.
Membangun hubungan dengan orang-orang yang suportif.
Berkonsultasi dengan psikolog jika memiliki trauma atau kesulitan keluar dari pola yang sama.
Perubahan memang membutuhkan waktu, tetapi setiap langkah kecil menuju hubungan yang lebih sehat adalah investasi bagi kesejahteraan jangka panjang.
Kesimpulan
Mengulangi hubungan yang toxic bukan berarti seseorang lemah atau sengaja memilih penderitaan. Dalam banyak kasus, hal tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, harga diri yang rendah, trauma emosional, ketakutan akan kesendirian, serta pola pikir yang belum berubah.
Memahami akar penyebabnya adalah langkah pertama untuk memutus siklus tersebut. Dengan meningkatkan kesadaran diri, membangun batasan yang sehat, dan bersedia menjalani proses penyembuhan, seseorang dapat menciptakan hubungan yang lebih aman, saling menghargai, dan penuh dukungan.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
