Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Agustus 2026 | 00.04 WIB

8 Alasan Mengapa Sebagian Orang Terjebak Mengulangi Pola Hubungan yang Toxic Menurut Psikologi

seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seseorang berkali-kali terjebak dalam hubungan yang toxic? Setelah berhasil keluar dari satu hubungan yang penuh luka, tidak lama kemudian mereka kembali menjalin hubungan dengan pasangan yang memiliki karakter serupa. Dari luar, hal ini mungkin terlihat seperti keputusan yang tidak masuk akal. Namun, psikologi menjelaskan bahwa pola tersebut sering kali bukan sekadar pilihan sadar, melainkan hasil dari pengalaman hidup, kebiasaan emosional, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.


Hubungan yang toxic adalah hubungan yang secara konsisten menimbulkan stres, ketidakbahagiaan, manipulasi, kontrol berlebihan, kekerasan emosional, atau bahkan kekerasan fisik. Meski menyakitkan, banyak orang merasa sulit melepaskan diri dari pola tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (5/8), terdapat delapan alasan utama mengapa seseorang dapat terus mengulangi hubungan yang toxic menurut berbagai temuan dalam psikologi.

1. Terbiasa dengan Pola Hubungan Sejak Masa Kecil

Salah satu penjelasan paling kuat berasal dari teori attachment (ikatan emosional). Pengalaman masa kecil bersama orang tua atau pengasuh membentuk "cetak biru" mengenai seperti apa hubungan yang dianggap normal.

Apabila seseorang tumbuh di lingkungan yang penuh pertengkaran, kritik, manipulasi, atau kasih sayang yang tidak konsisten, mereka dapat menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Akibatnya, ketika dewasa mereka justru merasa nyaman dengan pasangan yang memiliki karakter serupa.

Misalnya:

Pasangan yang sering marah.
Pasangan yang posesif.
Pasangan yang sulit memberikan kasih sayang.
Pasangan yang membuat mereka terus berjuang demi mendapatkan perhatian.

Bukan karena mereka menyukai rasa sakit, melainkan karena otak mengenali pola tersebut sebagai sesuatu yang familiar.

2. Harga Diri yang Rendah

Harga diri memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hubungan.

Seseorang yang merasa dirinya tidak cukup baik sering kali percaya bahwa mereka tidak pantas mendapatkan pasangan yang memperlakukan mereka dengan hormat.

Mereka mungkin berpikir:

"Aku memang tidak layak dicintai."
"Kalau dia marah, mungkin memang salahku."
"Tidak akan ada orang lain yang mau menerimaku."

Keyakinan negatif ini membuat mereka bertahan dalam hubungan yang sebenarnya merugikan.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai self-esteem yang rendah, yang sering berkembang akibat pengalaman penolakan, bullying, kritik berlebihan, atau pola asuh yang keras.

3. Trauma Bonding

Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus perlakuan buruk yang diselingi dengan kasih sayang.

Pola ini biasanya berlangsung seperti berikut:

Pasangan menyakiti.
Korban ingin pergi.
Pasangan meminta maaf.
Pasangan menjadi sangat romantis.
Hubungan kembali harmonis.
Tidak lama kemudian kekerasan terulang lagi.

Siklus tersebut membuat otak melepaskan hormon stres dan hormon penghargaan secara bergantian.

Akibatnya, korban justru merasa semakin terikat secara emosional meskipun terus disakiti.

Inilah sebabnya mengapa banyak korban mengatakan bahwa mereka "tidak bisa meninggalkan" pasangannya.

4. Takut Sendirian

Rasa takut terhadap kesendirian sering kali lebih besar daripada rasa sakit akibat hubungan yang toxic.

Psikologi mengenal istilah fear of abandonment, yaitu ketakutan berlebihan akan ditinggalkan.

Orang dengan ketakutan ini cenderung berpikir:

Lebih baik memiliki pasangan yang buruk daripada tidak memiliki pasangan sama sekali.
Kesendirian terasa lebih menyakitkan.
Hubungan toxic masih lebih baik dibanding kehilangan seseorang.

Padahal, bertahan dalam hubungan yang merusak biasanya justru memperburuk kesehatan mental dalam jangka panjang.

5. Menganggap Cinta Harus Penuh Perjuangan

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta sejati harus diperjuangkan melalui penderitaan.

Misalnya:

Semakin sulit hubungan, semakin besar cintanya.
Cemburu berarti sayang.
Bertengkar setiap hari dianggap normal.
Pasangan yang mengontrol dianggap peduli.

Padahal, hubungan yang sehat justru ditandai dengan rasa aman, saling menghormati, komunikasi yang baik, dan kemampuan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Ketika seseorang memiliki keyakinan keliru mengenai cinta, mereka lebih mudah menerima perilaku toxic sebagai sesuatu yang normal.

6. Sulit Mengenali Tanda-Tanda Hubungan Toxic

Tidak semua hubungan toxic dimulai dengan kekerasan.

Sebagian besar justru diawali dengan perhatian yang berlebihan.

Contohnya:

Terlalu cepat menyatakan cinta.
Terlalu cepat ingin berkomitmen.
Selalu ingin mengetahui lokasi pasangan.
Mengisolasi pasangan dari teman dan keluarga.
Mengontrol aktivitas dengan alasan sayang.

Pada awal hubungan, perilaku tersebut sering disalahartikan sebagai bentuk cinta yang besar.

Baru setelah hubungan berjalan cukup lama, kontrol tersebut berubah menjadi manipulasi dan kekerasan emosional.

Kurangnya pemahaman mengenai tanda-tanda awal hubungan toxic membuat seseorang lebih mudah mengulang pola yang sama.

7. Berharap Pasangan Akan Berubah

Harapan adalah salah satu alasan terbesar seseorang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Mereka terus mengingat sisi baik pasangan.

Mereka berkata:

"Dia sebenarnya baik."
"Dia hanya sedang stres."
"Nanti kalau menikah pasti berubah."
"Kalau aku lebih sabar, semuanya akan membaik."

Dalam psikologi, harapan yang terus dipertahankan meskipun bukti menunjukkan sebaliknya dapat membuat seseorang mengabaikan kenyataan.

Perubahan memang mungkin terjadi, tetapi hanya jika pasangan benar-benar memiliki kesadaran, kemauan, dan usaha yang konsisten untuk berubah.

8. Pola yang Belum Disembuhkan

Setelah keluar dari hubungan toxic, banyak orang fokus mencari pasangan baru tanpa terlebih dahulu menyembuhkan luka emosionalnya.

Akibatnya, pola lama tetap terbawa.

Misalnya:

Mudah mengabaikan tanda bahaya.
Terlalu cepat percaya.
Sulit menetapkan batasan (boundaries).
Takut mengatakan "tidak."
Selalu ingin menyenangkan pasangan.

Tanpa proses penyembuhan, seseorang cenderung tertarik pada tipe pasangan yang sama karena pola psikologis di dalam dirinya belum berubah.

Inilah mengapa terapi psikologi, refleksi diri, dan proses pemulihan sering menjadi langkah penting untuk memutus siklus hubungan yang toxic.

Bagaimana Cara Memutus Pola Hubungan Toxic?

Kabar baiknya, pola hubungan tidak bersifat permanen. Otak manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan membentuk kebiasaan baru. Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:

Mengenali pola hubungan yang berulang.
Meningkatkan harga diri melalui pengembangan diri dan dukungan sosial.
Belajar menetapkan batasan (boundaries) yang sehat.
Memahami tanda-tanda awal manipulasi dan kekerasan emosional.
Tidak terburu-buru menjalin hubungan baru setelah putus.
Membangun hubungan dengan orang-orang yang suportif.
Berkonsultasi dengan psikolog jika memiliki trauma atau kesulitan keluar dari pola yang sama.

Perubahan memang membutuhkan waktu, tetapi setiap langkah kecil menuju hubungan yang lebih sehat adalah investasi bagi kesejahteraan jangka panjang.

Kesimpulan

Mengulangi hubungan yang toxic bukan berarti seseorang lemah atau sengaja memilih penderitaan. Dalam banyak kasus, hal tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, harga diri yang rendah, trauma emosional, ketakutan akan kesendirian, serta pola pikir yang belum berubah.

Memahami akar penyebabnya adalah langkah pertama untuk memutus siklus tersebut. Dengan meningkatkan kesadaran diri, membangun batasan yang sehat, dan bersedia menjalani proses penyembuhan, seseorang dapat menciptakan hubungan yang lebih aman, saling menghargai, dan penuh dukungan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas dari konflik, melainkan hubungan yang memberikan rasa aman, menghormati martabat masing-masing, serta memungkinkan kedua individu tumbuh bersama tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun harga diri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore