seseorang yang berusaha menjadi orang tua yang baik. (Magnific)
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (5/8), berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, komunikasi yang baik, dan batasan yang jelas cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik, kemampuan sosial yang tinggi, serta rasa percaya diri yang kuat.
Lalu, perilaku apa saja yang dapat membantu Anda menjadi orang tua yang lebih baik? Berikut penjelasannya.
1. Mendengarkan Anak dengan Penuh Perhatian
Salah satu kebutuhan terbesar anak adalah merasa didengar. Banyak orang tua terburu-buru memberi nasihat sebelum benar-benar memahami apa yang dirasakan anak.
Psikologi menyebut keterampilan ini sebagai active listening atau mendengarkan secara aktif. Saat anak berbicara, hentikan aktivitas sejenak, lakukan kontak mata, dan dengarkan tanpa langsung menyela.
Ketika anak merasa didengarkan, ia akan lebih mudah terbuka mengenai masalah, ketakutan, maupun impiannya. Kebiasaan sederhana ini juga memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Tips:
Tatap mata anak saat berbicara.
Hindari memainkan ponsel.
Ulangi inti pembicaraan anak agar ia tahu bahwa Anda memahami.
2. Mengendalikan Emosi Sebelum Bereaksi
Anak sering melakukan kesalahan karena mereka masih belajar. Namun, respons orang tua terhadap kesalahan tersebut jauh lebih berpengaruh dibanding kesalahannya sendiri.
Psikolog menjelaskan bahwa kemarahan yang meledak-ledak dapat membuat anak mengalami stres, takut mencoba hal baru, bahkan kehilangan rasa percaya diri.
Daripada langsung memarahi, tarik napas dalam-dalam dan beri waktu beberapa detik sebelum berbicara.
Mengendalikan emosi bukan berarti membiarkan perilaku buruk, melainkan memilih cara mendidik yang lebih efektif.
3. Memberikan Contoh yang Baik
Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Jika orang tua ingin anak jujur, maka mereka harus menunjukkan kejujuran. Jika ingin anak disiplin, orang tua juga perlu menghargai waktu.
Psikologi menyebut proses ini sebagai observational learning, yaitu belajar melalui pengamatan.
Perilaku sederhana seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menghormati orang lain akan ditiru oleh anak tanpa perlu banyak ceramah.
4. Memberikan Pujian pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Banyak orang tua memuji anak hanya ketika memperoleh nilai tinggi atau memenangkan perlombaan.
Padahal, psikolog menyarankan untuk menghargai usaha, kerja keras, dan ketekunan.
Misalnya:
"Bunda bangga karena kamu sudah belajar dengan sungguh-sungguh."
Pujian seperti ini membantu anak mengembangkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha.
Akibatnya, anak tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
5. Menetapkan Aturan yang Konsisten
Anak membutuhkan kebebasan sekaligus batasan.
Ketika aturan berubah-ubah setiap hari, anak menjadi bingung mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Psikologi menunjukkan bahwa pola asuh yang konsisten membuat anak merasa aman karena mereka mengetahui konsekuensi dari setiap tindakan.
Misalnya:
Jam tidur tetap.
Waktu bermain gadget dibatasi.
Semua anggota keluarga mengikuti aturan yang sama.
Konsistensi jauh lebih efektif dibanding hukuman yang keras.
6. Memberikan Kasih Sayang Secara Terbuka
Pelukan, senyuman, dan kata-kata penuh kasih memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional anak.
Kontak fisik yang hangat membantu menurunkan hormon stres sekaligus meningkatkan hormon oksitosin yang berhubungan dengan rasa aman dan kedekatan.
Kasih sayang tidak akan membuat anak menjadi manja selama tetap disertai aturan dan tanggung jawab.
Jangan ragu mengatakan:
"Ayah sayang kamu."
"Mama bangga punya anak seperti kamu."
"Terima kasih sudah membantu hari ini."
Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi kenangan yang melekat hingga anak dewasa.
7. Menghargai Perasaan Anak
Sering kali orang tua berkata:
"Ah, cuma begitu saja kok nangis."
"Jangan cengeng."
"Kamu terlalu lebay."
Walaupun dimaksudkan untuk menenangkan, kalimat tersebut justru membuat anak merasa emosinya tidak penting.
Psikologi menyarankan untuk memvalidasi emosi terlebih dahulu.
Contohnya:
"Ayah tahu kamu kecewa karena mainannya rusak."
Setelah anak merasa dipahami, barulah ajak mencari solusi.
Dengan cara ini, anak belajar mengenali dan mengelola emosinya secara sehat.
8. Meluangkan Waktu Berkualitas Bersama Anak
Anak tidak selalu membutuhkan waktu yang lama bersama orang tua, tetapi mereka membutuhkan perhatian yang penuh.
Dua puluh menit bermain tanpa gangguan ponsel sering kali lebih bermakna dibanding berjam-jam berada di ruangan yang sama namun sibuk dengan urusan masing-masing.
Aktivitas sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
Membaca buku bersama.
Bermain permainan papan.
Memasak bersama.
Berjalan santai.
Mengobrol sebelum tidur.
Momen seperti ini memperkuat hubungan emosional sekaligus meningkatkan rasa percaya diri anak.
9. Mengajarkan Tanggung Jawab Sejak Dini
Banyak orang tua terlalu sering membantu anak hingga mereka tidak belajar mandiri.
Padahal, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa memberikan tanggung jawab sesuai usia membantu anak mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan memecahkan masalah.
Contohnya:
Merapikan tempat tidur.
Menaruh piring kotor di dapur.
Menyiapkan tas sekolah.
Membereskan mainan sendiri.
Biarkan anak mencoba meskipun hasilnya belum sempurna.
Kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar.
10. Terus Belajar Menjadi Orang Tua
Tidak ada sekolah khusus yang menjamin seseorang menjadi orang tua sempurna.
Orang tua terbaik adalah mereka yang mau belajar, mengakui kesalahan, dan memperbaiki diri.
Membaca buku parenting, mengikuti seminar, berdiskusi dengan pasangan, atau berkonsultasi dengan psikolog bila diperlukan merupakan bentuk tanggung jawab yang positif.
Jangan takut meminta maaf kepada anak jika melakukan kesalahan. Justru sikap tersebut mengajarkan bahwa setiap orang bisa salah dan selalu memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.
Kesimpulan
Menjadi orang tua yang lebih baik bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus bertumbuh bersama anak. Psikologi menunjukkan bahwa perilaku sederhana seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, mengendalikan emosi, memberikan kasih sayang, menghargai perasaan anak, serta menjadi teladan yang baik memiliki dampak besar terhadap perkembangan mereka.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
