Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Agustus 2026 | 00.36 WIB

10 Perilaku yang Bisa Menjadikan Anda sebagai Orang Tua yang Lebih Baik Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha menjadi orang tua yang baik. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Tidak ada orang tua yang sempurna, namun setiap orang tua dapat terus belajar menjadi lebih baik. Dalam psikologi, kualitas pengasuhan tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dimiliki atau seberapa mewah fasilitas yang diberikan kepada anak, melainkan oleh perilaku sehari-hari yang membentuk hubungan emosional yang sehat.


Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (5/8), berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, komunikasi yang baik, dan batasan yang jelas cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik, kemampuan sosial yang tinggi, serta rasa percaya diri yang kuat.

Lalu, perilaku apa saja yang dapat membantu Anda menjadi orang tua yang lebih baik? Berikut penjelasannya.

1. Mendengarkan Anak dengan Penuh Perhatian

Salah satu kebutuhan terbesar anak adalah merasa didengar. Banyak orang tua terburu-buru memberi nasihat sebelum benar-benar memahami apa yang dirasakan anak.

Psikologi menyebut keterampilan ini sebagai active listening atau mendengarkan secara aktif. Saat anak berbicara, hentikan aktivitas sejenak, lakukan kontak mata, dan dengarkan tanpa langsung menyela.

Ketika anak merasa didengarkan, ia akan lebih mudah terbuka mengenai masalah, ketakutan, maupun impiannya. Kebiasaan sederhana ini juga memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Tips:

Tatap mata anak saat berbicara.
Hindari memainkan ponsel.
Ulangi inti pembicaraan anak agar ia tahu bahwa Anda memahami.
2. Mengendalikan Emosi Sebelum Bereaksi

Anak sering melakukan kesalahan karena mereka masih belajar. Namun, respons orang tua terhadap kesalahan tersebut jauh lebih berpengaruh dibanding kesalahannya sendiri.

Psikolog menjelaskan bahwa kemarahan yang meledak-ledak dapat membuat anak mengalami stres, takut mencoba hal baru, bahkan kehilangan rasa percaya diri.

Daripada langsung memarahi, tarik napas dalam-dalam dan beri waktu beberapa detik sebelum berbicara.

Mengendalikan emosi bukan berarti membiarkan perilaku buruk, melainkan memilih cara mendidik yang lebih efektif.

3. Memberikan Contoh yang Baik

Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Jika orang tua ingin anak jujur, maka mereka harus menunjukkan kejujuran. Jika ingin anak disiplin, orang tua juga perlu menghargai waktu.

Psikologi menyebut proses ini sebagai observational learning, yaitu belajar melalui pengamatan.

Perilaku sederhana seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menghormati orang lain akan ditiru oleh anak tanpa perlu banyak ceramah.

4. Memberikan Pujian pada Proses, Bukan Hanya Hasil

Banyak orang tua memuji anak hanya ketika memperoleh nilai tinggi atau memenangkan perlombaan.

Padahal, psikolog menyarankan untuk menghargai usaha, kerja keras, dan ketekunan.

Misalnya:

"Bunda bangga karena kamu sudah belajar dengan sungguh-sungguh."

Pujian seperti ini membantu anak mengembangkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha.

Akibatnya, anak tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

5. Menetapkan Aturan yang Konsisten

Anak membutuhkan kebebasan sekaligus batasan.

Ketika aturan berubah-ubah setiap hari, anak menjadi bingung mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Psikologi menunjukkan bahwa pola asuh yang konsisten membuat anak merasa aman karena mereka mengetahui konsekuensi dari setiap tindakan.

Misalnya:

Jam tidur tetap.
Waktu bermain gadget dibatasi.
Semua anggota keluarga mengikuti aturan yang sama.

Konsistensi jauh lebih efektif dibanding hukuman yang keras.

6. Memberikan Kasih Sayang Secara Terbuka

Pelukan, senyuman, dan kata-kata penuh kasih memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional anak.

Kontak fisik yang hangat membantu menurunkan hormon stres sekaligus meningkatkan hormon oksitosin yang berhubungan dengan rasa aman dan kedekatan.

Kasih sayang tidak akan membuat anak menjadi manja selama tetap disertai aturan dan tanggung jawab.

Jangan ragu mengatakan:

"Ayah sayang kamu."
"Mama bangga punya anak seperti kamu."
"Terima kasih sudah membantu hari ini."

Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi kenangan yang melekat hingga anak dewasa.

7. Menghargai Perasaan Anak

Sering kali orang tua berkata:

"Ah, cuma begitu saja kok nangis."
"Jangan cengeng."
"Kamu terlalu lebay."

Walaupun dimaksudkan untuk menenangkan, kalimat tersebut justru membuat anak merasa emosinya tidak penting.

Psikologi menyarankan untuk memvalidasi emosi terlebih dahulu.

Contohnya:

"Ayah tahu kamu kecewa karena mainannya rusak."

Setelah anak merasa dipahami, barulah ajak mencari solusi.

Dengan cara ini, anak belajar mengenali dan mengelola emosinya secara sehat.

8. Meluangkan Waktu Berkualitas Bersama Anak

Anak tidak selalu membutuhkan waktu yang lama bersama orang tua, tetapi mereka membutuhkan perhatian yang penuh.

Dua puluh menit bermain tanpa gangguan ponsel sering kali lebih bermakna dibanding berjam-jam berada di ruangan yang sama namun sibuk dengan urusan masing-masing.

Aktivitas sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

Membaca buku bersama.
Bermain permainan papan.
Memasak bersama.
Berjalan santai.
Mengobrol sebelum tidur.

Momen seperti ini memperkuat hubungan emosional sekaligus meningkatkan rasa percaya diri anak.

9. Mengajarkan Tanggung Jawab Sejak Dini

Banyak orang tua terlalu sering membantu anak hingga mereka tidak belajar mandiri.

Padahal, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa memberikan tanggung jawab sesuai usia membantu anak mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan memecahkan masalah.

Contohnya:

Merapikan tempat tidur.
Menaruh piring kotor di dapur.
Menyiapkan tas sekolah.
Membereskan mainan sendiri.

Biarkan anak mencoba meskipun hasilnya belum sempurna.

Kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar.

10. Terus Belajar Menjadi Orang Tua

Tidak ada sekolah khusus yang menjamin seseorang menjadi orang tua sempurna.

Orang tua terbaik adalah mereka yang mau belajar, mengakui kesalahan, dan memperbaiki diri.

Membaca buku parenting, mengikuti seminar, berdiskusi dengan pasangan, atau berkonsultasi dengan psikolog bila diperlukan merupakan bentuk tanggung jawab yang positif.

Jangan takut meminta maaf kepada anak jika melakukan kesalahan. Justru sikap tersebut mengajarkan bahwa setiap orang bisa salah dan selalu memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.

Kesimpulan

Menjadi orang tua yang lebih baik bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus bertumbuh bersama anak. Psikologi menunjukkan bahwa perilaku sederhana seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, mengendalikan emosi, memberikan kasih sayang, menghargai perasaan anak, serta menjadi teladan yang baik memiliki dampak besar terhadap perkembangan mereka.

Pada akhirnya, anak mungkin tidak akan mengingat setiap hadiah yang pernah diberikan. Namun, mereka akan selalu mengingat bagaimana orang tua membuat mereka merasa dicintai, dihargai, didengar, dan diterima apa adanya. Hubungan yang hangat inilah yang menjadi fondasi kuat bagi tumbuh kembang anak hingga dewasa.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore