Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Agustus 2026 | 03.06 WIB

Jika Ingin Mengurangi Pertengkaran dengan Pasangan, Lakukan 7 Kebiasaan Mudah Ini Menurut Psikologi

seseorang yang mengurangi pertengkaran dengan pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Setiap hubungan pasti pernah mengalami perbedaan pendapat. Pertengkaran bukanlah tanda bahwa sebuah hubungan akan berakhir, melainkan bagian alami dari proses mengenal karakter, kebutuhan, dan cara berpikir masing-masing pasangan. Yang membedakan hubungan yang sehat dengan hubungan yang tidak sehat bukanlah seberapa sering bertengkar, tetapi bagaimana pasangan menyelesaikan konflik tersebut.


Dalam psikologi hubungan, konflik yang dikelola dengan baik justru dapat mempererat ikatan emosional. Sebaliknya, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali tanpa disadari dapat memperbesar masalah hingga akhirnya menjadi pertengkaran besar.

Kabar baiknya, ada beberapa kebiasaan sederhana yang terbukti membantu mengurangi konflik dalam hubungan. Kebiasaan ini tidak membutuhkan biaya atau usaha yang rumit, tetapi memerlukan komitmen dan konsistensi dari kedua belah pihak.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (4/8), terdapat tujuh kebiasaan mudah menurut psikologi yang dapat membantu mengurangi pertengkaran dengan pasangan.

1. Dengarkan untuk Memahami, Bukan Sekadar Membalas

Kesalahan yang paling sering terjadi saat bertengkar adalah mendengarkan hanya untuk mencari celah membalas argumen pasangan.

Psikologi komunikasi menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan untuk didengar dan dipahami. Ketika seseorang merasa didengarkan, tingkat emosinya akan lebih cepat menurun sehingga percakapan menjadi lebih tenang.

Cobalah memberi pasangan kesempatan menyelesaikan ucapannya tanpa memotong. Setelah itu, ulangi inti perkataannya dengan kalimat seperti:

"Jadi yang kamu maksud adalah..."

Cara sederhana ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar berusaha memahami sudut pandangnya.

2. Gunakan Kalimat "Saya Merasa" daripada Menyalahkan

Saat emosi memuncak, banyak orang langsung menggunakan kalimat seperti:

"Kamu selalu egois."
"Kamu tidak pernah peduli."
"Semua ini salah kamu."

Kalimat seperti ini membuat pasangan merasa diserang sehingga lebih memilih membela diri daripada mencari solusi.

Psikologi menyarankan penggunaan I Statement atau kalimat yang berfokus pada perasaan sendiri.

Contohnya:

"Saya merasa sedih ketika pesan saya tidak dibalas."
"Saya merasa kurang diperhatikan akhir-akhir ini."

Dengan cara ini, pasangan lebih mudah memahami perasaan Anda tanpa merasa dihakimi.

3. Jangan Membahas Masalah Saat Emosi Sedang Tinggi

Ketika marah, bagian otak yang bertugas mengambil keputusan rasional bekerja kurang optimal. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengucapkan kata-kata yang disesali kemudian.

Jika emosi mulai memuncak, ambillah jeda sekitar 20–30 menit untuk menenangkan diri.

Gunakan waktu tersebut untuk:

berjalan santai,
menarik napas dalam,
minum air putih,
atau melakukan aktivitas yang membantu menenangkan pikiran.

Setelah suasana lebih tenang, diskusikan kembali masalah dengan kepala dingin.

4. Biasakan Mengucapkan Terima Kasih atas Hal-Hal Kecil

Rasa dihargai merupakan salah satu kebutuhan emosional dasar manusia.

Sayangnya, pasangan yang sudah lama bersama sering kali menganggap bantuan kecil sebagai sesuatu yang biasa sehingga lupa mengucapkan terima kasih.

Padahal ucapan sederhana seperti:

"Terima kasih sudah menjemputku."
"Makasih sudah membantu pekerjaan rumah."
"Aku menghargai usahamu."

dapat meningkatkan perasaan dihargai dan memperkuat hubungan emosional.

Psikologi positif menunjukkan bahwa apresiasi yang konsisten dapat meningkatkan kepuasan dalam hubungan.

5. Hindari Mengungkit Kesalahan Lama

Salah satu penyebab pertengkaran berkepanjangan adalah membawa kembali masalah yang sebenarnya sudah selesai.

Misalnya ketika sedang membahas keterlambatan pasangan, tiba-tiba muncul kembali kesalahan yang terjadi bertahun-tahun lalu.

Akibatnya, pembahasan menjadi melebar dan tidak menemukan solusi.

Fokuslah pada masalah yang sedang dihadapi saat ini.

Jika suatu kesalahan memang sudah dimaafkan, usahakan tidak menjadikannya senjata dalam pertengkaran berikutnya.

6. Luangkan Waktu Berkualitas Tanpa Gangguan Gadget

Kesibukan pekerjaan dan penggunaan media sosial sering membuat pasangan berada di ruangan yang sama tetapi tidak benar-benar berinteraksi.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kualitas interaksi lebih penting daripada lamanya waktu bersama.

Luangkan setidaknya 20–30 menit setiap hari untuk berbicara tanpa gangguan ponsel.

Anda bisa:

makan malam bersama,
berjalan santai,
minum kopi,
atau sekadar berbincang tentang aktivitas hari itu.

Kebiasaan sederhana ini membantu membangun kedekatan emosional sehingga konflik lebih mudah diselesaikan.

7. Jangan Ragu Meminta Maaf Lebih Dulu

Sebagian orang menganggap meminta maaf berarti kalah.

Padahal dalam hubungan yang sehat, meminta maaf adalah bentuk kedewasaan emosional.

Permintaan maaf yang tulus dapat menghentikan pertengkaran sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Ucapan seperti:

"Maaf kalau perkataanku tadi membuatmu terluka. Itu bukan niatku."

sering kali lebih efektif daripada mempertahankan ego.

Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan meminta maaf dan memaafkan berhubungan erat dengan hubungan jangka panjang yang lebih bahagia.

Mengapa Kebiasaan Kecil Sangat Berpengaruh?

Hubungan tidak dibangun oleh momen besar semata, tetapi oleh interaksi kecil yang terjadi setiap hari.

Senyuman, ucapan terima kasih, perhatian sederhana, dan komunikasi yang baik akan membentuk rasa aman dalam hubungan.

Sebaliknya, kritik, sikap defensif, mengabaikan pasangan, dan kurangnya apresiasi jika dilakukan terus-menerus dapat mengikis kedekatan emosional.

Itulah sebabnya perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada hadiah mahal atau liburan mewah.

Penutup

Mengurangi pertengkaran dengan pasangan bukan berarti menghilangkan semua perbedaan pendapat. Setiap individu memiliki karakter, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kedua belah pihak mampu mengelola perbedaan tersebut dengan cara yang sehat.

Mulailah menerapkan tujuh kebiasaan sederhana ini dalam kehidupan sehari-hari: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menggunakan kalimat yang tidak menyalahkan, menenangkan diri sebelum berdiskusi, mengucapkan terima kasih, tidak mengungkit masa lalu, meluangkan waktu berkualitas bersama, dan berani meminta maaf.

Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih harmonis, saling menghargai, dan penuh kehangatan. Pada akhirnya, hubungan yang bahagia bukanlah hubungan yang tidak pernah bertengkar, melainkan hubungan yang mampu menyelesaikan konflik dengan penuh rasa hormat, empati, dan kasih sayang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore