Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Agustus 2026 | 00.02 WIB

8 Alasan Mengapa Orang Sulit Meninggalkan Pasangan yang Buruk Menurut Psikologi

seseorang yang sulit meninggalkan pasangan yang buruk. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hubungan asmara seharusnya menjadi tempat seseorang merasa aman, dihargai, dan berkembang bersama pasangan. Namun kenyataannya, tidak semua hubungan berjalan sehat. Banyak orang bertahan dalam hubungan yang penuh pertengkaran, manipulasi, pengkhianatan, bahkan kekerasan emosional maupun fisik.


Pertanyaan yang sering muncul adalah, "Mengapa mereka tidak memilih pergi?" Bagi orang luar, keputusan untuk mengakhiri hubungan yang buruk tampak sederhana. Akan tetapi, dari sudut pandang psikologi, meninggalkan pasangan yang tidak baik sering kali jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Ada berbagai faktor emosional, biologis, hingga sosial yang membuat seseorang merasa sulit melepaskan diri dari hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (4/8), terdapat delapan alasan utama menurut psikologi.

1. Trauma Bonding atau Ikatan Trauma

Salah satu alasan paling kuat seseorang bertahan dalam hubungan yang buruk adalah adanya trauma bonding. Istilah ini menggambarkan ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus perlakuan buruk yang diselingi dengan perhatian atau kasih sayang.

Misalnya, setelah pasangan memarahi atau menyakiti, ia kemudian meminta maaf, memberikan hadiah, atau menunjukkan perhatian yang sangat besar. Pola ini membuat korban berharap bahwa pasangan akan berubah menjadi lebih baik.

Lama-kelamaan, otak mulai mengaitkan rasa lega setelah konflik sebagai bentuk cinta. Akibatnya, korban merasa semakin terikat meskipun hubungan tersebut menyakitkan.

2. Takut Kesepian

Rasa takut hidup sendirian merupakan faktor yang sangat umum. Banyak orang percaya bahwa memiliki pasangan yang buruk masih lebih baik daripada tidak memiliki pasangan sama sekali.

Ketakutan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti:

Pengalaman ditinggalkan di masa lalu.
Rendahnya rasa percaya diri.
Tekanan sosial untuk segera menikah atau memiliki pasangan.
Kekhawatiran tidak akan menemukan orang yang lebih baik.

Dalam psikologi, rasa takut akan kesepian sering membuat seseorang mengabaikan berbagai tanda hubungan yang tidak sehat.

3. Investasi Emosional yang Sudah Sangat Besar

Semakin lama seseorang menjalin hubungan, semakin besar pula investasi yang telah diberikan. Investasi tersebut tidak hanya berupa waktu, tetapi juga tenaga, perasaan, bahkan pengorbanan finansial.

Fenomena ini dikenal sebagai Sunk Cost Fallacy, yaitu kecenderungan seseorang untuk terus mempertahankan sesuatu hanya karena sudah mengeluarkan banyak usaha, meskipun sebenarnya keputusan terbaik adalah berhenti.

Pikiran seperti berikut sering muncul:

"Aku sudah lima tahun bersamanya."
"Sayang kalau semua perjuangan ini sia-sia."
"Mungkin sebentar lagi dia berubah."

Padahal, lamanya hubungan bukanlah jaminan bahwa hubungan tersebut layak dipertahankan.

4. Harapan Bahwa Pasangan Akan Berubah

Banyak orang bertahan karena percaya bahwa pasangan akan berubah suatu hari nanti.

Harapan ini biasanya muncul ketika pasangan sesekali menunjukkan sikap yang baik, meminta maaf, atau berjanji akan memperbaiki diri.

Sayangnya, jika perubahan tersebut hanya bersifat sementara dan pola buruk terus berulang, harapan justru menjadi jebakan psikologis yang membuat seseorang semakin sulit pergi.

Psikologi menunjukkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan komitmen yang konsisten, bukan sekadar janji setelah konflik.

5. Harga Diri yang Rendah

Orang yang memiliki self-esteem rendah lebih rentan bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Mereka sering berpikir:

"Aku memang pantas diperlakukan seperti ini."
"Tidak ada orang lain yang mau menerimaku."
"Aku tidak cukup baik."

Keyakinan negatif terhadap diri sendiri membuat seseorang menerima perlakuan yang seharusnya tidak dapat ditoleransi.

Ironisnya, pasangan yang manipulatif sering memanfaatkan kondisi ini dengan terus merendahkan atau mengkritik korban sehingga rasa percaya dirinya semakin menurun.

6. Manipulasi dan Gaslighting

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mulai meragukan ingatan, penilaian, atau kenyataan yang dialaminya sendiri.

Contohnya, pasangan berkata:

"Kamu terlalu sensitif."
"Itu hanya ada di kepalamu."
"Aku tidak pernah mengatakan itu."
"Semua ini salahmu."

Jika terjadi terus-menerus, korban mulai kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri dan menjadi bergantung pada pasangan untuk menentukan mana yang benar.

Akibatnya, keputusan untuk mengakhiri hubungan menjadi jauh lebih sulit.

7. Ketergantungan Finansial atau Sosial

Tidak semua orang memiliki kebebasan untuk langsung mengakhiri hubungan.

Beberapa alasan praktis yang sering menjadi hambatan antara lain:

Bergantung secara ekonomi pada pasangan.
Memiliki anak bersama.
Takut kehilangan tempat tinggal.
Tekanan dari keluarga besar.
Kekhawatiran terhadap penilaian masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk pergi bukan hanya soal perasaan, tetapi juga menyangkut keamanan, stabilitas hidup, dan masa depan.

8. Otak Terbiasa dengan Pola Hubungan yang Tidak Sehat

Pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap hubungan ketika dewasa.

Seseorang yang tumbuh di lingkungan penuh konflik, kritik, atau kekerasan mungkin menganggap hubungan seperti itu sebagai sesuatu yang normal.

Dalam teori psikologi, manusia cenderung mencari sesuatu yang terasa "familiar", meskipun sebenarnya menyakitkan.

Karena itu, seseorang bisa tanpa sadar memilih pasangan yang mengulang pola hubungan yang pernah dialaminya sejak kecil.

Dampak Bertahan Terlalu Lama dalam Hubungan yang Buruk

Bertahan dalam hubungan yang tidak sehat dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental maupun fisik, seperti:

Meningkatnya stres kronis.
Gangguan kecemasan.
Depresi.
Menurunnya rasa percaya diri.
Sulit mempercayai orang lain.
Gangguan tidur.
Penurunan produktivitas.
Masalah kesehatan akibat stres berkepanjangan.

Semakin lama seseorang berada dalam hubungan yang toksik, semakin besar pula risiko dampak psikologis yang dialami.

Bagaimana Cara Mulai Keluar dari Hubungan yang Tidak Sehat?

Meninggalkan pasangan yang buruk bukanlah keputusan yang mudah. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu:

Kenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.
Bangun kembali rasa percaya diri.
Ceritakan kondisi kepada orang yang dipercaya.
Buat rencana yang aman jika ingin mengakhiri hubungan.
Cari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor jika diperlukan.
Ingat bahwa setiap orang berhak mendapatkan hubungan yang penuh rasa hormat dan kasih sayang.

Tidak semua hubungan dapat diperbaiki. Ketika sebuah hubungan terus menghadirkan rasa takut, manipulasi, atau penderitaan, menjaga diri sendiri adalah keputusan yang bijaksana.

Penutup

Sulit meninggalkan pasangan yang buruk bukan berarti seseorang lemah atau tidak memiliki keberanian. Psikologi menunjukkan bahwa berbagai faktor seperti trauma bonding, rasa takut kesepian, investasi emosional, manipulasi, hingga pengalaman masa kecil dapat membuat seseorang merasa terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Memahami alasan-alasan tersebut dapat membantu kita lebih berempati kepada mereka yang sedang mengalaminya. Jika Anda atau orang terdekat berada dalam situasi serupa, ingatlah bahwa hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling menghormati, kepercayaan, komunikasi yang baik, dan rasa aman. Tidak ada seorang pun yang pantas bertahan dalam hubungan yang terus-menerus melukai dirinya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore