Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Agustus 2026 | 00.49 WIB

10 Hal yang Dapat Dilakukan Orang Tua untuk Menjaga Keamanan Anak Saat Screen Time Menurut Psikologi

seseorang yang menjaga keamanan anak saat screen time. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Di era digital, screen time telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Mulai dari belajar daring, menonton video edukasi, bermain gim, hingga berkomunikasi dengan teman, penggunaan gawai tidak lagi dapat dihindari. Namun, di balik berbagai manfaatnya, terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai, seperti paparan konten yang tidak sesuai usia, kecanduan gawai, cyberbullying, gangguan tidur, hingga berkurangnya kemampuan anak dalam bersosialisasi secara langsung.


Dari sudut pandang psikologi, yang terpenting bukanlah melarang anak menggunakan gawai sepenuhnya, melainkan membantu mereka mengembangkan kebiasaan digital yang sehat dan aman. Orang tua memiliki peran sebagai pendamping, pembimbing, sekaligus teladan dalam membentuk perilaku tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (4/8), terdapat sepuluh langkah yang direkomendasikan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi perkembangan dan psikologi keluarga.

1. Bangun Komunikasi Terbuka Tentang Dunia Digital

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa hubungan yang hangat antara orang tua dan anak merupakan faktor pelindung utama terhadap berbagai risiko perilaku.

Alih-alih hanya memberikan larangan, ajak anak berdiskusi mengenai apa yang mereka lakukan saat menggunakan internet. Tanyakan aplikasi favorit mereka, video yang mereka tonton, permainan yang mereka sukai, atau teman yang mereka ajak berbicara secara daring.

Anak yang merasa didengarkan cenderung lebih terbuka ketika mengalami masalah di dunia digital, seperti menerima pesan dari orang asing atau menemukan konten yang membuat mereka takut.

Beberapa pertanyaan sederhana yang dapat diajukan antara lain:

"Hari ini kamu nonton apa?"
"Game apa yang paling seru menurutmu?"
"Kalau ada orang yang membuatmu tidak nyaman di internet, kamu akan cerita ke siapa?"

Komunikasi yang konsisten membantu membangun rasa aman sehingga anak tidak takut meminta bantuan.

2. Tetapkan Aturan Screen Time yang Jelas dan Konsisten

Menurut teori pembelajaran sosial, anak lebih mudah memahami batasan jika aturan dibuat secara jelas dan diterapkan secara konsisten.

Aturan dapat mencakup:

Lama penggunaan gawai setiap hari.
Waktu yang diperbolehkan menggunakan layar.
Jenis aplikasi yang boleh diakses.
Tempat menggunakan gawai.

Misalnya:

Tidak menggunakan gawai saat makan bersama.
Tidak membawa ponsel ke kamar tidur.
Menggunakan internet setelah pekerjaan rumah selesai.

Konsistensi jauh lebih efektif dibandingkan hukuman yang berubah-ubah.

3. Dampingi Anak Saat Menggunakan Internet

Dalam psikologi dikenal konsep co-viewing atau pendampingan aktif. Pendekatan ini lebih efektif dibandingkan sekadar mengawasi dari jauh.

Ketika anak menonton video atau bermain gim, sesekali duduklah bersama mereka. Tanyakan apa yang sedang mereka lihat dan bantu menjelaskan jika terdapat informasi yang belum dipahami.

Pendampingan seperti ini membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang mereka temukan.

Selain itu, anak akan merasa bahwa dunia digital merupakan bagian dari kehidupan keluarga, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

4. Ajarkan Literasi Digital Sejak Dini

Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi di internet benar.

Psikologi kognitif menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis berkembang melalui latihan dan diskusi.

Ajarkan anak untuk:

Memeriksa sumber informasi.
Tidak mudah percaya berita sensasional.
Tidak membagikan informasi pribadi.
Mengenali penipuan daring.
Menghormati privasi orang lain.

Semakin dini anak memahami cara kerja internet, semakin besar kemampuan mereka dalam melindungi diri sendiri.

5. Gunakan Kontrol Orang Tua Sebagai Pendukung, Bukan Pengganti Pengasuhan

Berbagai aplikasi menyediakan fitur parental control yang dapat membantu membatasi akses terhadap konten tertentu.

Namun, psikologi menekankan bahwa hubungan emosional tetap lebih penting dibandingkan pengawasan teknologi.

Kontrol digital sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya cara menjaga keamanan anak.

Anak yang memahami alasan di balik aturan akan lebih mampu mengendalikan dirinya dibandingkan anak yang hanya diawasi.

6. Jadilah Contoh Penggunaan Gawai yang Sehat

Menurut Teori Belajar Sosial dari Albert Bandura, anak belajar terutama melalui observasi terhadap perilaku orang dewasa.

Jika orang tua terus-menerus memegang ponsel saat makan atau mengabaikan percakapan keluarga karena media sosial, anak akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Sebaliknya, tunjukkan kebiasaan positif seperti:

Menyimpan ponsel saat berbicara.
Membaca buku.
Berolahraga.
Menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa layar.

Teladan jauh lebih berpengaruh dibandingkan nasihat.

7. Kenali Tanda-Tanda Anak Mulai Ketergantungan Gawai

Psikologi mengenali beberapa indikator awal penggunaan gawai yang berlebihan, antara lain:

Mudah marah ketika gawai diambil.
Sulit berhenti bermain meskipun sudah diingatkan.
Kehilangan minat terhadap aktivitas lain.
Gangguan tidur.
Nilai sekolah menurun.
Menarik diri dari interaksi sosial.

Jika gejala muncul secara konsisten dan mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua sebaiknya melakukan evaluasi terhadap pola penggunaan gawai dan berkonsultasi dengan profesional bila diperlukan.

8. Dorong Aktivitas Offline yang Menyenangkan

Otak anak berkembang melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui layar.

Aktivitas seperti:

Bermain di luar rumah.
Menggambar.
Membaca buku.
Berkebun.
Bermain musik.
Memasak bersama.
Berolahraga.

membantu meningkatkan kreativitas, kemampuan sosial, regulasi emosi, dan kesehatan fisik.

Ketika kebutuhan bermain terpenuhi di dunia nyata, ketergantungan terhadap layar biasanya ikut berkurang.

9. Ajarkan Etika dan Empati di Dunia Digital

Internet bukan hanya soal teknologi, tetapi juga hubungan antarmanusia.

Ajarkan anak bahwa aturan sopan santun tetap berlaku di dunia maya.

Misalnya:

Tidak menghina orang lain.
Tidak menyebarkan foto tanpa izin.
Menggunakan bahasa yang baik.
Menghormati pendapat orang lain.
Tidak ikut menyebarkan perundungan (cyberbullying).

Psikologi moral menunjukkan bahwa empati dapat dilatih melalui diskusi mengenai dampak perilaku terhadap perasaan orang lain.

10. Jadikan Keamanan Digital Sebagai Proses Belajar Bersama

Teknologi berkembang sangat cepat. Tidak ada orang tua yang mengetahui seluruh aplikasi, gim, atau media sosial yang digunakan anak.

Karena itu, penting untuk memiliki sikap terbuka dan terus belajar bersama.

Tanyakan kepada anak mengenai aplikasi baru yang mereka gunakan. Pelajari bersama cara menjaga privasi, mengenali risiko, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Pendekatan kolaboratif membuat anak merasa dipercaya sekaligus tetap memperoleh arahan dari orang tua.

Kesimpulan

Menjaga keamanan anak saat screen time bukan berarti melarang penggunaan gawai sepenuhnya. Dari perspektif psikologi, pendekatan yang paling efektif adalah membangun hubungan yang hangat, komunikasi yang terbuka, aturan yang konsisten, serta memberikan teladan penggunaan teknologi yang sehat.

Ketika anak merasa aman untuk berdiskusi dengan orang tua, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan di dunia digital. Dengan pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana belajar, berkreasi, dan bersosialisasi tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun perkembangan psikologis anak.

Pada akhirnya, tujuan utama bukanlah menghilangkan screen time, melainkan membantu anak menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bertanggung jawab, dan mampu menjaga dirinya sendiri di era digital.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore