
Ilustrasi orang yang rajin menabung. (Magnific)
JawaPos.com - Tidak semua orang dengan penghasilan besar memilih gaya hidup yang serba mewah. Sebagian justru cenderung berhati-hati dalam membelanjakan uang dan lebih mengutamakan kestabilan finansial dibanding memenuhi keinginan sesaat.
Pola tersebut kerap dipengaruhi oleh pengalaman yang dialami sejak masa kanak-kanak, terutama jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang pernah menghadapi keterbatasan atau ketidakpastian ekonomi. Pengalaman itu dapat membentuk kebiasaan mengelola uang secara disiplin hingga terbawa ke usia dewasa.
Lantas, apa saja pengalaman yang berpotensi membentuk kebiasaan tersebut? Berikut enam faktor yang disebut berkaitan dengan kecenderungan orang berpenghasilan tinggi untuk tetap hidup hemat.
1. Menyaksikan ketidakstabilan keuangan
Kondisi keuangan yang tidak stabil dapat menanamkan benih ketakutan sejak dini.
Menurut penelitian dari APA tentang stres, anak-anak yang melihat orang tuanya berjuang dengan tagihan atau menghadapi ketidakpastian pekerjaan sering kali memendam kecemasan itu.
Hal ini menjadi hal yang lumrah bagi mereka, pendapatan tambahan disimpan untuk berjaga-jaga jika bencana terjadi lagi.
Tidak masalah jika orang tersebut akhirnya mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Kenangan lama tentang ketidakberdayaan masih bisa berbisik, "Kita tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi."
Sering kali, mereka akan menyalurkan uang mereka ke rekening tabungan atau pensiun karena rasa aman terasa lebih penting daripada kesenangan sesaat.
2. Merasa tertekan untuk mencapai lebih banyak hal
Bila seorang anak terus-menerus diajarkan, "Kamu harus jadi lebih baik," mereka mungkin belajar untuk bersikap keras pada diri sendiri, bahkan dalam hal keuangan.
Tumbuh dalam rumah tangga yang menekankan kesuksesan dapat mengondisikan seseorang untuk memperlakukan uang seperti kartu skor.
Mereka menabung seolah-olah mereka menunggu untuk membuktikan sesuatu, atau mereka mengejar pencapaian berikutnya.
Dalam artikel Harvard Business Review tentang orang-orang berprestasi tinggi, mereka menemukan bahwa banyak individu yang unggul secara akademis atau profesional sering kali memiliki ketakutan mendasar akan kehilangan segalanya.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Lionel Messi atau Mohamed Salah
