Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Juli 2026 | 14.27 WIB

Jika Anda Kesulitan Menerima Pujian, Kemungkinan Besar Anda Memiliki 8 Ciri Halus Berikut Ini Menurut Psikologi

seseorang yang kesulitan menerima pujian. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah seseorang memuji hasil kerja Anda, tetapi respons pertama yang muncul justru, "Ah, ini biasa saja," atau, "Saya hanya sedang beruntung"?

Bagi sebagian orang, menerima pujian terasa mudah. Mereka mengucapkan terima kasih, tersenyum, lalu melanjutkan aktivitas. Namun, bagi sebagian lainnya, pujian justru memunculkan rasa canggung, tidak nyaman, bahkan bersalah.

Jika Anda termasuk orang yang sulit menerima apresiasi, Anda tidak sendirian. Dalam psikologi, kesulitan menerima pujian sering kali bukan tentang rendah hati semata, melainkan berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri, pengalaman hidup, serta pola pikir yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Menolak pujian secara terus-menerus juga dapat memengaruhi hubungan sosial. Orang lain mungkin merasa apresiasinya tidak dihargai atau menganggap Anda tidak percaya pada ketulusan mereka.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (7/7), terdapat delapan ciri halus yang sering dimiliki oleh orang-orang yang kesulitan menerima pujian menurut berbagai temuan psikologi.

1. Anda Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri

Ciri pertama adalah adanya suara kritis dalam diri yang sangat dominan.

Alih-alih mengingat keberhasilan, pikiran Anda lebih sering fokus pada kesalahan, kekurangan, atau hal-hal yang masih belum sempurna.

Akibatnya, ketika seseorang mengatakan bahwa pekerjaan Anda luar biasa, pikiran langsung membalas:

"Kalau mereka tahu berapa banyak kesalahan yang saya buat, mereka pasti tidak akan berkata seperti itu."

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai self-criticism yang tinggi. Orang dengan pola pikir seperti ini sulit mempercayai penilaian positif dari orang lain karena standar internal mereka jauh lebih keras.

Mereka merasa pencapaian sekecil apa pun masih belum cukup layak mendapatkan pujian.

2. Anda Menganggap Keberhasilan Hanya Karena Keberuntungan

Pernah merasa semua pencapaian Anda terjadi hanya karena kebetulan?

Misalnya, Anda berhasil menyelesaikan proyek besar, tetapi berpikir bahwa keberhasilan itu hanya karena tim yang hebat, situasi yang mendukung, atau sekadar keberuntungan.

Ini merupakan salah satu tanda yang sering dikaitkan dengan fenomena impostor syndrome.

Orang yang mengalami kondisi ini cenderung sulit mengakui kemampuan dirinya sendiri. Mereka percaya bahwa suatu hari nanti orang lain akan menyadari bahwa mereka sebenarnya "tidak sehebat itu."

Padahal, kenyataannya keberhasilan tersebut sering kali merupakan hasil kerja keras, pengalaman, dan kemampuan yang memang dimiliki.

3. Anda Selalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Meskipun baru saja dipuji, Anda langsung teringat seseorang yang menurut Anda jauh lebih hebat.

Misalnya:

"Saya memang menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik, tetapi teman saya hasilnya jauh lebih bagus."

Perbandingan seperti ini membuat pujian kehilangan maknanya.

Dalam psikologi, social comparison adalah hal yang wajar. Namun jika dilakukan secara berlebihan, seseorang akan sulit menikmati pencapaiannya sendiri.

Selalu ada orang yang dianggap lebih pintar, lebih sukses, atau lebih berbakat.

Akibatnya, pujian terasa tidak pantas diterima.

4. Anda Merasa Harus Selalu Sempurna

Perfeksionisme sering kali terlihat sebagai sifat positif. Orang yang perfeksionis biasanya teliti, disiplin, dan memiliki standar tinggi.

Namun di balik itu, perfeksionisme juga memiliki sisi yang melelahkan.

Bagi seorang perfeksionis, hasil yang mendapat nilai 95 dari 100 belum tentu membanggakan. Pikiran mereka justru sibuk memikirkan lima poin yang hilang.

Karena fokus pada kekurangan, mereka kesulitan menerima pujian atas apa yang sudah berhasil dicapai.

Mereka percaya bahwa apresiasi baru pantas diterima ketika semuanya benar-benar sempurna—sesuatu yang hampir mustahil diwujudkan.

5. Anda Tidak Nyaman Menjadi Pusat Perhatian

Sebagian orang memang lebih nyaman berada di balik layar.

Ketika dipuji di depan banyak orang, mereka merasa gugup, malu, atau ingin segera mengalihkan pembicaraan.

Bukan karena mereka tidak menghargai pujian, tetapi karena perhatian dari banyak orang terasa membebani.

Mereka mungkin akan segera memuji orang lain sebagai cara untuk mengurangi sorotan terhadap dirinya.

Sikap ini sering ditemukan pada individu yang memiliki kepribadian lebih introvert atau terbiasa menghindari perhatian publik.

6. Anda Sulit Mempercayai Penilaian Positif Orang Lain

Jika seseorang mengatakan bahwa Anda hebat, respons pertama Anda mungkin justru bertanya-tanya:

"Apa ada maunya?"

atau

"Dia hanya sedang bersikap sopan."

Ketidakmampuan mempercayai pujian sering kali berakar pada pengalaman masa lalu.

Orang yang pernah sering diremehkan, dikritik secara berlebihan, atau dibesarkan di lingkungan yang jarang memberikan apresiasi cenderung sulit menerima umpan balik positif.

Mereka lebih mudah mempercayai kritik dibandingkan pujian.

Padahal, tidak semua pujian memiliki motif tersembunyi.

Sering kali orang benar-benar menghargai usaha dan kualitas yang Anda miliki.

7. Anda Selalu Mengalihkan Penghargaan kepada Orang Lain

Saat seseorang berkata,

"Presentasi Anda sangat bagus."

Anda mungkin menjawab,

"Itu karena tim saya yang hebat."

Mengakui kontribusi orang lain tentu merupakan hal yang baik.

Namun jika Anda tidak pernah mengakui peran diri sendiri, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda kesulitan menerima penghargaan secara sehat.

Kesuksesan memang jarang dicapai sendirian.

Tetapi bukan berarti usaha Anda tidak memiliki nilai.

Mengakui pencapaian pribadi bukanlah bentuk kesombongan.

Sebaliknya, itu menunjukkan kemampuan melihat kenyataan secara objektif.

8. Anda Merasa Nilai Diri Bergantung pada Prestasi Berikutnya

Bagi sebagian orang, satu keberhasilan tidak pernah terasa cukup.

Begitu satu target tercapai, mereka langsung memikirkan target berikutnya.

Akibatnya, mereka hampir tidak pernah berhenti untuk menikmati pencapaian yang sudah diraih.

Pujian hanya dianggap sebagai gangguan sebelum kembali bekerja lebih keras.

Psikologi menunjukkan bahwa orang yang menggantungkan harga dirinya pada pencapaian eksternal sering kali mengalami kepuasan yang hanya berlangsung sesaat.

Mereka terus mengejar validasi berikutnya tanpa benar-benar menghargai proses yang telah dilalui.

Mengapa Belajar Menerima Pujian Itu Penting?

Menerima pujian bukan berarti menjadi sombong.

Sebaliknya, menerima apresiasi secara sehat menunjukkan bahwa Anda mampu mengakui usaha, kemampuan, dan perkembangan diri secara realistis.

Cara sederhana untuk mulai melatihnya adalah dengan hanya mengucapkan:

"Terima kasih."

Tidak perlu langsung merendahkan diri.

Tidak perlu mencari alasan mengapa pujian itu salah.

Tidak perlu segera mengalihkan pembicaraan.

Ucapan sederhana tersebut sudah cukup untuk menghargai ketulusan orang lain sekaligus mengakui bahwa Anda memang telah melakukan sesuatu dengan baik.

Penutup

Kesulitan menerima pujian sering kali berasal dari pola pikir yang terbentuk sejak lama, bukan karena seseorang benar-benar tidak memiliki kemampuan.

Jika Anda mengenali beberapa ciri di atas, jangan terburu-buru menghakimi diri sendiri. Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan.

Belajarlah menerima apresiasi sebagaimana Anda menerima kritik: dengan pikiran yang terbuka dan penilaian yang seimbang.

Pada akhirnya, mengakui keberhasilan bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain. Itu hanya berarti Anda memberikan penghargaan yang layak kepada diri sendiri atas usaha yang telah dilakukan.

Karena setiap kerja keras pantas diakui—termasuk oleh diri Anda sendiri.
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore