Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Juli 2026 | 04.29 WIB

6 Kebiasaan Orang yang Tidak Memiliki Pasangan Hidup untuk Tempat Bersandar Secara Emosional Menurut Psikologi

seseorang yang tidak memiliki tempat untuk bersandar. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Memiliki pasangan hidup sering kali dianggap sebagai salah satu sumber dukungan emosional yang penting. Saat menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau tantangan hidup lainnya, pasangan biasanya menjadi orang pertama yang diajak berbagi cerita. Namun, tidak semua orang memiliki pasangan hidup. Sebagian masih lajang, ada yang memilih hidup sendiri, dan ada pula yang baru saja mengakhiri hubungan.

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa ketiadaan pasangan bukan berarti seseorang tidak mampu menjalani kehidupan emosional yang sehat. Justru banyak orang mengembangkan kebiasaan-kebiasaan tertentu untuk menjaga keseimbangan mental dan memenuhi kebutuhan emosional mereka dengan cara yang berbeda.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (7/7), terdapat enam kebiasaan yang umum ditemukan pada orang yang tidak memiliki pasangan hidup sebagai tempat bersandar secara emosional.

1. Lebih Sering Melakukan Dialog dengan Diri Sendiri

Orang yang hidup tanpa pasangan biasanya lebih terbiasa melakukan refleksi diri. Mereka menghabiskan waktu untuk memahami apa yang sedang dirasakan, mengapa muncul emosi tertentu, dan bagaimana cara mengelolanya.

Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai self-reflection. Refleksi diri membantu seseorang mengenali pola pikir, memperbaiki kesalahan, sekaligus meningkatkan kecerdasan emosional.

Alih-alih langsung mencari validasi dari orang lain, mereka cenderung bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu.

Misalnya:

"Mengapa aku merasa kecewa?"
"Apa yang sebenarnya membuatku marah?"
"Apa solusi terbaik untuk situasi ini?"

Kebiasaan ini dapat membuat seseorang menjadi lebih mandiri secara emosional, meskipun tetap penting untuk mencari dukungan sosial ketika menghadapi masalah yang berat.

2. Membangun Lingkaran Pertemanan yang Dekat

Tidak memiliki pasangan bukan berarti hidup tanpa dukungan emosional.

Menurut berbagai penelitian psikologi sosial, hubungan pertemanan yang berkualitas mampu memberikan rasa memiliki (sense of belonging) yang sangat kuat. Karena itu, banyak orang lajang berinvestasi lebih besar dalam persahabatan.

Mereka lebih rutin menghubungi teman, berkumpul bersama keluarga, atau menjaga komunikasi dengan orang-orang yang dipercaya.

Hubungan yang sehat dengan teman dapat menjadi tempat berbagi cerita, meminta masukan, bahkan memperoleh penguatan emosional saat menghadapi masa-masa sulit.

Hal ini menunjukkan bahwa dukungan emosional tidak selalu harus berasal dari hubungan romantis.

3. Menyalurkan Emosi Melalui Hobi dan Aktivitas Produktif

Ketika menghadapi stres atau kesepian, banyak orang tanpa pasangan memilih mengalihkan energi emosional mereka ke aktivitas yang bermakna.

Contohnya:

membaca buku,
menulis jurnal,
melukis,
memasak,
berolahraga,
berkebun,
bermain musik,
atau mempelajari keterampilan baru.

Psikologi menyebut strategi ini sebagai bentuk coping mechanism yang adaptif.

Aktivitas tersebut membantu mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, sekaligus memberikan rasa pencapaian yang positif.

Daripada memendam emosi, mereka memilih mengubahnya menjadi sesuatu yang produktif.

4. Lebih Mandiri dalam Mengambil Keputusan

Tanpa pasangan untuk diajak berdiskusi setiap saat, seseorang cenderung lebih terbiasa mengambil keputusan secara mandiri.

Mulai dari keputusan kecil seperti mengatur keuangan hingga keputusan besar mengenai karier atau tempat tinggal, semuanya dipertimbangkan dengan matang.

Kemandirian ini sering kali meningkatkan rasa percaya diri karena mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

Meski demikian, psikologi juga menekankan bahwa orang yang mandiri tetap membutuhkan sudut pandang dari orang lain agar tidak terjebak dalam bias pribadi.

Karena itu, mereka biasanya tetap meminta masukan kepada keluarga, teman dekat, atau mentor ketika menghadapi keputusan yang sangat penting.

5. Lebih Menjaga Rutinitas yang Menenangkan

Orang yang hidup sendiri sering kali membangun rutinitas yang membantu menjaga stabilitas emosional.

Misalnya:

bangun dan tidur pada jam yang sama,
berolahraga secara rutin,
meditasi,
berjalan kaki,
menikmati secangkir kopi sambil membaca,
atau membatasi penggunaan media sosial.

Dalam psikologi, rutinitas yang konsisten mampu memberikan rasa kontrol terhadap kehidupan.

Ketika seseorang merasa hidupnya teratur, tingkat kecemasan cenderung menurun karena otak tidak terus-menerus menghadapi ketidakpastian.

Rutinitas sederhana ini sering menjadi "jangkar emosional" yang membantu seseorang tetap tenang meski sedang menghadapi tekanan.

6. Belajar Menjadi Sumber Dukungan bagi Diri Sendiri

Salah satu kebiasaan yang paling menonjol adalah mengembangkan self-compassion atau belas kasih kepada diri sendiri.

Alih-alih terus mengkritik diri ketika gagal, mereka berusaha memperlakukan diri sendiri sebagaimana memperlakukan sahabat yang sedang mengalami kesulitan.

Misalnya dengan mengatakan:

"Tidak apa-apa kalau hari ini berat."
"Aku sudah berusaha semampuku."
"Aku bisa mencoba lagi besok."

Menurut psikologi, self-compassion berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, dan kemampuan bangkit dari kegagalan yang lebih tinggi.

Kemampuan ini menjadi sangat penting bagi orang yang tidak selalu memiliki pasangan untuk memberikan dukungan emosional secara langsung.

Tidak Semua Orang Tanpa Pasangan Merasa Kesepian

Perlu dipahami bahwa hidup tanpa pasangan tidak selalu identik dengan kesepian. Kesepian adalah pengalaman subjektif yang dapat dirasakan oleh siapa saja, termasuk mereka yang sedang berada dalam hubungan romantis.

Sebaliknya, banyak orang yang hidup sendiri tetap merasa bahagia karena memiliki hubungan sosial yang sehat, tujuan hidup yang jelas, serta kemampuan mengelola emosi dengan baik.

Psikologi modern menekankan bahwa kualitas hubungan jauh lebih penting daripada status hubungan itu sendiri. Memiliki pasangan memang dapat menjadi sumber dukungan emosional, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesejahteraan psikologis seseorang.

Penutup

Tidak memiliki pasangan hidup membuat sebagian orang belajar menemukan sumber kekuatan dari dalam diri maupun dari lingkungan sosial di sekitarnya. Kebiasaan seperti refleksi diri, menjaga hubungan pertemanan, menyalurkan emosi melalui hobi, membangun kemandirian, menjaga rutinitas, serta mengembangkan self-compassion dapat membantu seseorang tetap sehat secara emosional.

Pada akhirnya, kesejahteraan mental tidak semata-mata ditentukan oleh ada atau tidaknya pasangan hidup, melainkan oleh kemampuan seseorang membangun hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Dukungan emosional memang penting, tetapi fondasi yang paling kuat sering kali dimulai dari kemampuan memahami, menerima, dan merawat diri sendiri.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore