Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Juni 2026 | 00.03 WIB

7 Hal yang Dianjurkan Filsafat Stoicisme untuk Anda Simpan Sendiri Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang menyimpan sendiri beberapa hal (Magnific/Lookstudio) - Image

Ilustrasi seseorang yang menyimpan sendiri beberapa hal (Magnific/Lookstudio)

JawaPos.com - Di era media sosial, membagikan segala hal tentang kehidupan pribadi seolah menjadi sesuatu yang wajar. Namun, jauh sebelum internet hadir, para filsuf Stoik seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius telah mengajarkan pentingnya menjaga ruang pribadi. Menurut Stoicisme, tidak semua hal perlu diumbar kepada orang lain. Menjaga sebagian aspek kehidupan untuk diri sendiri bukan berarti tertutup, melainkan bentuk kebijaksanaan dan pengendalian diri.

Menariknya, banyak gagasan Stoik tersebut sejalan dengan temuan psikologi modern. Terlalu banyak membagikan informasi pribadi dapat meningkatkan stres, memicu ekspektasi sosial, hingga mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/6), terdapat tujuh hal yang dianjurkan filsafat Stoicisme untuk Anda simpan sendiri, beserta penjelasannya dari sudut pandang psikologi.

1. Tujuan Besar dan Rencana Jangka Panjang

Banyak orang merasa terdorong untuk menceritakan target hidup mereka kepada semua orang. Padahal, filsafat Stoik mengajarkan bahwa tindakan lebih penting daripada pengakuan.

Seneca pernah menekankan bahwa kebijaksanaan terlihat dari perbuatan, bukan dari banyaknya kata-kata. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai social reality. Ketika seseorang mengumumkan tujuan besarnya, otak dapat merasakan kepuasan seolah tujuan tersebut sudah mulai tercapai. Akibatnya, motivasi untuk benar-benar bekerja justru bisa menurun.

Menyimpan tujuan untuk diri sendiri membantu seseorang lebih fokus pada proses, bukan pada validasi dari orang lain. Biarkan hasil yang berbicara.

2. Kebaikan yang Anda Lakukan

Stoicisme mendorong manusia untuk berbuat baik karena itu memang benar untuk dilakukan, bukan demi pujian.

Di era digital, sering kali seseorang terdorong membagikan setiap bantuan atau amal yang telah dilakukannya. Secara psikologis, ketika penghargaan eksternal menjadi tujuan utama, seseorang lebih mudah kecewa ketika tidak mendapat apresiasi yang diharapkan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore