Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 04.14 WIB

7 Cara Nyata untuk Mendukung Seseorang yang Sedang Berduka Menurut Psikologi

seseorang yang mendukung orang yang sedang berduka / foto: Magnific/wichayada

 

JawaPos.com - Kehilangan orang yang dicintai merupakan salah satu pengalaman paling berat dalam kehidupan manusia. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk berduka, karena setiap individu memiliki cara masing-masing dalam menghadapi rasa kehilangan. Ada yang mampu kembali beraktivitas dalam waktu singkat, sementara yang lain membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru tanpa sosok yang mereka cintai.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (7/8), dalam psikologi, proses berduka (grief) dipandang sebagai respons alami terhadap kehilangan. Kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, kebingungan, hingga mati rasa merupakan emosi yang umum muncul. Karena itulah, dukungan dari keluarga, sahabat, maupun lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam membantu seseorang melewati masa-masa sulit tersebut.

Sayangnya, niat baik sering kali tidak diiringi dengan cara yang tepat. Kalimat seperti "Sudahlah, ikhlaskan saja" atau "Kamu harus kuat" mungkin terdengar menghibur, tetapi bagi orang yang sedang berduka justru dapat membuat mereka merasa tidak dipahami.

Lalu, bagaimana cara memberikan dukungan yang benar menurut psikologi?

1. Hadir dan Dengarkan Tanpa Menghakimi

Salah satu kebutuhan terbesar seseorang yang sedang berduka bukanlah nasihat, melainkan kehadiran. Dalam pendekatan psikologi konseling, active listening atau mendengarkan secara aktif merupakan bentuk dukungan emosional yang sangat efektif.

Mendengarkan berarti memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan emosi tanpa merasa dihakimi atau dipaksa segera membaik. Biarkan mereka menangis, marah, diam, atau mengulang cerita yang sama berkali-kali.

Anda tidak harus memiliki jawaban untuk semua kesedihan mereka. Terkadang, kalimat sederhana seperti:

"Aku di sini untukmu."
"Tidak apa-apa kalau kamu ingin bercerita."
"Aku mendengarkan."

justru jauh lebih bermakna dibandingkan memberikan solusi.

Psikologi menunjukkan bahwa seseorang yang merasa didengarkan cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik dibanding mereka yang merasa diabaikan.

2. Jangan Memaksa Mereka Cepat Move On

Masyarakat sering kali memiliki ekspektasi bahwa seseorang harus kembali "normal" dalam waktu tertentu. Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa proses berduka tidak memiliki batas waktu yang pasti.

Model klasik dari Elisabeth Kübler-Ross mengenai tahapan berduka—penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan—bukanlah urutan yang harus dilalui semua orang. Seseorang bisa mengalami tahapan tersebut secara berbeda, berulang, atau bahkan tidak mengalami semuanya.

Karena itu, hindari ucapan seperti:

"Sudah waktunya kamu melupakan."
"Jangan terus sedih."
"Masih banyak orang yang lebih menderita."

Kalimat-kalimat tersebut dapat membuat mereka merasa bersalah karena masih berduka.

Sebaliknya, hormatilah proses mereka. Berikan waktu tanpa tekanan.

3. Validasi Perasaan Mereka

Validasi emosi berarti mengakui bahwa apa yang mereka rasakan adalah hal yang wajar.

Menurut psikologi, validasi membantu seseorang merasa diterima sehingga dapat mengurangi rasa kesepian emosional.

Contoh kalimat yang lebih membantu antara lain:

"Wajar kalau kamu merasa sangat sedih."
"Kehilangan ini memang berat."
"Aku bisa memahami kenapa kamu merasa seperti itu."

Validasi bukan berarti menyetujui semua tindakan mereka, tetapi menunjukkan bahwa emosi mereka memiliki alasan yang masuk akal.

Sebaliknya, mengabaikan atau mengecilkan kesedihan justru dapat memperpanjang proses pemulihan emosional.

4. Berikan Bantuan yang Konkret

Saat berduka, seseorang sering kali kehilangan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan pekerjaan sederhana seperti memasak, membersihkan rumah, atau mengurus administrasi dapat terasa sangat berat.

Daripada berkata:

"Kalau butuh bantuan, bilang ya."

lebih baik tawarkan bantuan yang spesifik, misalnya:

Mengantar makanan.
Menemani ke rumah sakit atau tempat pemakaman.
Menjemput anak dari sekolah.
Membantu mengurus dokumen.
Menemani berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Dalam psikologi sosial, dukungan instrumental seperti ini terbukti mampu mengurangi beban stres sekaligus memberikan rasa aman.

5. Tetap Menjalin Kontak Setelah Masa Berkabung

Banyak orang memberikan perhatian pada hari-hari pertama setelah kehilangan. Namun, ketika suasana mulai kembali normal, dukungan tersebut perlahan menghilang.

Padahal, justru setelah semua orang kembali menjalani rutinitas, rasa sepi sering kali menjadi semakin terasa.

Cobalah untuk tetap menghubungi mereka beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian.

Misalnya dengan mengirim pesan:

"Hari ini aku teringat kamu. Apa kabar?"
"Kalau ingin ngobrol atau jalan sebentar, aku siap menemani."

Perhatian kecil seperti ini dapat membuat mereka merasa bahwa mereka tidak menghadapi semuanya sendirian.

6. Hormati Cara Mereka Mengenang Orang yang Telah Tiada

Sebagian orang merasa nyaman melihat foto-foto lama.

Sebagian lagi senang menceritakan kenangan bersama.

Ada pula yang lebih memilih diam untuk sementara waktu.

Semuanya merupakan cara yang normal dalam proses berduka.

Psikologi modern menjelaskan konsep continuing bonds, yaitu bahwa hubungan emosional dengan orang yang telah meninggal tidak selalu harus diputus. Mengenang kenangan indah, merayakan hari ulang tahun almarhum, atau menyimpan barang tertentu dapat menjadi bagian dari proses penyesuaian yang sehat.

Karena itu, jangan memaksa seseorang untuk segera membuang semua kenangan jika mereka belum siap.

7. Ajak Mencari Bantuan Profesional Jika Diperlukan

Sebagian besar orang mampu beradaptasi secara bertahap dengan kehilangan. Namun, ada kondisi ketika kesedihan berlangsung sangat lama dan mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

Kesedihan yang sangat intens selama berbulan-bulan tanpa perubahan.
Sulit menjalankan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
Menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial.
Kehilangan harapan terhadap masa depan.
Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup.

Dalam kondisi seperti ini, dukungan dari psikolog atau psikiater dapat sangat membantu. Bantuan profesional bukan berarti seseorang lemah, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan mentalnya.

Jika mengajak mereka mencari bantuan, lakukan dengan lembut, misalnya:

"Aku khawatir melihat kamu terus menanggung semuanya sendirian. Mungkin kita bisa mencari bantuan profesional bersama."

Pendekatan yang penuh empati biasanya lebih mudah diterima dibandingkan memaksa.

Mengapa Dukungan Sosial Sangat Penting?

Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor pelindung utama terhadap depresi, kecemasan, dan stres berkepanjangan setelah kehilangan. Kehadiran orang-orang yang peduli membantu seseorang merasa lebih aman secara emosional, memiliki tempat untuk berbagi cerita, serta tidak merasa sendirian dalam menghadapi perubahan hidup yang besar.

Perlu diingat bahwa tujuan mendukung seseorang yang sedang berduka bukanlah menghilangkan kesedihannya. Kesedihan adalah bagian alami dari cinta dan kehilangan. Yang dapat kita lakukan adalah menemani mereka melewati proses tersebut dengan penuh empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap ritme pemulihan masing-masing.

Penutup

Mendampingi seseorang yang sedang berduka bukan berarti selalu tahu harus berkata apa. Justru, kehadiran yang tulus sering kali lebih berarti daripada seribu nasihat.

Dengan mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan, menghormati proses berduka, memberikan bantuan nyata, menjaga hubungan dalam jangka panjang, menghargai cara mereka mengenang orang yang telah tiada, serta mendorong bantuan profesional bila diperlukan, kita dapat menjadi sumber dukungan yang benar-benar bermakna.

Pada akhirnya, setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan empati dapat membantu seseorang merasa bahwa mereka tidak harus menghadapi kehilangan seorang diri. Dan terkadang, itulah hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada seseorang yang sedang berduka.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore