Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 16.32 WIB

Jika Anda Kesulitan Mengingat Kapan Terakhir Kali Merasa Gembira dengan Hidup, Ucapkan Selamat Tinggal pada 7 Kebiasaan Ini

seseorang yang kesulitan mengingat kapan terakhir merasa gembira (Magnific/alexandrumusuc) - Image

seseorang yang kesulitan mengingat kapan terakhir merasa gembira (Magnific/alexandrumusuc)


JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa ringan. Bangun pagi tidak terasa seperti beban, percakapan kecil bisa memancing tawa, dan hal-hal sederhana seperti secangkir kopi hangat atau langit sore mampu membuat hati terasa penuh.

Namun, bagi banyak orang, perasaan itu perlahan menghilang. Bukan karena hidup selalu buruk. Bukan juga karena tidak ada hal baik yang terjadi. Tetapi karena tanpa disadari, kita mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang mengikis kebahagiaan sedikit demi sedikit.

Psikologi modern menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan hanya soal keberuntungan atau keadaan hidup yang sempurna. Cara kita berpikir, bereaksi, dan menjalani rutinitas sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional kita.

Ironisnya, beberapa kebiasaan yang paling merusak justru terasa “normal.” Kita melakukannya setiap hari tanpa menyadari dampaknya.

Jika Anda mulai merasa hidup terasa hambar, mudah lelah secara emosional, atau bahkan kesulitan mengingat kapan terakhir kali Anda benar-benar merasa gembira, mungkin sudah waktunya mengevaluasi beberapa pola hidup berikut.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh kebiasaan yang perlu Anda tinggalkan jika ingin menemukan kembali rasa bahagia menurut perspektif psikologi.

1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain.

Di era media sosial, kebiasaan ini menjadi semakin sulit dihindari. Dalam hitungan menit, kita bisa melihat teman yang baru membeli rumah, rekan kerja yang naik jabatan, pasangan yang tampak romantis, atau seseorang yang terlihat selalu bahagia.

Masalahnya, otak manusia secara alami cenderung melakukan perbandingan sosial.

Psikolog Leon Festinger melalui teori social comparison menjelaskan bahwa manusia menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Dalam kadar tertentu, ini normal. Namun jika dilakukan terus-menerus, hal itu bisa memicu rasa tidak cukup.

Anda mulai merasa tertinggal. Anda mulai meragukan diri sendiri. Dan pada akhirnya, Anda gagal menghargai hidup yang sebenarnya sudah Anda miliki.

Padahal, yang Anda lihat hanyalah potongan terbaik dari hidup orang lain, bukan keseluruhan kenyataan.

Orang yang tampak sukses belum tentu tenang. Orang yang terlihat bahagia belum tentu damai.

Kebahagiaan sulit tumbuh ketika fokus Anda selalu berada pada kehidupan orang lain.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Kurangi konsumsi media sosial yang membuat Anda merasa rendah diri.
Fokus pada perkembangan pribadi, bukan perlombaan hidup.
Latih rasa syukur terhadap hal-hal kecil.
Ingat bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.

Ketenangan sering datang ketika kita berhenti berlomba dengan kehidupan orang lain.

2. Mengabaikan Kebutuhan Emosional Sendiri

Banyak orang terbiasa memenuhi kebutuhan semua orang kecuali dirinya sendiri.

Mereka selalu tersedia. Selalu membantu. Selalu mengalah. Namun diam-diam merasa lelah, kosong, dan tidak dihargai.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai emotional neglect toward self — ketika seseorang terus-menerus mengabaikan kebutuhan emosionalnya sendiri.

Beberapa tanda umum:

Anda merasa bersalah ketika beristirahat.
Anda sulit berkata “tidak.”
Anda terus memendam emosi demi menjaga suasana tetap nyaman.
Anda memprioritaskan kebahagiaan orang lain di atas kesehatan mental sendiri.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan kelelahan emosional, stres kronis, bahkan depresi.

Banyak orang berpikir bahwa menjadi “baik” berarti selalu mengorbankan diri. Padahal psikologi justru menunjukkan bahwa seseorang yang sehat secara emosional memiliki batas yang jelas.

Merawat diri bukan tindakan egois. Itu kebutuhan.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Mulailah mengenali emosi Anda sendiri.
Berhenti merasa bersalah saat mengambil waktu istirahat.
Tetapkan batas sehat dalam hubungan.
Belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa harus menjelaskan semuanya.

Anda tidak bisa terus menuangkan air dari gelas yang kosong.

3. Terjebak dalam Pola Pikir Negatif

Cara Anda berbicara kepada diri sendiri memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup.

Sayangnya, banyak orang memiliki dialog internal yang sangat keras:

“Aku gagal terus.” “Aku tidak cukup pintar.” “Hidupku tidak akan berubah.”

Jika diulang terus-menerus, pikiran negatif dapat membentuk cara otak memandang dunia.

Psikologi kognitif menjelaskan bahwa manusia memiliki cognitive bias, yaitu kecenderungan fokus pada hal negatif dibanding hal positif. Akibatnya, satu kesalahan kecil bisa terasa lebih besar daripada sepuluh pencapaian yang sudah diraih.

Ketika pola pikir negatif menjadi kebiasaan, hidup mulai terasa suram bahkan ketika situasi sebenarnya tidak seburuk itu.

Anda menjadi lebih mudah cemas. Lebih mudah pesimis. Dan sulit menikmati momen.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Perhatikan bagaimana Anda berbicara kepada diri sendiri.
Tantang pikiran negatif dengan fakta yang lebih realistis.
Hindari menggeneralisasi kegagalan.
Biasakan menulis hal-hal baik yang terjadi setiap hari.

Pikiran bukan selalu fakta. Kadang itu hanya ketakutan yang terlalu sering diulang.

4. Menjalani Hidup dengan Mode “Autopilot”

Pernah merasa hari-hari berjalan begitu saja? Bangun. Bekerja. Pulang. Tidur. Lalu mengulang semuanya lagi.

Banyak orang hidup dalam mode otomatis tanpa benar-benar hadir dalam hidup mereka sendiri.

Psikologi menyebut pentingnya mindfulness, yaitu kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada momen saat ini.

Ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan, ia kehilangan kemampuan menikmati apa yang sedang terjadi sekarang.

Akhirnya hidup terasa datar. Bukan karena tidak ada hal baik, tetapi karena kita tidak benar-benar memperhatikannya.

Kebahagiaan sering tersembunyi dalam hal sederhana:

Percakapan hangat.
Udara pagi.
Musik favorit.
Tawa kecil.
Waktu tenang.

Namun semuanya mudah terlewat jika pikiran terus sibuk.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Kurangi multitasking.
Luangkan waktu tanpa ponsel.
Nikmati aktivitas kecil dengan penuh perhatian.
Latih mindfulness atau meditasi sederhana.

Kadang hidup terasa kosong bukan karena kurang kebahagiaan, tetapi karena kita terlalu terburu-buru untuk menyadarinya.

5. Menunda Kebahagiaan Sampai “Nanti”

“Saya akan bahagia kalau sudah sukses.” “Saya akan tenang kalau sudah punya banyak uang.” “Saya akan menikmati hidup nanti setelah semua masalah selesai.”

Masalahnya, “nanti” sering tidak pernah benar-benar datang.

Psikologi mengenal konsep arrival fallacy — keyakinan bahwa mencapai suatu tujuan otomatis akan membawa kebahagiaan permanen.

Padahal setelah satu target tercapai, manusia biasanya segera mengejar target berikutnya.

Akibatnya, hidup berubah menjadi daftar pencapaian tanpa akhir.

Anda terus berlari. Tetapi tidak pernah benar-benar merasa puas.

Ini bukan berarti ambisi itu buruk. Namun jika kebahagiaan selalu ditunda, Anda mungkin kehilangan kemampuan menikmati perjalanan hidup.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Rayakan kemajuan kecil.
Nikmati proses, bukan hanya hasil.
Sadari bahwa hidup tidak harus sempurna untuk bisa dinikmati.
Temukan kebahagiaan dalam rutinitas sehari-hari.

Kebahagiaan bukan tujuan akhir. Sering kali, ia hadir dalam perjalanan.

6. Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Banyak orang berbicara kepada dirinya sendiri dengan cara yang tidak akan pernah mereka gunakan kepada orang lain.

Satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi kritik panjang:

“Aku bodoh.” “Aku memang selalu gagal.” “Aku tidak pernah cukup baik.”

Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri sangat penting bagi kesehatan mental.

Orang yang mampu memperlakukan dirinya dengan lebih lembut cenderung:

Lebih tahan terhadap stres.
Lebih optimis.
Lebih cepat bangkit dari kegagalan.
Lebih bahagia secara emosional.

Sebaliknya, kritik diri berlebihan hanya menciptakan tekanan mental yang terus-menerus.

Perfeksionisme juga sering menjadi akar masalah.

Anda merasa harus selalu produktif. Harus selalu berhasil. Harus selalu kuat.

Padahal manusia memang tidak dirancang untuk sempurna.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Bicara kepada diri sendiri seperti Anda berbicara kepada sahabat.
Terima bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari hidup.
Berhenti mendefinisikan nilai diri berdasarkan produktivitas.
Izinkan diri beristirahat tanpa rasa bersalah.

Kadang yang paling Anda butuhkan bukan motivasi tambahan, tetapi sedikit kelembutan terhadap diri sendiri.

7. Mengisolasi Diri dari Hubungan yang Bermakna

Manusia adalah makhluk sosial. Penelitian panjang dari Harvard Study of Adult Development menemukan bahwa hubungan yang sehat adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan kebahagiaan dan umur panjang.

Namun ketika seseorang mulai kehilangan semangat hidup, mereka sering justru menarik diri.

Tidak ingin membalas pesan. Menghindari pertemuan. Merasa terlalu lelah untuk berinteraksi.

Semakin lama isolasi terjadi, semakin besar rasa kesepian berkembang.

Dan kesepian bukan sekadar perasaan tidak nyaman. Psikologi mengaitkannya dengan peningkatan risiko stres, kecemasan, depresi, bahkan masalah kesehatan fisik.

Anda tidak harus memiliki banyak teman. Tetapi manusia membutuhkan koneksi emosional yang tulus.

Seseorang untuk diajak bicara. Seseorang yang membuat Anda merasa dipahami.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Hubungi kembali orang-orang yang Anda percayai.
Luangkan waktu untuk hubungan yang sehat.
Kurangi hubungan toksik yang menguras energi.
Jangan menunggu “mood bagus” untuk mulai terhubung.

Sering kali, kebahagiaan tumbuh dalam hubungan yang membuat kita merasa diterima.

Kebahagiaan tidak selalu hilang karena tragedi besar. Kadang ia memudar perlahan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang setiap hari.

Membandingkan diri. Mengabaikan emosi. Berpikir negatif. Menjalani hidup tanpa kesadaran. Menunda kebahagiaan. Terlalu keras pada diri sendiri. Menjauh dari orang lain.

Semua kebiasaan itu bisa membuat hidup terasa kosong tanpa kita sadari.

Kabar baiknya, kebiasaan juga bisa diubah.

Anda tidak harus memperbaiki semuanya sekaligus. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering membawa dampak besar terhadap kualitas hidup.

Mungkin langkah pertama hanyalah memberi diri sendiri izin untuk bernapas lebih tenang. Atau berhenti membandingkan hidup Anda hari ini dengan kehidupan orang lain.

Karena pada akhirnya, hidup yang terasa bermakna bukan tentang terlihat sempurna di mata dunia.

Melainkan tentang mampu kembali merasakan: Ketenangan, syukur, dan kegembiraan sederhana saat menjalani hari.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore