Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Mei 2026 | 03.54 WIB

Orang dengan Keterampilan Sosial Buruk Menunjukkan 9 Perilaku Ini Tanpa Menyadarinya Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki keterampilan sosial (Magnific/alexkich) - Image

seseorang yang memiliki keterampilan sosial (Magnific/alexkich)


JawaPos.com - Keterampilan sosial adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Hampir setiap aspek kehidupan—pekerjaan, persahabatan, hubungan romantis, hingga relasi keluarga—dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam memahami, merespons, dan berinteraksi dengan orang lain.

Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan sosial yang baik. Menariknya, banyak individu yang sebenarnya mengalami kesulitan dalam interaksi sosial tetapi tidak menyadarinya. Mereka mungkin merasa bahwa orang lain terlalu sensitif, terlalu dingin, atau sulit diajak dekat, padahal akar masalahnya terletak pada pola perilaku mereka sendiri.

Dalam psikologi, keterampilan sosial bukan hanya soal pandai berbicara atau terlihat percaya diri. Keterampilan sosial mencakup empati, kemampuan membaca situasi, memahami bahasa tubuh, mengelola emosi, dan menciptakan komunikasi dua arah yang sehat.

Orang dengan keterampilan sosial yang buruk sering kali memperlihatkan kebiasaan tertentu secara berulang tanpa sadar. Perilaku-perilaku ini mungkin terlihat kecil, tetapi dalam jangka panjang dapat membuat hubungan menjadi renggang, memunculkan konflik, dan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat sembilan perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang dengan keterampilan sosial yang buruk menurut perspektif psikologi.

1. Sering Memotong Pembicaraan Orang Lain

Salah satu tanda paling umum dari keterampilan sosial yang rendah adalah kebiasaan memotong pembicaraan. Banyak orang melakukannya tanpa niat buruk. Mereka mungkin terlalu antusias, ingin segera menyampaikan pendapat, atau takut melupakan ide yang muncul di kepala mereka.

Namun, dari sudut pandang psikologi sosial, memotong pembicaraan memberi sinyal bahwa seseorang lebih fokus pada dirinya sendiri dibanding lawan bicaranya.

Ketika seseorang terus-menerus menyela, lawan bicara akan merasa:

Tidak dihargai
Tidak didengarkan
Dianggap tidak penting
Kehilangan kenyamanan dalam percakapan

Dalam komunikasi yang sehat, mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara. Orang dengan keterampilan sosial yang baik biasanya memberi ruang bagi orang lain untuk menyelesaikan pemikirannya terlebih dahulu.

Kebiasaan memotong pembicaraan juga sering dikaitkan dengan impulsivitas dan rendahnya kemampuan mendengarkan aktif.

Cara memperbaikinya
Biasakan menunggu 2–3 detik sebelum merespons
Fokus memahami, bukan sekadar membalas
Catat poin penting secara mental daripada langsung menyela
Perhatikan ekspresi lawan bicara
2. Terlalu Banyak Membicarakan Diri Sendiri

Percakapan yang sehat seharusnya berjalan dua arah. Sayangnya, orang dengan keterampilan sosial yang buruk sering mendominasi percakapan dengan cerita tentang diri mereka sendiri.

Mereka mungkin terus membicarakan:

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore