
seseorang yang lebih berdamai dengan dirinya sendiri (Magnific/user3980505)
JawaPos.com - Ada satu hal yang sering disadari banyak orang ketika usia bertambah: hidup ternyata tidak sesederhana mengejar pencapaian. Setelah melewati berbagai fase—gagal, berhasil, kehilangan, mencintai, kecewa—kita mulai memahami bahwa kedamaian batin jauh lebih berharga daripada sekadar validasi dari luar.
Namun, berdamai dengan diri sendiri bukan sesuatu yang terjadi otomatis hanya karena usia bertambah. Banyak orang tetap merasa gelisah, mudah marah, iri, atau terus menyalahkan diri sendiri meski sudah memasuki usia matang. Alasannya sederhana: mereka masih mempertahankan pola perilaku lama yang diam-diam menguras ketenangan mental.
Psikologi modern menunjukkan bahwa kualitas hidup emosional seseorang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan berpikir dan pola perilaku sehari-hari. Semakin kita mampu melepaskan kebiasaan yang merusak kesehatan mental, semakin besar peluang untuk menjalani hidup dengan lebih ringan dan damai.
Dilansir dari Expert Editor, jika Anda ingin menikmati hidup dengan hati yang lebih tenang seiring bertambahnya usia, mungkin sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada delapan perilaku berikut ini.
1. Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa mengkritik diri sendiri akan membuat mereka menjadi lebih baik. Padahal dalam banyak kasus, kritik internal yang berlebihan justru melahirkan rasa tidak pernah cukup.
Anda mungkin sering berkata pada diri sendiri:
“Aku seharusnya bisa lebih sukses.”
“Kenapa aku selalu gagal?”
“Orang lain lebih hebat dariku.”
Sekilas terdengar seperti motivasi, tetapi sebenarnya ini adalah bentuk self-criticism yang melelahkan secara emosional.
Psikologi menjelaskan bahwa orang yang terus menghukum dirinya sendiri cenderung mengalami kecemasan lebih tinggi dan kepuasan hidup yang lebih rendah. Sebaliknya, self-compassion atau kemampuan memperlakukan diri dengan lebih lembut terbukti membantu seseorang lebih resilien menghadapi tekanan hidup.
Berdamai dengan diri sendiri dimulai ketika Anda berhenti menjadikan diri sendiri sebagai musuh utama.
Bukan berarti berhenti berkembang, melainkan memahami bahwa manusia memang tidak sempurna.
2. Membandingkan Hidup dengan Orang Lain
Di era media sosial, kebiasaan membandingkan diri menjadi semakin sulit dihindari. Kita melihat orang lain menikah, membeli rumah, traveling, punya karier cemerlang, atau terlihat sangat bahagia. Tanpa sadar kita mulai merasa tertinggal.
Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan mereka.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
