
Ilustrasi bentuk tubuh. (Jagran Josh)
JawaPos.com - Cukup tiga menit. Itulah waktu yang dibutuhkan bagi seorang pria muda untuk mulai merasa tidak percaya diri dengan penampilannya setelah melihat konten kebugaran di media sosial.
Selama ini, isu citra tubuh atau body image selalu identik dengan kaum hawa. Namun, riset terbaru mengungkapkan fakta pahit. Pria juga memiliki kerentanan yang sama besarnya terhadap standar ketampanan yang tidak realistis di jagat digital.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Body Image menemukan bahwa paparan video pendek di TikTok bertema kebugaran ekstrem dapat merusak kesehatan mental pria dalam sekejap. Konten yang dimaksud tidak hanya soal angkat beban, tapi juga mencakup penggunaan suplemen hingga obsesi terhadap bentuk otot tertentu.
Dikutip dari Your Tango, fenomena ini dipicu oleh algoritma media sosial yang terus menyuguhkan visual tubuh "sempurna" secara bertubi-tubi. Akibatnya, muncul standar yang mustahil dicapai di dunia nyata, yang kemudian menciptakan rasa tidak puas seketika begitu aplikasi ditutup.
Budaya perbandingan ini sangat agresif merusak kesejahteraan emosional pria muda. Tanpa disadari, audiens mulai menginternalisasi bahwa tubuh atletis adalah satu-satunya standar kelayakan sosial yang harus mereka miliki.
Hanya 3 Menit untuk Merusak Kepercayaan Diri
Berdasarkan temuan studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa pria muda yang menjelajahi TikTok dan menghabiskan waktu kurang dari 3 menit menonton video fokus kebugaran merasa jauh kurang puas dengan citra tubuh mereka. Ini membuktikan betapa cepatnya media sosial mengubah persepsi diri seseorang.
Dampaknya bahkan merembet ke urusan dapur. Para partisipan melaporkan kepuasan nutrisi yang menurun drastis; mereka mendadak merasa pola makan sehat yang dijalani selama ini tidak cukup baik untuk mendapatkan fisik impian seperti yang terlihat di layar.
Rasa kurang ini akhirnya memicu ketergantungan pada suplemen peningkat performa. Melihat pria berotot memamerkan suplemen menciptakan narasi di kepala penonton bahwa mereka membutuhkan asupan kimia tambahan hanya agar terlihat "layak" di mata lingkungan sosial.
Dalam riset ini, para peserta secara acak dibagi menjadi tiga kelompok untuk melihat perbedaan dampaknya secara spesifik. Kelompok pertama menonton video pria berotot, kelompok kedua fokus pada konten suplemen protein, sementara kelompok ketiga menonton video perjalanan atau traveling.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
