Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 April 2026 | 21.56 WIB

Orang yang Lebih Sering Posting Hubungan di Media Sosial Konon Rentan Putus, Psikologi Beberkan 7 Alasannya!

Ilustrasi pasangan yang sering posting hubungan di media sosial. (freepik/ Drazen Zigic) - Image

Ilustrasi pasangan yang sering posting hubungan di media sosial. (freepik/ Drazen Zigic)

JawaPos.com - Di era digital saat ini, membagikan momen kebersamaan dengan pasangan di media sosial sudah menjadi hal yang sangat umum, bahkan sering dianggap sebagai bentuk ekspresi cinta yang modern.

Mulai dari foto, video kebersamaan, hingga caption romantis yang menyentuh, semuanya kerap dijadikan cara untuk menunjukkan kebahagiaan kepada publik.

Tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan bukti keseriusan atau keharmonisan dalam hubungan.

Namun, di balik deretan unggahan manis yang terlihat di layar, psikologi justru menemukan sisi lain yang jarang disadari.

Psikologi mengungkapkan bahwa pasangan yang terlalu sering mempublikasikan hubungan mereka di media sosial bisa memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap konflik, tekanan, hingga ketidakstabilan emosional dalam hubungan.

Alih-alih memperkuat ikatan, kebiasaan ini dalam beberapa kasus justru menjadi sinyal adanya kebutuhan validasi, rasa tidak aman, atau dinamika yang kurang sehat di balik layar.

Lantas, apa saja alasan psikologis yang menjelaskan fenomena ini? Dilansir dari laman Small Business Bonfire pada Rabu (29/4), berikut merupakan 7 alasan mengapa sering posting hubungan di media sosial lebih rentan putus, menurut psikologi.

1. Media sosial sebagai sarana validasi

Sering kali, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbagi momen, tetapi juga sebagai sarana untuk mencari pengakuan dari orang lain.

Dalam konteks hubungan, pasangan yang terlalu sering membagikan kemesraan bisa saja tanpa sadar sedang mencari validasi berupa likes, komentar, atau pujian dari orang lain.

Hal ini dapat menjadi masalah ketika kebahagiaan dalam hubungan mulai bergantung pada respons publik, bukan pada kualitas hubungan itu sendiri.

Jika pengakuan dari luar tidak sesuai harapan, muncul keraguan atau ketidakpuasan.

Jadi, hubungan yang sehat seharusnya tidak memerlukan pengakuan dari orang lain untuk dianggap berhasil.

2. Tekanan untuk mempertahankan citra di media sosial

Pada awalnya, membagikan momen bersama pasangan di media sosial terasa menyenangkan dan alami.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore