
seseorang yang selalu diperintah oleh semua orang. (Freepik/DC Studio)
JawaPos.com - Pernahkah kamu melihat seseorang yang selalu “disuruh-suruh”? Di kantor, di lingkungan pertemanan, bahkan dalam keluarga—mereka seperti otomatis menjadi orang yang diminta melakukan berbagai hal. Menariknya, kondisi ini sering bukan semata karena orang lain semena-mena, tetapi juga berkaitan dengan pola perilaku tertentu yang tanpa sadar ditunjukkan oleh individu tersebut.
Dalam psikologi, ada beberapa kebiasaan dan karakter yang membuat seseorang lebih rentan diperlakukan seperti itu. Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 perilaku yang sering dimiliki oleh orang yang kerap diperintah oleh orang lain—dan sering kali mereka sendiri tidak menyadarinya.
1. Sulit Mengatakan “Tidak”
Salah satu ciri paling umum adalah ketidakmampuan untuk menolak permintaan. Mereka cenderung merasa bersalah jika tidak membantu, bahkan ketika permintaan tersebut tidak masuk akal atau memberatkan.
Akibatnya, orang lain melihat mereka sebagai sosok yang selalu bisa diandalkan—tanpa mempertimbangkan batasannya.
2. Terlalu Ingin Menyenangkan Orang Lain (People Pleasing)
Orang dengan kecenderungan ini sering mengukur nilai diri dari seberapa banyak mereka bisa membuat orang lain senang. Mereka takut mengecewakan orang lain, sehingga rela mengorbankan waktu, energi, bahkan kepentingan pribadi.
Dalam jangka panjang, ini membuat mereka mudah dimanfaatkan.
3. Kurangnya Batasan Diri (Personal Boundaries)
Batasan diri adalah garis tak terlihat yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain terhadap kita. Orang yang sering diperintah biasanya tidak memiliki batasan yang jelas.
Mereka jarang mengatakan:
“Saya tidak nyaman dengan itu”
“Saya tidak punya waktu”
Akibatnya, orang lain tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) batas mereka.
4. Bahasa Tubuh yang Terlihat Pasif
Psikologi komunikasi menunjukkan bahwa bahasa tubuh sangat memengaruhi cara orang lain memperlakukan kita. Orang yang sering diperintah cenderung menunjukkan:
Kontak mata yang minim
Postur tubuh yang membungkuk
Nada bicara pelan dan ragu
Hal ini secara tidak sadar memberi sinyal bahwa mereka “mudah diarahkan”.
5. Kurang Percaya Diri
Kepercayaan diri yang rendah membuat seseorang merasa pendapatnya tidak penting. Mereka lebih memilih mengikuti arahan daripada menyuarakan ide sendiri.
Orang lain pun akhirnya terbiasa melihat mereka sebagai “pengikut”, bukan pengambil keputusan.
6. Takut Konflik
Menghindari konflik memang terlihat damai, tetapi jika berlebihan justru merugikan. Orang yang takut konflik akan:
Mengiyakan sesuatu meski tidak setuju
Menghindari perdebatan
Memendam perasaan
Karena tidak pernah menolak, orang lain menganggap mereka selalu tersedia.
7. Terlalu Cepat Mengambil Tanggung Jawab
Mereka sering langsung berkata, “Biar saya saja,” bahkan sebelum diminta. Niatnya mungkin baik, tetapi ini menciptakan pola di mana orang lain jadi terbiasa menyerahkan tugas kepada mereka.
Tanpa sadar, mereka melatih orang lain untuk bergantung.
8. Tidak Menyadari Nilai Diri Sendiri
Orang yang memahami nilai dirinya biasanya tahu kapan harus berkata ya dan kapan harus menolak. Sebaliknya, mereka yang sering diperintah sering merasa:
“Saya tidak terlalu penting”
“Kalau bukan saya, siapa lagi?”
“Saya harus membuktikan diri”
Padahal, sikap ini justru membuat mereka semakin diremehkan.
9. Jarang Mengungkapkan Kelelahan atau Keberatan
Alih-alih jujur tentang kelelahan, mereka memilih diam. Mereka tetap bekerja, membantu, dan memenuhi permintaan tanpa menunjukkan batas.
Sayangnya, orang lain bukan pembaca pikiran. Jika tidak diungkapkan, mereka akan menganggap semuanya baik-baik saja.
Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Dari sudut pandang psikologi, perilaku-perilaku di atas sering terbentuk dari:
Pola asuh sejak kecil (misalnya selalu dituntut patuh)
Pengalaman ditolak atau dikritik
Keinginan kuat untuk diterima secara sosial
Seiring waktu, kebiasaan ini menjadi otomatis dan sulit disadari.
Bagaimana Cara Mengubahnya?
Perubahan bukan berarti menjadi egois, tetapi belajar menyeimbangkan antara membantu orang lain dan menjaga diri sendiri. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Mulai berlatih mengatakan “tidak” secara sopan
Kenali batasan pribadi
Tingkatkan kepercayaan diri
Sadari bahwa membantu bukan kewajiban mutlak
Latih komunikasi yang lebih tegas (assertive)
Penutup
Menjadi orang yang baik dan suka membantu adalah kualitas yang luar biasa. Namun, jika tidak diimbangi dengan batasan dan kesadaran diri, kebaikan itu bisa berubah menjadi celah bagi orang lain untuk memanfaatkan.
Jika kamu merasa sering berada di posisi ini, bukan berarti ada yang “salah” dengan dirimu. Itu hanya tanda bahwa kamu perlu lebih mengenali diri sendiri dan mulai membangun batas yang sehat.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
