Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 April 2026 | 18.29 WIB

Orang yang Diam-Diam Membenci Hidup Sering Mengembangkan 7 Mekanisme Penanggulangan Ini Tanpa Mereka Sadari

seseorang yang diam-diam membenci hidupnya sendiri. (Freepik/stokkete) - Image

seseorang yang diam-diam membenci hidupnya sendiri. (Freepik/stokkete)

JawaPos.com - Tidak semua orang yang tampak “baik-baik saja” benar-benar merasa demikian. Dalam banyak kasus, ada individu yang menjalani hari-harinya secara normal—bekerja, berinteraksi, bahkan tersenyum—namun di dalam dirinya tersimpan perasaan tidak puas, lelah, atau bahkan kebencian terhadap hidup yang mereka jalani.

Psikologi menunjukkan bahwa ketika seseorang tidak mampu atau tidak siap menghadapi perasaan tersebut secara langsung, mereka sering mengembangkan mekanisme penanggulangan (coping mechanisms) secara tidak sadar. Mekanisme ini membantu mereka tetap berfungsi, tetapi sering kali juga menjauhkan mereka dari akar masalah yang sebenarnya. Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh mekanisme yang umum terjadi.

1. Terus Sibuk Tanpa Henti (Overworking)

Salah satu cara paling umum untuk menghindari perasaan negatif adalah dengan terus menyibukkan diri. Orang yang diam-diam tidak bahagia sering mengisi waktu mereka dengan pekerjaan, proyek, atau aktivitas tanpa jeda.

Kesibukan ini bukan selalu karena ambisi, tetapi karena ketakutan menghadapi keheningan. Saat mereka berhenti, pikiran-pikiran yang tidak nyaman mulai muncul. Maka, tetap sibuk menjadi cara untuk “lari” dari diri sendiri.

2. Mengandalkan Distraksi Berlebihan

Scrolling tanpa henti di media sosial, binge-watching, atau bermain game berjam-jam bisa menjadi bentuk pelarian. Distraksi ini memberikan kelegaan sementara, tetapi tidak menyelesaikan masalah emosional yang mendasarinya.

Secara psikologis, ini disebut sebagai avoidance coping—menghindari sumber stres daripada menghadapinya.

3. Menormalisasi Ketidakbahagiaan

Orang yang diam-diam membenci hidupnya sering berkata pada diri sendiri:
“Ya memang hidup seperti ini.”
“Semua orang juga capek.”

Dengan menormalisasi perasaan negatif, mereka mengurangi urgensi untuk berubah. Ini adalah bentuk rasionalisasi—mekanisme pertahanan yang membuat kondisi yang sebenarnya tidak sehat terasa “wajar”.

4. Mengembangkan Sinisme atau Sikap Apatis

Alih-alih mengakui kekecewaan atau rasa sakit, sebagian orang mengubahnya menjadi sinisme. Mereka mulai melihat dunia dengan pandangan negatif atau merasa tidak ada yang benar-benar penting.

Ini memberi ilusi kontrol: jika tidak berharap apa-apa, maka tidak akan kecewa. Namun dalam jangka panjang, ini memperdalam rasa hampa.

5. Mencari Validasi Eksternal Secara Berlebihan

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore