
seseorang yang diam-diam membenci hidupnya sendiri. (Freepik/stokkete)
JawaPos.com - Tidak semua orang yang tampak “baik-baik saja” benar-benar merasa demikian. Dalam banyak kasus, ada individu yang menjalani hari-harinya secara normal—bekerja, berinteraksi, bahkan tersenyum—namun di dalam dirinya tersimpan perasaan tidak puas, lelah, atau bahkan kebencian terhadap hidup yang mereka jalani.
Psikologi menunjukkan bahwa ketika seseorang tidak mampu atau tidak siap menghadapi perasaan tersebut secara langsung, mereka sering mengembangkan mekanisme penanggulangan (coping mechanisms) secara tidak sadar. Mekanisme ini membantu mereka tetap berfungsi, tetapi sering kali juga menjauhkan mereka dari akar masalah yang sebenarnya. Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh mekanisme yang umum terjadi.
1. Terus Sibuk Tanpa Henti (Overworking)
Salah satu cara paling umum untuk menghindari perasaan negatif adalah dengan terus menyibukkan diri. Orang yang diam-diam tidak bahagia sering mengisi waktu mereka dengan pekerjaan, proyek, atau aktivitas tanpa jeda.
Kesibukan ini bukan selalu karena ambisi, tetapi karena ketakutan menghadapi keheningan. Saat mereka berhenti, pikiran-pikiran yang tidak nyaman mulai muncul. Maka, tetap sibuk menjadi cara untuk “lari” dari diri sendiri.
2. Mengandalkan Distraksi Berlebihan
Scrolling tanpa henti di media sosial, binge-watching, atau bermain game berjam-jam bisa menjadi bentuk pelarian. Distraksi ini memberikan kelegaan sementara, tetapi tidak menyelesaikan masalah emosional yang mendasarinya.
Secara psikologis, ini disebut sebagai avoidance coping—menghindari sumber stres daripada menghadapinya.
3. Menormalisasi Ketidakbahagiaan
Orang yang diam-diam membenci hidupnya sering berkata pada diri sendiri:
“Ya memang hidup seperti ini.”
“Semua orang juga capek.”
Dengan menormalisasi perasaan negatif, mereka mengurangi urgensi untuk berubah. Ini adalah bentuk rasionalisasi—mekanisme pertahanan yang membuat kondisi yang sebenarnya tidak sehat terasa “wajar”.
4. Mengembangkan Sinisme atau Sikap Apatis
Alih-alih mengakui kekecewaan atau rasa sakit, sebagian orang mengubahnya menjadi sinisme. Mereka mulai melihat dunia dengan pandangan negatif atau merasa tidak ada yang benar-benar penting.
Ini memberi ilusi kontrol: jika tidak berharap apa-apa, maka tidak akan kecewa. Namun dalam jangka panjang, ini memperdalam rasa hampa.
5. Mencari Validasi Eksternal Secara Berlebihan
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022