Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 April 2026 | 23.52 WIB

Orang yang Memiliki 500 Teman di Media Sosial tetapi Tidak Memiliki Siapa Pun untuk Dihubungi Saat Krisis Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak memiliki teman untuk dihubungi. (Freepik/benzoix) - Image

seseorang yang tidak memiliki teman untuk dihubungi. (Freepik/benzoix)



JawaPos.com - Di era digital, angka sering kali menjadi ukuran yang menipu. Memiliki ratusan bahkan ribuan “teman” di media sosial bisa memberikan ilusi koneksi sosial yang kuat.

Namun, kenyataannya tidak sedikit orang yang merasa sangat sendirian ketika menghadapi masa sulit. Ketika krisis datang—baik itu masalah emosional, finansial, atau kesehatan—tidak ada satu pun nama yang benar-benar bisa dihubungi.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Dalam psikologi, ada pola perilaku dan karakter tertentu yang sering muncul pada individu yang tampak “terhubung” secara sosial, tetapi sebenarnya mengalami kesepian mendalam.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh ciri yang biasanya mereka tunjukkan:

1. Hubungan yang Bersifat Dangkal (Superficial Connections)

Orang dengan ratusan teman di media sosial sering kali memiliki hubungan yang luas, tetapi tidak dalam. Interaksi yang terjadi biasanya sebatas like, komentar singkat, atau pesan ringan.

Dalam psikologi sosial, kualitas hubungan jauh lebih penting daripada kuantitas. Tanpa kedalaman emosional, hubungan tersebut tidak mampu memberikan dukungan saat dibutuhkan. Akibatnya, ketika krisis datang, tidak ada kedekatan yang cukup kuat untuk meminta bantuan.

2. Kesulitan Menjadi Rentan (Fear of Vulnerability)

Salah satu kunci kedekatan emosional adalah kemampuan untuk terbuka dan menunjukkan sisi rentan. Namun, banyak orang yang aktif di media sosial justru menampilkan versi “sempurna” dari dirinya.

Mereka jarang membagikan kesulitan atau perasaan sebenarnya. Akibatnya, orang lain tidak pernah benar-benar mengenal mereka secara mendalam. Tanpa keterbukaan, kepercayaan tidak terbentuk—dan tanpa kepercayaan, hubungan tidak bisa menjadi tempat bersandar saat krisis.

3. Menggantungkan Validasi pada Media Sosial

Bagi sebagian orang, media sosial menjadi sumber utama validasi diri. Jumlah like, komentar, dan followers menjadi indikator harga diri.

Masalahnya, validasi semacam ini bersifat sementara dan tidak menggantikan dukungan emosional yang nyata. Ketika menghadapi masalah serius, notifikasi tidak bisa menggantikan percakapan yang tulus atau kehadiran seseorang secara nyata.

4. Kurangnya Investasi dalam Hubungan Nyata

Hubungan yang kuat membutuhkan waktu, energi, dan perhatian. Orang yang terlalu fokus pada dunia digital sering kali mengabaikan hubungan di dunia nyata.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore