Prayogo Waluyo atau yang akrab disapa Pakde (Istimewa)
JawaPos.com - Berpindah dari pekerjaan tetap ke dunia bisnis bukan hanya soal mengganti profesi, tetapi juga mengubah seluruh pola hidup. Stabilitas yang dulu dimiliki harus ditukar dengan ketidakpastian, sementara jam kerja menjadi tidak lagi terbatas. Namun di balik itu semua, ada peluang besar bagi mereka yang berani mengambil risiko.
Hal tersebut dialami oleh Prayogo Waluyo atau yang akrab disapa Pakde. Bersama istrinya, Ciwid, ia membangun HIQWEEN, sebuah brand kecantikan yang kini dikenal luas dengan fokus pada perawatan flek hitam, khususnya bagi ibu-ibu.
Perjalanan Pakde di dunia bisnis dimulai dari langkah sederhana. Saat masih kuliah, ia sudah mencoba menjadi reseller. Setelah berprofesi sebagai dosen, ia tetap melanjutkan bisnisnya sebagai pekerjaan sampingan.
Sepulang mengajar, ia tidak langsung beristirahat. Justru, ia melanjutkan aktivitas dengan membungkus pesanan hingga dini hari, lalu mengantarkannya sendiri ke ekspedisi. Rutinitas itu dijalani dengan penuh ketekunan.
Pakde pun mengungkapkan bahwa dunia bisnis tidak selalu semudah yang terlihat oleh orang lain.
“Tapi kadang orang itu sawang-sinawang. Kelihatannya jadi pebisnis enak. Padahal dulu waktu jadi dosen, Sabtu-Minggu masih bisa jalan sama keluarga. Sekarang kerja 24 jam,” ujarnya, Jumat (27/2).
Saat menjadi dosen, ia masih memiliki waktu luang untuk keluarga, meskipun penghasilannya sebagian besar habis untuk membayar cicilan rumah. Dari fase inilah mentalnya ditempa untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
Keputusan besar diambil pada tahun 2022. Pakde memilih mundur dari profesi dosen untuk fokus membesarkan bisnisnya. Langkah ini tidak mudah, apalagi latar belakang keluarga yang banyak berprofesi di bidang kesehatan sempat mempertanyakan pilihannya.
“Secara keluarga pasti ada pertanyaan. Tapi saya yakin, kalau mau bertumbuh, harus berani keluar dari zona nyaman,” katanya.
Namun, bisnisnya kemudian berkembang melalui strategi organik di media sosial, terutama lewat konten edukasi tentang bahaya merkuri. Dari situ, kepercayaan konsumen mulai terbangun secara alami.
Namun ujian besar datang pada 2023. Bisnis Pakde pun mengalami kerugian hingga hampir Rp 6 miliar akibat sistem manajemen tim yang belum tertata dengan baik.
“Tahun 2023 itu berat sekali. Kita diuji tim, diuji sistem, sampai rugi hampir Rp 6 miliar. Di situ saya sadar, bisnis bukan cuma soal produk laku, tapi soal sistem yang kuat,” ungkap Pakde.
Dari pengalaman tersebut, ia memahami bahwa setiap fase bisnis memiliki tantangan berbeda. Tahun 2021 menjadi fase pengenalan produk, tahun 2022 dihadapkan pada masalah supply chain, dan tahun berikutnya menghadapi persoalan internal tim.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
