Salah satu alasan psikologi banyak orang tua menggunakan pengasuhan koala adalah membangun kepercayaan diri pada anak (freepik)
JawaPos.com – Dalam beberapa tahun terakhir istilah pengasuhan koala semakin sering muncul di kalangan orang tua muda. Pola asuh ini merujuk pada pendekatan hangat, responsif dan penuh kelekatan sebagaimana hal ini mirip anak koala yang merasa aman saat berada dekat induknya.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, banyak orang tua mulai menyadari bahwa kedekatan emosional justru menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak.
Ini bukan tentang memanjakan atau terlalu melindungi namun ini tentang memberikan jaminan yang stabil, kehangatan dan ruang aman untuk tumbuh. Orang tua koala sering memprioritaskan momen-momen kebersamaan mulai dari memeluk, mendengarkan, menenangkan dan hadir dengan cara-cara kecil namun bermakna.
Lantas apa saja alasan utama pengasuhan koala makin digemari di era saat ini?
Baca Juga: 6 Alasan Peran Ayah Sangat Penting dalam Pengasuhan Anak, Salah Satunya Mendorong Kemandirian
Dilansir dari laman Marriage, Minggu (8/2) berikut beberapa alasan psikologis pengasuhan koala banyak diminati para orang tua baru :
Anak-anak tumbuh dengan baik ketika mereka merasa aman, diperhatikan dan didukung. Pola pengasuhan koala mampu mendorong orang tua untuk mendekap anak-anak mereka baik secara fisik maupun emosional yang membangun fondasi kepercayaan.
Penelitian dalam Attachment and Human Development menunjukkan bahwa keterikatan yang aman berhubungan dengan kemampuan anak membangun relasi sehat di masa dewasa.
Rasa aman ini membantu anak-anak menjelajahi dunia mereka dengan percaya diri. Mereka tahu bahwa mereka dapat kembali ke kenyamanan kapan pun dibutuhkan dan jaminan itu menjadi dasar bagi hubungan yang sehat di kemudian hari.
Dalam pengasuhan koala, emosi anak tidak ditekan tetapi dipandu. Anak-anak diajak mengenali perasaan marah, sedih atau kecewa lalu diajari cara menenangkannya.
Alih-alih menekan atau mengabaikan emosi, anak-anak belajar bahwa tidak apa-apa untuk mengekspresikan diri. Seiring waktu, ini memupuk ketahanan dan empati.
Uniknya lagi, mereka tumbuh dengan mengetahui bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan sinyal yang layak mendapat perhatian dan pemahaman.
Studi di Developmental Psychology menemukan bahwa anak dengan pendampingan emosi yang konsisten memiliki kemampuan regulasi emosi lebi baik.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Gratis di YouTube! Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
3 Fakta Respons Kedubes Iran usai Pidato Prabowo soal Nuklir, Tegaskan Programnya Hanya untuk Tujuan
