
Ilustrasi hal yang biasnaya ditinggalkan orang yang bahagia di usia 60 dan 70 tahun (Geediting)
JawaPos.Com - Banyak orang membayangkan usia 60-an dan 70-an sebagai masa penurunan—energi berkurang, hidup melambat, dan kebahagiaan ikut memudar. Namun kenyataannya, banyak lansia justru merasa hidup semakin kaya, lebih tenang, dan lebih bermakna dibandingkan masa muda mereka.
Menurut sudut pandang psikologi, kebahagiaan di usia lanjut bukan ditentukan oleh apa yang ditambahkan ke dalam hidup, melainkan apa yang berani dilepaskan. Beban emosional, pola pikir lama, dan kebiasaan yang tidak lagi relevan sering kali menjadi penghambat kebahagiaan tanpa disadari.
Dilansir dari laman Global English Editing, Jumat (23/01), berikut adalah 9 hal yang menurut psikologi biasanya dilepaskan oleh orang-orang yang berkembang dan bahagia di usia 60 dan 70 tahun.
Menyimpan dendam tidak pernah benar-benar menyakiti orang lain, tetapi justru membebani diri sendiri. Psikologi menunjukkan bahwa memaafkan dapat menurunkan stres, depresi, dan kemarahan, sekaligus meningkatkan kepuasan hidup.
Melepaskan dendam bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, melainkan membebaskan diri dari emosi negatif yang terus menguras energi.
Seiring bertambahnya usia, kualitas hubungan menjadi jauh lebih penting daripada kuantitas. Lingkaran sosial yang kecil namun dekat justru berkaitan dengan kesejahteraan emosional yang lebih tinggi.
Teori socioemotional selectivity menjelaskan bahwa saat waktu terasa semakin berharga, seseorang akan memilih hubungan yang benar-benar bermakna.
Membandingkan pencapaian diri dengan orang lain hanya akan menimbulkan kelelahan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih tua cenderung lebih jarang melakukan perbandingan sosial dan justru merasa lebih puas dengan hidup mereka.
Fokus bergeser dari “lebih baik dari orang lain” menjadi “lebih baik dari diri sendiri di masa lalu”.
Perfeksionisme adalah sumber stres yang sering tidak disadari. Orang yang bahagia di usia lanjut memahami bahwa “cukup baik” sering kali sudah lebih dari cukup.
Menerima ketidaksempurnaan berarti menerima kemanusiaan diri sendiri, tanpa terus-menerus menyalahkan diri atas hal-hal kecil.
Menyesali keputusan masa lalu tidak akan mengubah apa pun selain mencuri kebahagiaan hari ini. Studi menunjukkan bahwa orang dewasa yang sehat secara emosional cenderung lebih mampu melepaskan rasa penyesalan sebagai bentuk perlindungan mental.
Berdamai dengan masa lalu menjadi kunci untuk menikmati masa kini.
Bertambahnya usia membawa kesadaran bahwa tidak semua hal berada dalam kendali. Melepaskan kebutuhan untuk mengontrol segalanya justru menghadirkan ketenangan batin.
Yang bisa dikendalikan hanyalah respons, sikap, dan pilihan dalam menggunakan energi serta perhatian.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Hasil Piala Presiden: Persib Bandung vs Persebaya Surabaya 1-1, Lanjut ke Extra Time!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Senpi hingga Narkoba di Sekolah Swasta di Jaksel Ternyata Milik Eks Ketua Yayasan
