Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 November 2025 | 22.37 WIB

8 Alasan Psikologi Mengapa Orang Sering Salah Pilih Pasangan, Begini Penjelasannya!

alasan psikologi mengapa orang sering salah pilih pasangan. (Freepik/ freepik) - Image

alasan psikologi mengapa orang sering salah pilih pasangan. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan alasan mengapa orang sering salah pilih pasangan meski mencari kebahagiaan dan kesesuaian dalam hubungan.

Kesalahan dalam memilih pasangan kerap dipengaruhi oleh faktor psikologi yang tidak disadari oleh individu.

Alasan psikologi mengapa salah pilih pasangan terkait pola pikir, pengalaman masa lalu, dan harapan yang terbentuk.

Psikologi membantu memahami mengapa keputusan memilih pasangan bisa salah walau ada daya tarik atau rasa nyaman.

Dilansir dari geediting.com pada Kamis (27/11), bahwa ada delapan alasan psikologi mengapa orang sering salah pilih pasangan.

  1. Kompulsi pengulangan

Fenomena ini pertama kali diidentifikasi oleh Freud sebagai keinginan bawah sadar untuk mengulangi situasi yang sudah dikenal.

Pikiran manusia secara tidak sadar tertarik pada hal-hal yang familiar meskipun sebenarnya merusak diri sendiri.

Pola ini membuat seseorang terus terlibat dalam hubungan dengan orang yang mengingatkan pada mantan yang menyakitkan.

Memutus rantai ini membutuhkan kesadaran untuk berhenti, merefleksikan diri, dan memilih jalan yang lebih sehat secara sadar.

  1. Meromantisasi masa lalu

Otak manusia cenderung melupakan hal-hal buruk dan hanya mengingat momen-momen menyenangkan dari hubungan sebelumnya.

Ini merupakan cara otak mengatasi kehilangan dan perubahan namun bisa menyesatkan dalam membuat keputusan.

Ingatan yang terlalu indah ini bisa membuat seseorang kembali ke hubungan yang sebenarnya tidak cocok.

Penting untuk mengingat kejadian sebagaimana adanya bukan hanya sorotan positifnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

  1. Gaya keterikatan

Cara seseorang terikat dengan orang lain sebagian besar ditentukan oleh dua tahun pertama kehidupannya.

Berdasarkan interaksi awal dengan pengasuh, seseorang mengembangkan gaya keterikatan secure, anxious, avoidant, atau disorganized.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore