
Ilustrasi social loafing (Freepik)
JawaPos.com - Dalam dunia kerja maupun perkuliahan, kerja tim sering dianggap sebagai kunci untuk mencapai hasil yang maksimal. Namun, siapa sangka, bekerja dalam kelompok justru bisa membuat sebagian orang menjadi kurang bersemangat atau bahkan menurunkan produktivitasnya.
Fenomena ini dikenal dengan istilah social loafing. Seperti dilansir dari Alodokter, social loafing kerap muncul tanpa disadari, terutama pada kelompok yang besar atau kurang memiliki pembagian peran yang jelas.
Sementara itu, menurut Halodoc, social loafing bukan hanya masalah malas semata, melainkan bentuk respons psikologis terhadap dinamika kelompok. Ketika seseorang merasa kontribusinya tidak terlalu penting atau tidak akan terlihat oleh anggota lain, mereka cenderung menurunkan tingkat usahanya.
Inilah yang membuat kerja kelompok terkadang tidak berjalan seimbang, ada yang bekerja keras, ada pula yang hanya ikut nama tanpa kontribusi berarti.
Mengenal Lebih dalam Tentang Social Loafing
Social loafing adalah kecenderungan seseorang untuk menurunkan tingkat usaha saat bekerja dalam kelompok dibandingkan saat bekerja sendiri. Kondisi ini biasanya disebabkan karena anggota merasa hasil akhirnya tidak akan terlalu bergantung pada dirinya. Dalam kelompok yang besar, individu sering merasa tidak diperhatikan, sehingga motivasi mereka pun ikut menurun.
Social loafing juga bisa diartikan sebagai bentuk “penurunan rasa tanggung jawab sosial”. Ketika hasil kerja bersifat kolektif, individu tidak merasa terbebani oleh tekanan evaluasi pribadi, sehingga mereka berasumsi kontribusi kecilnya tidak akan berdampak besar pada hasil akhir kelompok.
Penyebab Social Loafing
1. Kurangnya akuntabilitas individu
Dalam kelompok besar, kontribusi setiap anggota sulit diukur, membuat seseorang merasa tidak terlalu penting dan akhirnya berusaha lebih sedikit.
2. Tidak ada pembagian tugas yang jelas
Ketika peran dan tanggung jawab tidak dijabarkan dengan tegas, sebagian anggota mungkin berpikir bahwa orang lain akan menyelesaikan pekerjaan tersebut.
3. Kurangnya motivasi dan rasa memiliki
Rasa keterikatan emosional terhadap kelompok yang rendah bisa membuat seseorang enggan berpartisipasi aktif.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
