Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Maret 2026 | 10.21 WIB

Sering Melakukan 9 Kebiasaan Ini Saat Percakapan Kelompok? Kemungkinan Besar Mereka Tidak Disukai Seperti yang Mereka Kira Menurut Psikologi

seseorang yang tidak disukai seperti yang mereka kira./Freepik/stockking - Image

seseorang yang tidak disukai seperti yang mereka kira./Freepik/stockking

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, banyak orang percaya bahwa mereka cukup disukai oleh lingkungan sekitarnya. Mereka merasa mampu bergaul, aktif berbicara, dan sering terlibat dalam percakapan kelompok. Namun menurut berbagai temuan dalam bidang Psikologi Sosial, persepsi seseorang tentang bagaimana orang lain memandang dirinya sering kali tidak sepenuhnya akurat.

Fenomena ini dikenal sebagai Spotlight Effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk merasa bahwa dirinya lebih diperhatikan atau dinilai positif oleh orang lain dibandingkan kenyataan yang sebenarnya. Dalam situasi percakapan kelompok, ada beberapa kebiasaan kecil yang tanpa disadari bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman, meskipun pelakunya merasa ia hanya sedang bersikap biasa saja.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat sembilan kebiasaan yang sering muncul dalam percakapan kelompok yang menurut psikologi dapat membuat seseorang kurang disukai.


1. Terlalu Sering Memotong Pembicaraan


Salah satu kebiasaan yang paling cepat menimbulkan ketidaksukaan adalah memotong pembicaraan orang lain. Ketika seseorang belum selesai berbicara namun langsung disela, pesan yang tersampaikan adalah bahwa pendapat orang tersebut tidak cukup penting untuk didengarkan sampai selesai.

Dalam dinamika kelompok, kebiasaan ini sering dianggap sebagai bentuk dominasi sosial. Orang yang sering memotong pembicaraan biasanya dipersepsikan kurang menghargai orang lain, meskipun niatnya hanya ingin cepat menanggapi.

2. Mengalihkan Percakapan Kembali ke Diri Sendiri

Misalnya seseorang menceritakan pengalaman liburannya, lalu orang lain langsung menimpali dengan cerita tentang pengalaman pribadinya yang lebih panjang. Sekilas hal ini terlihat seperti berbagi pengalaman, tetapi jika dilakukan terus-menerus, orang lain bisa merasa percakapan selalu “dipusatkan” pada satu orang.

Dalam psikologi komunikasi, kebiasaan ini sering disebut sebagai conversational narcissism—kecenderungan mengarahkan hampir semua percakapan kembali ke diri sendiri.

3. Terlalu Mendominasi Percakapan


Percakapan kelompok idealnya memiliki alur yang seimbang. Jika satu orang berbicara terlalu lama tanpa memberi ruang bagi orang lain, dinamika sosial akan menjadi tidak sehat.

Penelitian dalam Psikologi Komunikasi menunjukkan bahwa orang cenderung lebih menyukai individu yang memberi kesempatan berbicara kepada orang lain dibandingkan mereka yang terus mendominasi percakapan.

4. Jarang Mendengarkan Secara Aktif

Mendengarkan bukan hanya diam saat orang lain berbicara. Mendengarkan secara aktif berarti memberikan perhatian penuh, kontak mata, serta respons yang menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami apa yang disampaikan.

Orang yang terlihat tidak fokus—misalnya sering melihat ponsel atau tampak tidak memperhatikan—sering dianggap tidak tertarik pada orang lain, sehingga hubungan sosial terasa kurang hangat.

5. Terlalu Sering Mengoreksi atau Membantah


Diskusi memang sehat, tetapi jika seseorang terlalu sering mengoreksi atau membantah setiap pernyataan orang lain, suasana percakapan bisa menjadi tegang.

Dalam kelompok sosial, orang cenderung menyukai mereka yang mampu menyampaikan perbedaan pendapat dengan cara yang ringan dan tidak membuat orang lain merasa dipermalukan.

6. Sering Mengeluh atau Bersikap Negatif


Energi emosional dalam percakapan sangat menular. Jika seseorang terus-menerus membawa topik yang penuh keluhan, kritik, atau pesimisme, orang lain secara tidak sadar akan merasa lelah secara emosional.

Dalam konteks sosial, individu yang terlalu sering membawa energi negatif biasanya tidak menjadi pilihan utama untuk diajak berbincang.

7. Terlalu Berusaha Menjadi Pusat Perhatian


Ada orang yang selalu berusaha membuat lelucon, cerita dramatis, atau komentar berlebihan agar menjadi pusat perhatian. Sekali dua kali mungkin menyenangkan, tetapi jika dilakukan terus-menerus, orang lain bisa merasa percakapan menjadi tidak alami.

Perilaku ini sering muncul karena kebutuhan akan validasi sosial, namun ironisnya justru dapat menurunkan kesan positif dari orang lain.

8. Tidak Peka Terhadap Bahasa Tubuh Orang Lain


Percakapan tidak hanya terjadi melalui kata-kata, tetapi juga melalui sinyal nonverbal seperti ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh.

Seseorang yang terus berbicara meskipun orang lain terlihat bosan, gelisah, atau ingin mengakhiri percakapan menunjukkan kurangnya sensitivitas sosial. Hal ini dapat membuat orang lain merasa tidak didengar atau bahkan terjebak dalam percakapan.

9. Terlalu Sering Membandingkan atau Meremehkan

Misalnya ketika seseorang berbagi masalah, lalu ditanggapi dengan kalimat seperti “Ah itu belum seberapa, saya pernah lebih parah.” Respons seperti ini dapat membuat orang lain merasa pengalaman mereka tidak dihargai.

Dalam hubungan sosial, empati jauh lebih dihargai dibandingkan kompetisi pengalaman.

Mengapa Kebiasaan-Kebiasaan Ini Sering Tidak Disadari?


Menurut penelitian dalam Psikologi Kepribadian, manusia memiliki bias persepsi terhadap dirinya sendiri. Kita cenderung menilai perilaku kita dengan lebih lunak dibandingkan cara kita menilai perilaku orang lain.

Selain itu, sebagian besar orang lebih fokus pada apa yang ingin mereka sampaikan daripada bagaimana mereka didengar oleh orang lain.

Cara Memperbaikinya

Kabar baiknya, kebiasaan sosial bisa diperbaiki dengan kesadaran dan latihan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

Berlatih mendengarkan lebih banyak daripada berbicara

Memberi jeda sebelum menanggapi

Mengajukan pertanyaan kepada orang lain

Memperhatikan bahasa tubuh dalam percakapan

Menghindari kebutuhan untuk selalu “menang” dalam diskusi

Ketika seseorang mampu menciptakan ruang bagi orang lain untuk berbicara dan merasa dihargai, kualitas hubungan sosial biasanya meningkat secara signifikan.

Kesimpulan

Dalam percakapan kelompok, kesan yang kita berikan kepada orang lain sering kali berbeda dengan apa yang kita bayangkan. Kebiasaan kecil seperti memotong pembicaraan, terlalu mendominasi, atau kurang mendengarkan dapat membuat seseorang terlihat kurang menyenangkan meskipun ia merasa sudah bersikap normal.

Memahami dinamika sosial melalui perspektif Psikologi Sosial membantu kita menjadi komunikator yang lebih peka, empatik, dan menyenangkan dalam interaksi sehari-hari. Pada akhirnya, orang yang paling disukai bukanlah mereka yang paling banyak berbicara, melainkan mereka yang membuat orang lain merasa didengar dan dihargai.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore