
seseorang yang tidak disukai seperti yang mereka kira./Freepik/stockking
JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, banyak orang percaya bahwa mereka cukup disukai oleh lingkungan sekitarnya. Mereka merasa mampu bergaul, aktif berbicara, dan sering terlibat dalam percakapan kelompok. Namun menurut berbagai temuan dalam bidang Psikologi Sosial, persepsi seseorang tentang bagaimana orang lain memandang dirinya sering kali tidak sepenuhnya akurat.
Fenomena ini dikenal sebagai Spotlight Effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk merasa bahwa dirinya lebih diperhatikan atau dinilai positif oleh orang lain dibandingkan kenyataan yang sebenarnya. Dalam situasi percakapan kelompok, ada beberapa kebiasaan kecil yang tanpa disadari bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman, meskipun pelakunya merasa ia hanya sedang bersikap biasa saja.
Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat sembilan kebiasaan yang sering muncul dalam percakapan kelompok yang menurut psikologi dapat membuat seseorang kurang disukai.
1. Terlalu Sering Memotong Pembicaraan
Salah satu kebiasaan yang paling cepat menimbulkan ketidaksukaan adalah memotong pembicaraan orang lain. Ketika seseorang belum selesai berbicara namun langsung disela, pesan yang tersampaikan adalah bahwa pendapat orang tersebut tidak cukup penting untuk didengarkan sampai selesai.
Dalam dinamika kelompok, kebiasaan ini sering dianggap sebagai bentuk dominasi sosial. Orang yang sering memotong pembicaraan biasanya dipersepsikan kurang menghargai orang lain, meskipun niatnya hanya ingin cepat menanggapi.
2. Mengalihkan Percakapan Kembali ke Diri Sendiri
Misalnya seseorang menceritakan pengalaman liburannya, lalu orang lain langsung menimpali dengan cerita tentang pengalaman pribadinya yang lebih panjang. Sekilas hal ini terlihat seperti berbagi pengalaman, tetapi jika dilakukan terus-menerus, orang lain bisa merasa percakapan selalu “dipusatkan” pada satu orang.
Dalam psikologi komunikasi, kebiasaan ini sering disebut sebagai conversational narcissism—kecenderungan mengarahkan hampir semua percakapan kembali ke diri sendiri.
3. Terlalu Mendominasi Percakapan
Percakapan kelompok idealnya memiliki alur yang seimbang. Jika satu orang berbicara terlalu lama tanpa memberi ruang bagi orang lain, dinamika sosial akan menjadi tidak sehat.
Penelitian dalam Psikologi Komunikasi menunjukkan bahwa orang cenderung lebih menyukai individu yang memberi kesempatan berbicara kepada orang lain dibandingkan mereka yang terus mendominasi percakapan.
4. Jarang Mendengarkan Secara Aktif
Mendengarkan bukan hanya diam saat orang lain berbicara. Mendengarkan secara aktif berarti memberikan perhatian penuh, kontak mata, serta respons yang menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami apa yang disampaikan.
Orang yang terlihat tidak fokus—misalnya sering melihat ponsel atau tampak tidak memperhatikan—sering dianggap tidak tertarik pada orang lain, sehingga hubungan sosial terasa kurang hangat.
5. Terlalu Sering Mengoreksi atau Membantah
Diskusi memang sehat, tetapi jika seseorang terlalu sering mengoreksi atau membantah setiap pernyataan orang lain, suasana percakapan bisa menjadi tegang.
Dalam kelompok sosial, orang cenderung menyukai mereka yang mampu menyampaikan perbedaan pendapat dengan cara yang ringan dan tidak membuat orang lain merasa dipermalukan.
6. Sering Mengeluh atau Bersikap Negatif
Energi emosional dalam percakapan sangat menular. Jika seseorang terus-menerus membawa topik yang penuh keluhan, kritik, atau pesimisme, orang lain secara tidak sadar akan merasa lelah secara emosional.
Dalam konteks sosial, individu yang terlalu sering membawa energi negatif biasanya tidak menjadi pilihan utama untuk diajak berbincang.
7. Terlalu Berusaha Menjadi Pusat Perhatian
Ada orang yang selalu berusaha membuat lelucon, cerita dramatis, atau komentar berlebihan agar menjadi pusat perhatian. Sekali dua kali mungkin menyenangkan, tetapi jika dilakukan terus-menerus, orang lain bisa merasa percakapan menjadi tidak alami.
Perilaku ini sering muncul karena kebutuhan akan validasi sosial, namun ironisnya justru dapat menurunkan kesan positif dari orang lain.
8. Tidak Peka Terhadap Bahasa Tubuh Orang Lain
Percakapan tidak hanya terjadi melalui kata-kata, tetapi juga melalui sinyal nonverbal seperti ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh.
Seseorang yang terus berbicara meskipun orang lain terlihat bosan, gelisah, atau ingin mengakhiri percakapan menunjukkan kurangnya sensitivitas sosial. Hal ini dapat membuat orang lain merasa tidak didengar atau bahkan terjebak dalam percakapan.
9. Terlalu Sering Membandingkan atau Meremehkan
Misalnya ketika seseorang berbagi masalah, lalu ditanggapi dengan kalimat seperti “Ah itu belum seberapa, saya pernah lebih parah.” Respons seperti ini dapat membuat orang lain merasa pengalaman mereka tidak dihargai.
Dalam hubungan sosial, empati jauh lebih dihargai dibandingkan kompetisi pengalaman.
Mengapa Kebiasaan-Kebiasaan Ini Sering Tidak Disadari?
Menurut penelitian dalam Psikologi Kepribadian, manusia memiliki bias persepsi terhadap dirinya sendiri. Kita cenderung menilai perilaku kita dengan lebih lunak dibandingkan cara kita menilai perilaku orang lain.
Selain itu, sebagian besar orang lebih fokus pada apa yang ingin mereka sampaikan daripada bagaimana mereka didengar oleh orang lain.
Cara Memperbaikinya
Kabar baiknya, kebiasaan sosial bisa diperbaiki dengan kesadaran dan latihan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
Berlatih mendengarkan lebih banyak daripada berbicara
Memberi jeda sebelum menanggapi
Mengajukan pertanyaan kepada orang lain
Memperhatikan bahasa tubuh dalam percakapan
Menghindari kebutuhan untuk selalu “menang” dalam diskusi
Ketika seseorang mampu menciptakan ruang bagi orang lain untuk berbicara dan merasa dihargai, kualitas hubungan sosial biasanya meningkat secara signifikan.
Kesimpulan
Dalam percakapan kelompok, kesan yang kita berikan kepada orang lain sering kali berbeda dengan apa yang kita bayangkan. Kebiasaan kecil seperti memotong pembicaraan, terlalu mendominasi, atau kurang mendengarkan dapat membuat seseorang terlihat kurang menyenangkan meskipun ia merasa sudah bersikap normal.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
