
Ilustrasi seseorang sedang minum di pagi hari, menunjukkan langkah kecil untuk mengubah kebiasaan dan menyambut hari dengan kesadaran penuh.. (Freepik)
JawaPos.com - Merasa terjebak adalah pengalaman yang aneh, di mana hidup terlihat baik-baik saja di luar namun terasa hampa dan mati rasa di dalam diri.
Anda mungkin memiliki tujuan, pencapaian, dan arah hidup yang jelas, tetapi jauh di lubuk hati sebenarnya tidak benar-benar menikmati kehidupan yang sedang dijalani.
Ternyata, kebahagiaan sejati tidak didapatkan dengan mencapai lebih banyak hal atau mencari kesempurnaan.
Melansir dari Global English Editing, disebutkan ada delapan perubahan kecil namun kuat yang ia terapkan untuk melepaskan diri dari rasa buntu dan menemukan kembali sukacita hidup yang hilang.
Kunci utama untuk kembali mencintai hidup adalah dengan mengubah cara pandang Anda dalam menjalani rutinitas harian. Begitu pergeseran internal yang sederhana dan kuat ini dimulai, segala sesuatu dalam hidup akan perlahan-lahan terbuka dan terasa lebih ringan. Delapan pergeseran ini membantu sang penulis menemukan kembali tujuan, sukacita, dan cinta yang tulus untuk tetap menikmati kehidupan.
1. Berhenti Menunggu "Waktu yang Tepat" untuk Menikmati Hidup
Penulis dulu menganggap kebahagiaan adalah hadiah yang akan diperoleh setelah semua hal, seperti karier yang lebih sukses atau finansial yang lebih stabil, dapat tercapai dan terpenuhi. Namun hari yang ideal itu tidak pernah datang karena selalu ada masalah baru untuk dipecahkan dan capaian berikutnya untuk diraih setiap saat. Sadarilah bahwa menunggu hidup menjadi sempurna sebelum mengizinkan diri bahagia hanyalah bentuk sabotase diri yang terus-menerus Anda lakukan. Cobalah untuk mulai melakukan hal-hal kecil yang membuat Anda merasa hidup saat ini juga, bahkan ketika di tengah-tengah kekacauan.
2. Berhenti Mengejar Validasi Eksternal dari Orang Lain
Kebanyakan orang tidak menyadari betapa harga diri mereka bergantung pada persetujuan dan pengakuan yang diberikan oleh orang lain. Semangat dan suasana hati penulis dulu sering terikat pada angka pencapaian, feedback positif, atau apakah orang lain menganggapnya "berhasil" di mata mereka. Semakin validasi dikejar, semakin hampa perasaan di dalam diri karena hal itu seperti mencoba mengisi ember yang tidak memiliki dasar penahan. Semuanya berubah ketika Anda mulai menjalani hidup, bekerja, dan menciptakan sesuatu untuk diri sendiri, bukan demi tepuk tangan dan pujian orang lain.
3. Berhenti Mengontrol Pikiran, Mulai Mengamatinya Saja
Penulis dulunya percaya bahwa ia dapat mencapai kedamaian dengan "memikirkan" jalannya, menganalisis setiap masalah, dan mencoba memperbaiki pikirannya yang terasa kacau. Namun, semakin ia mencoba melawan dan menekan pikirannya, semakin keras suara-suara di dalam benak itu terdengar dan mengganggu ketenangan. Semua berubah saat ia mulai berlatih mindfulness sebagai disiplin harian untuk melihat bahwa kedamaian datang dari pemahaman tentang pikiran sendiri. Ketika Anda belajar untuk mengamati pikiran tanpa terikat padanya, maka pikiran negatif yang mengganggu akan kehilangan kekuatannya.
4. Mendefinisikan Ulang Makna Kesuksesan
Selama bertahun-tahun, penulis menyamakan kesuksesan dengan pencapaian eksternal seperti kekayaan, pengakuan, dan metrik kinerja yang tinggi di kantor. Namun, kepuasan dari mencapai sebuah tujuan akan segera memudar dan menuntut pencapaian berikutnya agar perasaan itu tetap ada di dalam diri. Kesuksesan yang dibangun di atas ego akan selalu menuntut lebih banyak lagi dan tidak pernah bisa mengatakan "cukup" kepada Anda. Mulailah mendefinisikan ulang kesuksesan dalam istilah yang lebih sederhana: waktu bersama orang terkasih, kesehatan yang baik, atau ketenangan batin.
5. Mulai Mengatakan "Tidak" Lebih Sering
Mencintai hidup kembali juga berarti berhenti mengkhianati diri sendiri hanya demi membuat orang lain merasa nyaman dan senang dengan keputusan Anda. Penulis dulunya selalu mengatakan "Ya" untuk berbagai proyek dan permintaan hanya untuk menghindari kekecewaan orang-orang di sekitarnya. Setiap kali ia mengatakan "Ya" kepada orang lain, secara tidak langsung ia mengatakan "Tidak" pada istirahat, kebahagiaan sejati, dan kreativitas dirinya sendiri. Lindungi energi Anda dan sadarilah bahwa Anda mungkin tidak butuh lebih banyak motivasi, melainkan hanya perlu batasan diri yang lebih kuat dan tegas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Prediksi Skor Kroasia vs Inggris di Liga Nations UEFA: The Three Lions Redam Tuan Rumah
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022