ILustrasi belanja online
JawaPos.com – Belanja online tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan praktis, tetapi juga menjadi pelarian emosional bagi banyak orang. Saat stres melanda, membuka aplikasi e-commerce dan menekan tombol “checkout” kerap terasa seperti solusi instan untuk menenangkan pikiran.
Psikolog Indah SJ, M.Psi., menjelaskan bahwa belanja saat stres berkaitan dengan mekanisme coping atau strategi seseorang menghadapi tekanan. Aktivitas membeli barang memicu pelepasan hormon dopamin di otak, sehingga menimbulkan rasa senang dan membuat beban pikiran terasa berkurang.
Konten di kanal YouTube Personal Growth ID juga menekankan bahwa perilaku ini dikenal sebagai retail therapy. Saat membeli sesuatu, seseorang merasa lebih puas dan seolah mendapatkan kembali kendali atas hidupnya. Itulah sebabnya belanja dianggap mampu memberikan rasa lega, meski hanya sesaat.
Baca Juga: 9 Sifat Psikologis yang Dimiliki Orang yang Lebih Suka Belanja Online daripada di Toko Offline
Fenomena ini semakin nyata dalam kehidupan masyarakat urban. Metro TV melalui konten digitalnya menyoroti bahwa kebiasaan belanja online meningkat di kalangan generasi muda, dengan pemicu utama berupa tekanan pekerjaan, persoalan pribadi, hingga tuntutan sosial.
Selain itu, beberapa kreator media sosial juga menggambarkan pengalaman serupa. Akun @nn.cahya menyebut belanja online sering dijadikan coping mechanism karena terasa praktis dan cepat. Sementara itu, akun @dosen_fashyun menyoroti bahwa tren haul di media sosial ikut memperkuat dorongan belanja, karena aktivitas ini tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai ajang mencari pengakuan sosial.
Meski memberikan rasa lega, para pakar mengingatkan agar kebiasaan ini tidak berlebihan. Belanja memang bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi jika dilakukan impulsif dan tanpa perencanaan, justru dapat menimbulkan masalah finansial baru. Saat keuangan terganggu, tingkat stres berpotensi meningkat.
Untuk mencegah hal tersebut, penting bagi setiap individu untuk mengenali batas diri. Beberapa strategi sederhana yang disarankan adalah menunda pembelian dengan aturan “pause 24 jam”, membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja, hingga mencari alternatif pengalihan stres seperti olahraga, meditasi, atau aktivitas kreatif.
Fenomena belanja online saat stres menunjukkan bagaimana teknologi digital tidak hanya mengubah cara konsumsi, tetapi juga cara manusia menghadapi tekanan emosional. Pada akhirnya, belanja bisa menjadi hiburan yang menyenangkan, namun kendali diri tetap menjadi kunci agar kebahagiaan instan tidak berubah menjadi penyesalan.
Lebih jauh, tren ini juga menandai perubahan budaya konsumsi masyarakat modern. Belanja online bukan lagi sekadar kegiatan ekonomi, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang erat kaitannya dengan identitas diri dan kesejahteraan mental. Tantangannya kini adalah bagaimana masyarakat dapat menyeimbangkan kebutuhan emosional dengan kondisi finansial, sehingga belanja tetap bisa memberikan manfaat positif tanpa menimbulkan dampak negatif di kemudian hari.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
