AI mulai digunakan untuk mendukung kesehatan mental, dari chatbot konseling hingga pemantauan emosi, namun tetap perlu kehati-hatian agar tidak menimbulkan risiko baru
JawaPos.com – Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya digunakan di bidang bisnis atau hiburan, tetapi juga merambah ke ranah kesehatan mental. Belakangan, muncul berbagai aplikasi dan chatbot berbasis AI yang menawarkan layanan konseling, self-care, hingga manajemen stres. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah AI benar-benar mampu menjadi teman curhat sekaligus pendukung kesehatan mental?
Konten dari akun TikTok @paktumbik menyoroti bagaimana generasi muda mulai menggunakan AI untuk “mendengar” keluh kesah mereka. Dengan hanya mengetikkan cerita di aplikasi tertentu, pengguna bisa mendapatkan respon yang menyerupai percakapan dengan manusia. Hal ini membuat sebagian orang merasa lebih nyaman berbagi tanpa takut dihakimi.
Sejalan dengan itu, akun @feedloop.ai menampilkan pengembangan teknologi yang memungkinkan AI memantau kondisi psikologis seseorang. Misalnya, AI bisa mendeteksi emosi melalui pola bahasa atau ekspresi wajah, kemudian memberikan saran sederhana untuk mengurangi stres. Teknologi ini diharapkan bisa membantu mereka yang belum memiliki akses langsung ke psikolog profesional.
Dalam sebuah video yang diunggah @viceind, tren ini bahkan mulai masuk ke dunia kerja. Beberapa perusahaan menggunakan AI untuk mengukur tingkat stres karyawan melalui survei otomatis dan analisis data. Tujuannya, agar perusahaan bisa mengetahui kondisi mental tenaga kerja sejak dini dan mengambil langkah preventif.
Namun, pakar psikologi tetap menekankan pentingnya berhati-hati. Dalam TEDx Talks bertajuk How to create AI to improve mental health, Stevie Chancellor menjelaskan bahwa AI memang dapat menjadi alat bantu, tetapi bukan pengganti profesional kesehatan mental. “AI bisa memberikan dukungan awal, tetapi diagnosis dan penanganan tetap membutuhkan sentuhan manusia,” tegasnya.
Dampak Positif Penggunaan AI
Ada beberapa keuntungan yang ditawarkan AI dalam mendukung kesehatan mental:
Akses lebih mudah. Mereka yang tinggal di daerah terpencil atau enggan datang ke klinik bisa mendapatkan layanan dasar lewat aplikasi AI.
Anonimitas terjaga. AI dianggap sebagai “ruang aman” untuk bercerita tanpa takut stigma.
Monitoring real time. Beberapa aplikasi mampu memantau perubahan suasana hati dan memberikan peringatan dini bila ada tanda depresi.
Biaya lebih terjangkau. Menggunakan AI dinilai lebih murah dibandingkan konseling tatap muka dengan psikolog.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
