
Ilustrasi kebiasaan yang harus dihindari agar anak mau terbuka saat dewasa (Geediting)
JawaPos.Com - Ketika anak masih kecil, mereka dengan mudah menceritakan segala hal. Dari siapa yang mendorong mereka di taman bermain, apa menu makan malam yang mereka inginkan, hingga mimpi besarnya menjadi astronot, bintang rock, atau YouTuber. Namun, seiring bertambahnya usia, cerita-cerita itu mulai berkurang. Banyak orang tua yang kemudian bertanya-tanya: Mengapa anak saya tidak terbuka lagi?
Faktanya, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak dewasa bukanlah sesuatu yang otomatis ada. Hubungan ini dibangun—atau justru terkikis—selama bertahun-tahun. Sering kali, bukan kesalahan besar yang merusak komunikasi, melainkan kebiasaan kecil sehari-hari yang perlahan menutup pintu.
Dilansir dari Geediting, jika Anda ingin anak tetap merasa nyaman berbagi cerita di usia dewasa, inilah tujuh kebiasaan yang sebaiknya ditinggalkan.
Tidak ada yang lebih cepat membuat anak menutup diri selain ucapan seperti, “Kamu lebay,” atau, “Ah, itu bukan masalah besar.” Saat anak datang dengan perasaan yang mereka anggap penting, meremehkannya hanya membuat mereka belajar satu hal: perasaanku tidak dianggap di sini. Lama-kelamaan, mereka akan berhenti berbagi. Anak dewasa tidak butuh solusi instan, mereka hanya butuh pengakuan. Kalimat sederhana seperti, “Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa begitu,” sudah cukup untuk menjaga komunikasi tetap terbuka.
Ketika anak dewasa bercerita tentang keputusan besar—misalnya pindah kerja atau memilih jalan hidup yang lebih berisiko—insting pertama orang tua biasanya adalah memperingatkan. Namun, reaksi cepat berupa kritik atau penilaian hanya membuat anak merasa tidak bisa dipercaya. Padahal, yang mereka butuhkan adalah ruang aman untuk memproses pikirannya. Alih-alih menghakimi, coba tanyakan, “Ceritakan lebih banyak tentang apa yang kamu rasakan.” Dengan begitu, Anda berubah dari hakim menjadi teman diskusi.
Kalimat seperti, “Mama sudah berkorban banyak, ini balasanmu?” atau, “Kalau kamu sayang, kamu pasti lebih sering telepon,” memang bisa membuat anak menurut. Tetapi hubungan yang dibangun dari rasa bersalah akan menciptakan jarak. Anak akan merasa kehadirannya hanyalah kewajiban, bukan pilihan yang tulus. Sebagai gantinya, ucapkan rasa syukur: “Senang sekali bisa bertemu kemarin, ayo kita atur waktu kumpul lagi.” Rasa syukur mendekatkan, rasa bersalah justru menjauhkan.
Nasihat yang datang tanpa diminta sering kali dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan. Anak dewasa bisa merasa seolah-olah dianggap tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Psikolog pun mencatat bahwa terlalu sering memberi arahan bisa membuat anak merasa dikontrol dan akhirnya menjaga jarak. Solusinya sederhana: tanyakan dulu, “Mau dengar pendapatku, atau cukup aku dengarkan saja?” Dengan begitu, percakapan tetap berjalan tanpa membuat mereka defensif.
Ucapan seperti, “Sepupumu lebih sukses di kariernya,” atau, “Waktu seumuran kamu, mama sudah punya ini-itu,” terdengar sepele tapi sangat melukai. Perbandingan membuat anak merasa tidak pernah cukup, apapun yang mereka lakukan. Hal ini justru mematikan keinginan mereka untuk terbuka. Alih-alih membandingkan, fokuslah pada pencapaian dan proses unik mereka. Rayakan kekuatan serta perjalanan pribadi mereka tanpa tolok ukur orang lain.
Tidak ada yang suka terus diingatkan pada kegagalan lama, entah itu kuliah yang tidak selesai, hubungan yang gagal, atau kesalahan finansial. Jika orang tua terus membawa masa lalu sebagai “bukti” bahwa anak selalu salah, maka setiap percakapan baru terasa seperti sidang ulang. Padahal, anak dewasa butuh ruang untuk merasa aman dari penilaian masa lalu. Melepaskan kesalahan lama bukan hanya soal memaafkan, tapi juga cara praktis menjaga komunikasi tetap terbuka.
Banyak orang tua tanpa sadar lebih banyak berbicara ketimbang mendengar. Meski pengalaman hidup berharga untuk dibagikan, jika terus mendominasi percakapan, anak akan merasa seperti murid yang sedang diceramahi. Padahal, anak dewasa ingin dihargai sebagai mitra bicara. Mendengarkan bukan sekadar diam, tapi juga menunjukkan rasa ingin tahu, memberi pertanyaan terbuka, dan menahan diri untuk tidak langsung menyelipkan pendapat. Dengan begitu, percakapan menjadi dua arah yang sejajar.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
