Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Agustus 2025 | 00.36 WIB

4 Hal yang Bikin Orang yang Bercerai Tetap Merasa Malu, Meski Sudah Ambil Keputusan Terbaik

Ilustrasi pasangan bercerai. (pexels.com) - Image

Ilustrasi pasangan bercerai. (pexels.com)

JawaPos.com - Bagi sebagian orang, perceraian bukanlah akhir dari cerita cinta, melainkan awal dari babak baru yang lebih sehat dan membebaskan. Keputusan itu sering kali diambil setelah melewati pergulatan batin yang panjang, menimbang kebahagiaan, keselamatan emosional, hingga masa depan anak-anak. 

Namun, meskipun secara logika itu adalah pilihan terbaik, rasa malu dan bersalah masih saja menghantui. Stigma yang melekat di masyarakat membuat perceraian kerap dipandang sebagai aib, bukan sebagai bentuk keberanian untuk memperbaiki hidup. 

Nilai-nilai budaya, ajaran agama, hingga pandangan orang-orang terdekat bisa menjadi tekanan yang membuat langkah ini terasa lebih berat. Bahkan, tidak jarang orang yang bercerai harus berjuang menjelaskan keputusannya kepada lingkungan yang tak sepenuhnya memahami.

Berikut 4 alasan utama mengapa rasa malu sering muncul setelah perceraian, meskipun sejatinya langkah itu diambil demi kebaikan semua pihak seperti dirangkum dari laman Your Tango!

1. ‘Perceraian bertentangan dengan nilai-nilai saya’

Banyak orang tumbuh di lingkungan yang memandang perceraian sebagai hal tabu. Ajaran agama, norma budaya, hingga kebijakan pemerintah cenderung mendorong pasangan untuk bertahan, bahkan ketika hubungan itu sudah tidak sehat. Akibatnya, keputusan untuk berpisah sering terasa seperti menentang nilai-nilai yang telah dipegang sejak kecil.

2. ‘Perceraian terasa seperti kegagalan’

Meski logika mengatakan ini adalah pilihan terbaik, hati sering menganggapnya sebagai bentuk kegagalan. Janji “selamanya” yang pernah diucapkan di hadapan keluarga dan sahabat membuat perceraian terasa seperti mundur selangkah. Padahal, berani keluar dari hubungan yang tidak membahagiakan justru bisa menjadi langkah besar menuju kehidupan yang lebih baik.

3. ‘Perceraian berdampak pada anak-anak kami’

Rasa bersalah pada anak sering kali menjadi beban terberat. Banyak orang tua khawatir bahwa perceraian akan merampas kebahagiaan anak atau merusak masa kecil mereka. 

Namun, mempertahankan hubungan penuh konflik justru bisa memberikan dampak yang lebih buruk. Dengan proses yang damai, anak tetap bisa melihat bahwa keluarga bisa tetap utuh secara emosional meski orang tuanya berpisah.

4. ‘Perceraian tidak didukung oleh komunitas saya’

Meski perceraian kini bukan hal asing, banyak komunitas yang masih bereaksi negatif. Teman, keluarga, bahkan tetangga kadang tidak tahu bagaimana memberikan dukungan. 

Padahal, jika mereka bisa melihat perceraian sebagai transisi hidup yang wajar, prosesnya akan terasa lebih ringan dan tidak mengisolasi bagi pihak yang menjalaninya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore