
Ilustrasi pasangan bercerai. (pexels.com)
JawaPos.com - Bagi sebagian orang, perceraian bukanlah akhir dari cerita cinta, melainkan awal dari babak baru yang lebih sehat dan membebaskan. Keputusan itu sering kali diambil setelah melewati pergulatan batin yang panjang, menimbang kebahagiaan, keselamatan emosional, hingga masa depan anak-anak.
Namun, meskipun secara logika itu adalah pilihan terbaik, rasa malu dan bersalah masih saja menghantui. Stigma yang melekat di masyarakat membuat perceraian kerap dipandang sebagai aib, bukan sebagai bentuk keberanian untuk memperbaiki hidup.
Nilai-nilai budaya, ajaran agama, hingga pandangan orang-orang terdekat bisa menjadi tekanan yang membuat langkah ini terasa lebih berat. Bahkan, tidak jarang orang yang bercerai harus berjuang menjelaskan keputusannya kepada lingkungan yang tak sepenuhnya memahami.
Berikut 4 alasan utama mengapa rasa malu sering muncul setelah perceraian, meskipun sejatinya langkah itu diambil demi kebaikan semua pihak seperti dirangkum dari laman Your Tango!
1. ‘Perceraian bertentangan dengan nilai-nilai saya’
Banyak orang tumbuh di lingkungan yang memandang perceraian sebagai hal tabu. Ajaran agama, norma budaya, hingga kebijakan pemerintah cenderung mendorong pasangan untuk bertahan, bahkan ketika hubungan itu sudah tidak sehat. Akibatnya, keputusan untuk berpisah sering terasa seperti menentang nilai-nilai yang telah dipegang sejak kecil.
2. ‘Perceraian terasa seperti kegagalan’
Meski logika mengatakan ini adalah pilihan terbaik, hati sering menganggapnya sebagai bentuk kegagalan. Janji “selamanya” yang pernah diucapkan di hadapan keluarga dan sahabat membuat perceraian terasa seperti mundur selangkah. Padahal, berani keluar dari hubungan yang tidak membahagiakan justru bisa menjadi langkah besar menuju kehidupan yang lebih baik.
3. ‘Perceraian berdampak pada anak-anak kami’
Rasa bersalah pada anak sering kali menjadi beban terberat. Banyak orang tua khawatir bahwa perceraian akan merampas kebahagiaan anak atau merusak masa kecil mereka.
Namun, mempertahankan hubungan penuh konflik justru bisa memberikan dampak yang lebih buruk. Dengan proses yang damai, anak tetap bisa melihat bahwa keluarga bisa tetap utuh secara emosional meski orang tuanya berpisah.
4. ‘Perceraian tidak didukung oleh komunitas saya’
Meski perceraian kini bukan hal asing, banyak komunitas yang masih bereaksi negatif. Teman, keluarga, bahkan tetangga kadang tidak tahu bagaimana memberikan dukungan.
Padahal, jika mereka bisa melihat perceraian sebagai transisi hidup yang wajar, prosesnya akan terasa lebih ringan dan tidak mengisolasi bagi pihak yang menjalaninya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
