
seseorang yang mendengar temannya bercerai. (Freepik/katemangostar)
JawaPos.com - Perceraian sering menjadi salah satu pengalaman emosional paling berat dalam hidup seseorang. Selain harus menghadapi perubahan besar dalam kehidupan pribadi, orang yang bercerai juga sering berhadapan dengan reaksi dari lingkungan sekitar.
Menariknya, cara orang lain bereaksi terhadap perceraian seseorang sering kali mengungkap karakter asli mereka. Dalam psikologi sosial, respons terhadap penderitaan atau kesulitan orang lain dapat memperlihatkan tingkat empati, kedewasaan emosional, dan nilai moral seseorang.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan perilaku yang sering muncul ketika seseorang mengetahui kenalannya baru saja bercerai—dan apa maknanya tentang kepribadian mereka menurut psikologi.
1. Mereka Mendengarkan Tanpa Menghakimi
Orang yang memiliki empati tinggi biasanya tidak langsung memberikan penilaian atau menyalahkan siapa pun. Mereka lebih memilih mendengarkan terlebih dahulu.
Secara psikologis, kemampuan untuk mendengarkan tanpa menghakimi merupakan tanda kecerdasan emosional yang baik. Orang seperti ini memahami bahwa setiap hubungan memiliki kompleksitas yang tidak diketahui orang luar.
Alih-alih berkata,
“Pasti ada yang salah dari kamu,”
mereka lebih mungkin berkata,
“Aku di sini kalau kamu ingin cerita.”
Perilaku ini menunjukkan bahwa mereka menghargai perasaan orang lain dan tidak terburu-buru membuat kesimpulan.
2. Mereka Menyebarkan Gosip
Sebaliknya, salah satu tanda karakter yang kurang baik adalah menjadikan perceraian seseorang sebagai bahan gosip.
Dalam psikologi sosial, perilaku ini sering berkaitan dengan kebutuhan untuk meningkatkan status sosial atau mendapatkan perhatian dari kelompok. Namun, dampaknya sangat merugikan bagi orang yang sedang mengalami masa sulit.
Orang yang langsung menceritakan perceraian orang lain ke banyak orang biasanya lebih fokus pada sensasi cerita, bukan pada kesejahteraan emosional orang yang terlibat.
3. Mereka Menawarkan Dukungan Praktis
Orang yang benar-benar peduli sering kali tidak hanya berkata “semoga kamu kuat”, tetapi juga menawarkan bantuan nyata.
Contohnya seperti:
membantu mengurus anak
menemani berbicara
membantu urusan administrasi
sekadar mengajak keluar agar tidak merasa sendirian
Dalam psikologi, perilaku ini disebut prosocial behavior, yaitu tindakan yang bertujuan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
Orang dengan kecenderungan prososial biasanya memiliki tingkat empati dan kepedulian sosial yang tinggi.
4. Mereka Langsung Memihak Salah Satu Pihak
Banyak orang merasa perlu memilih “tim” ketika mendengar kabar perceraian.
Padahal, orang yang bijaksana secara emosional memahami bahwa konflik hubungan hampir selalu memiliki dua sisi. Ketika seseorang langsung menyalahkan salah satu pihak tanpa mengetahui fakta lengkap, itu sering menunjukkan pola pikir yang impulsif dan kurang reflektif.
Dalam psikologi, kecenderungan ini disebut bias atribusi, yaitu kebiasaan menilai situasi berdasarkan asumsi pribadi daripada informasi yang lengkap.
5. Mereka Menghormati Privasi
Orang yang memiliki kedewasaan emosional biasanya memahami bahwa perceraian adalah hal yang sangat pribadi.
Mereka tidak memaksa bertanya:
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Siapa yang selingkuh?”
“Kenapa sampai cerai?”
Sebaliknya, mereka memberi ruang dan hanya mendengarkan jika orang tersebut sendiri yang ingin bercerita.
Menghormati batasan seperti ini menunjukkan respek dan empati, dua kualitas penting dalam hubungan sosial yang sehat.
6. Mereka Menggunakan Situasi Itu untuk Merasa Lebih Baik Tentang Diri Sendiri
Ada juga orang yang secara tidak sadar membandingkan situasi tersebut dengan kehidupan mereka sendiri.
Contohnya:
“Untung pernikahanku tidak seperti itu.”
“Makanya jangan pilih pasangan sembarangan.”
Menurut psikologi, perilaku ini berkaitan dengan downward social comparison, yaitu kecenderungan merasa lebih baik dengan membandingkan diri dengan orang yang sedang mengalami kesulitan.
Meskipun umum terjadi, cara berpikir seperti ini sering menunjukkan kurangnya empati terhadap penderitaan orang lain.
7. Mereka Tetap Memperlakukan Orang Itu Seperti Biasa
Salah satu bentuk dukungan terbaik sering kali adalah tidak membuat seseorang merasa berbeda atau “rusak” setelah perceraian.
Orang yang baik biasanya tetap:
mengajak berbicara seperti biasa
tidak memperlakukan mereka dengan rasa kasihan berlebihan
tidak menjauh karena merasa canggung
Hal ini membantu orang yang baru bercerai merasa bahwa identitas mereka tidak hanya ditentukan oleh kegagalan hubungan.
8. Mereka Memberikan Harapan Tanpa Mengabaikan Rasa Sakit
Orang yang memiliki empati yang matang mampu menyeimbangkan dua hal:
mengakui bahwa perceraian adalah pengalaman yang menyakitkan
tetap memberikan harapan bahwa hidup bisa menjadi lebih baik
Mereka mungkin mengatakan sesuatu seperti:
“Ini pasti sangat berat sekarang. Tapi kamu tidak harus melewati ini sendirian.”
Pendekatan ini sejalan dengan konsep validasi emosional, yaitu mengakui perasaan seseorang tanpa mencoba meremehkannya atau langsung “memperbaiki” situasi.
Kesimpulan
Cara seseorang bereaksi terhadap perceraian orang lain sering kali memperlihatkan nilai dan karakter yang sebenarnya.
Orang yang memiliki empati dan kecerdasan emosional cenderung:
mendengarkan tanpa menghakimi
menghormati privasi
menawarkan dukungan nyata
tetap memperlakukan orang dengan hormat
Sebaliknya, perilaku seperti menggosip, menghakimi, atau memanfaatkan situasi orang lain untuk merasa lebih unggul dapat menunjukkan kurangnya empati.
