
Ilustrasi. (Pexels.com)
JawaPos.com - Bahkan saat kondisi keuangan sudah berubah, rasa bersalah akibat tumbuh dalam kemiskinan bisa tetap menempel erat.
Ia menyusup diam-diam ke dalam cara kamu berbelanja, beristirahat, mengambil keputusan, hingga cara memandang diri sendiri.
Pernahkah kamu berdiri lama di depan kulkas toko hanya karena ragu membeli sebotol kombucha mahal, meskipun sebenarnya mampu?
Bukan karena pelit. Bukan karena tak rasional. Tapi karena ada suara kecil di kepala yang terus bertanya, “Benarkah kamu butuh ini?”
Itu bukan akal sehat. Itu adalah gema dari pola pikir bertahan hidup yang tertanam sejak kecil.
Kalau kamu tumbuh besar dengan terus menghitung harga setiap hal—dari roti isi sampai sumbangan kegiatan sekolah—maka perubahan penghasilan bukan jaminan perubahan pola pikir. Kadang, tubuh bisa aman, tapi pikiran masih hidup dalam kekurangan.
Dilansir dari VegOut, berikut tujuh hal yang sebenarnya sangat normal namun bisa terasa salah dan bikin tidak nyaman jika kamu dibesarkan dalam kemiskinan. Dan mengakuinya, bisa menjadi langkah pertama untuk benar-benar merasa aman.
1. Membayar demi kenyamanan, bukan hanya kebutuhan
Memesan makanan online. Membeli buah yang sudah dipotong. Naik ojek alih-alih naik tiga kali angkutan umum.
Semua ini bisa terasa seperti “pelanggaran”, terutama jika sejak kecil kamu terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Ada semacam kebanggaan diam-diam dalam melakukan hal dengan “cara susah”.
Tapi kenyataannya, membeli kenyamanan tidak membuatmu malas. Justru itu artinya kamu mulai menghargai waktu dan energimu—dua hal yang sangat berharga, bahkan lebih dari uang.
Kamu tidak berutang perjuangan kepada siapa pun. Dan tidak ada penghargaan khusus bagi mereka yang sengaja memilih jalan terberat ketika pilihan lain tersedia.
2. Mengambil ruang—secara fisik, emosional, atau dalam percakapan
Jika kamu dulu sering dibilang “jangan rewel” atau “diam saja biar tidak merepotkan”, besar kemungkinan kamu tumbuh dengan keyakinan bahwa kebutuhanmu harus dikecilkan demi kenyamanan orang lain.
Sekarang, hal itu bisa muncul dalam bentuk selalu minta maaf, sulit bicara dalam rapat, atau merasa bersalah ketika minta bantuan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
