Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 19.16 WIB

Orang yang Tumbuh dalam Kemiskinan, Seringkali Merasa Bersalah Saat Melakukan 7 Hal Normal Ini

Ilustrasi. (Pexels.com) - Image

Ilustrasi. (Pexels.com)

JawaPos.com - Bahkan saat kondisi keuangan sudah berubah, rasa bersalah akibat tumbuh dalam kemiskinan bisa tetap menempel erat. 

Ia menyusup diam-diam ke dalam cara kamu berbelanja, beristirahat, mengambil keputusan, hingga cara memandang diri sendiri.

Pernahkah kamu berdiri lama di depan kulkas toko hanya karena ragu membeli sebotol kombucha mahal, meskipun sebenarnya mampu? 

Bukan karena pelit. Bukan karena tak rasional. Tapi karena ada suara kecil di kepala yang terus bertanya, “Benarkah kamu butuh ini?”

Itu bukan akal sehat. Itu adalah gema dari pola pikir bertahan hidup yang tertanam sejak kecil.

Kalau kamu tumbuh besar dengan terus menghitung harga setiap hal—dari roti isi sampai sumbangan kegiatan sekolah—maka perubahan penghasilan bukan jaminan perubahan pola pikir. Kadang, tubuh bisa aman, tapi pikiran masih hidup dalam kekurangan.

Dilansir dari VegOut, berikut tujuh hal yang sebenarnya sangat normal namun bisa terasa salah dan bikin tidak nyaman jika kamu dibesarkan dalam kemiskinan. Dan mengakuinya, bisa menjadi langkah pertama untuk benar-benar merasa aman.

1. Membayar demi kenyamanan, bukan hanya kebutuhan

Memesan makanan online. Membeli buah yang sudah dipotong. Naik ojek alih-alih naik tiga kali angkutan umum.

Semua ini bisa terasa seperti “pelanggaran”, terutama jika sejak kecil kamu terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Ada semacam kebanggaan diam-diam dalam melakukan hal dengan “cara susah”.

Tapi kenyataannya, membeli kenyamanan tidak membuatmu malas. Justru itu artinya kamu mulai menghargai waktu dan energimu—dua hal yang sangat berharga, bahkan lebih dari uang.

Kamu tidak berutang perjuangan kepada siapa pun. Dan tidak ada penghargaan khusus bagi mereka yang sengaja memilih jalan terberat ketika pilihan lain tersedia.

2. Mengambil ruang—secara fisik, emosional, atau dalam percakapan

Jika kamu dulu sering dibilang “jangan rewel” atau “diam saja biar tidak merepotkan”, besar kemungkinan kamu tumbuh dengan keyakinan bahwa kebutuhanmu harus dikecilkan demi kenyamanan orang lain.

Sekarang, hal itu bisa muncul dalam bentuk selalu minta maaf, sulit bicara dalam rapat, atau merasa bersalah ketika minta bantuan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore