
Ilustrasi seseorang anak yang sedang membaca buku (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Ketika kita masih kanak-kanak, kita akan belajar membaca dengan bantuan dari orang tua atau guru-guru di sekolah. Dan alat untuk belajar membaca kita pertama kali biasanya berupa buku fiksi.
Begitu kita beranjak dewasa buku-buku yang kita perlahan-lahan akan berbeda dari buku-buku yang biasa kita sentuh. Karena hal ini terdapat kesenjangan antara buku fiksi dan non fiksi.
Dilansir dari National Library of Medicine, cerita-cerita fiksi sudah lama ada dan ketika kita masih kecil pun kita memiliki kecenderungan untuk bercerita secara spontan.
Kemampuan bercerita sendiri juga sangat bermanfaat: pertama, menjadi fasilitas kerjasama manusia dalam pembentukan dan penyebaran norma-norma sosial; dan dua, untuk alat menyebarkan informasi yang relevan karena kemudahan untuk mengingat fakta dalam bentuk narasi.
Seorang pendongen juga akan memiliki keterampilan menjadi mitra sosial yang lebih disukai dan memiliki keberhasilan yang lebih besar.
Membantu relaksasi dan alat penghibur
Manfaat dari membaca sudah lama diakui, bahkan sejak era Mesir Kuno. Dalam Perpustakaan Theban Kuno milik Firaun Ramses II, terdapat prasasti ‘rumah penyembuhan bagi jiwa’.
Menurut mereka, saat kita membaca kita akan membenamkan pikiran ke dunia imajinasi. Kegiatan ini akan mendorong fokus yang mendalam, melepaskan pikiran dari gangguan luar, yang kemudian memberikan relaksasi kepada diri.
Perlu diketahui, bahwa sifat terapeutik dari membaca ini bekerja lebih dari pelarian diri.
Cerita dapat membantu kita menghadapi dan mengeksplorasi berbagai isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari kita.
Dengan kita menyaksikan bagaimana tokoh utama dalam cerita tersebut berkembang, gagal, beradaptasi, dan bertahan melalui semua rintangan. Dari situ kita akan mendapatkan pelajaran dan inspirasi.
Meningkatkan kemampuan berempati
Dilansir dari blog penulis dan life coach Smita Das Jain, kisah-kisah fiksi dapat meningkatkan empati pembacanya dengan sangat baik.
Saat kita bertemu dan mengetahui kisah dari tokoh-tokoh fiksi, kita mengembangkan pemahaman dan belas kasih yang lebih dalam terhadap orang lain. Karena secara tidak langsung kita menempatkan diri ke posisi orang lain.
Dengan menyaksikan kemenangan, perjuangan dan emosi mereka, kita belajar untuk berhubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan budaya.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
