
Perilaku orang yang mementingkan diri sendiri menurut psikologi
JawaPos.com – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama. Dalam psikologi, sikap mementingkan diri sendiri bisa muncul dalam berbagai bentuk.
Terkadang, perilaku mementingkan diri sendiri ini tidak selalu disadari oleh pelakunya, tetapi dampaknya bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Beberapa tanda tertentu dapat menunjukkan bahwa seseorang memiliki kecenderungan ini, baik dalam interaksi sosial, hubungan kerja, maupun dalam lingkungan keluarga.
Dilansir dari geediting.com pada Kamis (20/2), diterangkan bahwa terdapat delapan perilaku yang kerap ditampilkan oleh orang yang mementingkan diri sendiri menurut psikologi.
1. Selalu mengembalikan percakapan ke diri sendiri
Pernahkah kamu berbagi cerita dengan seseorang, hanya untuk mendapati mereka langsung menyela dengan pengalaman serupa atau bahkan lebih dramatis? Orang-orang seperti ini sebenarnya tidak bermaksud jahat, mereka hanya mencoba menghubungkan diri dengan pengalamanmu melalui kisah pribadi.
Namun alih-alih membuatmu merasa didengarkan, sikap ini justru terkesan mengabaikan, seolah pengalamanmu tidak sepenting pengalaman mereka. Seiring waktu, kebiasaan ini membuat percakapan terasa berat sebelah, mengubah setiap diskusi menjadi monolog tentang kehidupan mereka.
2. Jarang mengajukan pertanyaan lanjutan
Pernahkah kamu bertemu teman yang bisa menumpahkan segala keluh kesah berjam-jam, tapi ketika giliranmu berbagi, mereka hanya mengangguk, berkata “Oh, gila ya,” lalu mengarahkan percakapan kembali ke topik tentang diri mereka?
Ciri khas orang seperti ini adalah mereka hampir tidak pernah menunjukkan ketertarikan dengan mengajukan pertanyaan lanjutan tentang ceritamu. Mereka tidak penasaran tentang bagaimana perasaanmu atau apa yang terjadi selanjutnya.
Meski umumnya mereka tidak sengaja mengabaikan orang lain—mereka hanya terlalu fokus pada pikiran sendiri. Dalam hubungan yang sehat, rasa ingin tahu harusnya timbal balik, dan ketika tidak demikian, bisa membuat orang lain merasa tidak dianggap.
3. Mendominasi percakapan tanpa menyadarinya
Ada orang-orang yang lebih banyak bicara daripada mendengar, dan mereka bahkan tidak menyadari kebiasaan itu. Mereka mungkin menyela, berbicara menimpa orang lain, atau bermonolog panjang tanpa memperhatikan bahwa tidak ada yang berbicara selain mereka.
Dalam situasi berkelompok, ini menciptakan ketidakseimbangan di mana satu orang mendapatkan sebagian besar waktu bicara sementara yang lain berjuang untuk menyampaikan pendapat.
Riset menunjukkan bahwa dalam percakapan, orang cenderung melebih-lebihkan seberapa besar ketertarikan orang lain pada apa yang mereka bicarakan. Ini berarti seseorang yang terlalu banyak bicara mungkin tulus percaya mereka sedang membangun percakapan menarik, bukan mendominasi.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
