
Ilustrasi seseorang yang selalu dituntut sempurna sejak kecil. (Freepik).
JawaPos.com - Sejak kecil, kita diajarkan untuk selalu melakukan yang terbaik. Namun, bagi sebagian orang, melakukan yang terbaik tidak pernah cukup. Setiap kesalahan terasa seperti kegagalan, setiap pencapaian harus sempurna, dan tekanan untuk memenuhi standar yang tinggi terus menghantui.
Tekanan semacam ini tidak serta-merta hilang saat seseorang tumbuh dewasa. Sebaliknya, hal ini justru membentuk cara berpikir, bertindak, bahkan cara mereka menilai diri sendiri hingga dewasa.
Dilansir dari News Reports pada senin (10/2), jika kamu salah satu dari mereka yang mengalami tuntutan kesempurnaan sejak kecil, mungkin kamu akan mengenali delapan perilaku berikut ini dalam dirimu:
Tidak peduli seberapa besar pencapaian yang diraih, rasanya selalu ada yang kurang. Meskipun berhasil mencapai target besar, mendapat pujian, atau bahkan melampaui ekspektasi, tetap ada dorongan untuk menetapkan standar baru yang lebih tinggi.
Hal ini terjadi karena sejak kecil, nilai diri mereka diukur dari pencapaian. Kesempurnaan adalah keharusan, dan segala sesuatu yang kurang dari itu dianggap sebagai kegagalan. Akibatnya, mereka kesulitan menikmati keberhasilan dan lebih fokus pada hal berikutnya yang harus dibuktikan.
Membuat kesalahan, sekecil apa pun, terasa seperti bencana. Sejak kecil, mereka terbiasa menghindari kesalahan dengan segala cara.
Bahkan saat dewasa, mereka terus menghabiskan waktu untuk memeriksa ulang pekerjaan, mengulang-ulang percakapan dalam pikiran, atau khawatir berlebihan sebelum mengirim pesan atau email.
Tekanan untuk selalu benar ini sangat melelahkan, tetapi sudah tertanam dalam diri mereka sejak kecil bahwa kesalahan bukanlah pilihan.
Baca Juga: Menteri Bahlil Siapkan Kepmen yang Wajibkan Eksportir Batu bara Gunakan HBA
Bagi banyak orang, istirahat adalah waktu untuk mengisi ulang energi. Namun, bagi mereka yang sejak kecil selalu dituntut sempurna, berhenti sejenak justru memunculkan rasa bersalah.
Otak mereka terbiasa menghubungkan pencapaian dengan nilai diri. Jika pujian hanya datang setelah kesuksesan, mereka akan merasa harus terus produktif agar dihargai. Akibatnya, mereka cenderung bekerja berlebihan, rentan terhadap kelelahan, dan merasa cemas saat tidak melakukan apa-apa.
Mendapat kritik bukan hal yang mudah, tetapi bagi mereka yang sejak kecil dipaksa untuk sempurna, kritik terasa seperti serangan pribadi. Kesalahan bukan hanya dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki, tetapi sebagai sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara.
Akibatnya, bahkan kritik yang membangun pun bisa membuat mereka merasa gagal, malu, atau cemas, karena seolah-olah membuktikan bahwa mereka tidak cukup baik.
Mereka sering menganggap bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Sejak kecil, mereka terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, karena takut dianggap tidak kompeten jika meminta bantuan.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
