Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Februari 2025 | 03.26 WIB

Kucing Hitam Dalam Sejarah: Membongkar Kepercayaan Populer dari Pembawa Sial hingga Simbol Keberuntungan

Ilustrasi kucing hitam. (pixabay.com) - Image

Ilustrasi kucing hitam. (pixabay.com)

JawaPos.com–Sepanjang sejarah, kucing hitam dianggap sebagai pembawa sial, terutama ketika Halloween populer di kalangan masyarakat. Mitos ini memiliki akar yang dalam dalam sejarah manusia, terutama di Mesir kuno.

Kucing dianggap sebagai simbol ketuhanan. Dalam mitologi Yunani, kucing juga terkait dengan dewi sihir, yang disebut dengan Dewi Hecate.

Cerita rakyat Eropa menganggap kucing sebagai makhluk gaib yang membantu penyihir. Pada abad ke-13, sebuah dokumen gereja bernama Vox in Rama menyebut kucing hitam sebagai inkarnasi setan. Dokumen dikeluarkan Paus Gregorius IX dan menandai awal inkuisisi serta perburuan penyihir di Eropa, yang awalnya ditujukan untuk menghancurkan kultus Luciferian di Jerman.

Dilansir dari laman nationalgeographic.grid.id, berikut beberapa kepercayaan  bahwa kucing hitam adalah simbol yang buruk di kalangan Masyarakat.

- Kucing dianggap sebagai penyebar wabah dalam sejarah manusia. Selama Abad Pertengahan, beberapa orang membunuh kucing karena menganggapnya terkait dengan kejahatan dan menyebarkan wabah pes. Namun, tindakan ini justru memperburuk situasi, karena kurangnya kucing menyebabkan populasi hewan pengerat meningkat dan penyakit menyebar lebih cepat.

- Kucing hitam dan penyihir dipandang sebagai ancaman bagi gereja Kristen awal. Penyihir adalah praktisi pangan yang dihormati alam dan hewan di Eropa. Ketika gereja mulai berkuasa, mereka menganiaya penyihir, menganggap mereka sebagai pesaing.

Perempuan tua yang memiliki kucing sering kali dianggap sebagai penyihir, dan hubungan antara kucing dan penyihir menjadi semakin kuat. Kemandirian kucing, yang berbeda dengan anjing yang ramah, menyebabkan pandangan negatif terhadap mereka. Kucing hitam khususnya dianggap sebagai simbol dari hubungan ini, meskipun asal mula mitos ini tidak sepenuhnya jelas.

Ketakutan terhadap kucing hitam menyebar ke seluruh Atlantik, terutama melalui penjajah Puritan. Diyakini bahwa penyihir dapat berubah menjadi makhluk gaib, sehingga memiliki kucing dianggap melambangkan sihir.

- Mitos bahwa kucing hitam membawa nasib buruk berkembang di Eropa abad pertengahan. Banyak orang percaya bahwa kucing hitam yang melintas di depan mereka adalah penyamaran penyihir atau iblis, yang menyebabkan mereka merasa takut dan ingin mendapatkan berkah dari pendeta.

Meski demikian, tidak semua budaya memandang kucing hitam sebagai pembawa sial. Beberapa budaya, seperti di Mesir kuno, menganggap kucing hitam sebagai simbol dewi, sementara di Skotlandia dan Jepang, kucing hitam dianggap membawa keberuntungan. Jadi, pandangan terhadap kucing hitam bervariasi dalam sejarah manusia.

Kucing hitam sering dianggap kurang menarik dan dipercaya membawa sial. Namun, kucing hitam sangat penyayang dan suka bermain. Berikut beberapa fakta menarik tentang kucing hitam yang dipercaya sebagian masyarakat, seperti yang dilansir dari laman hellosehat.com.

  1. Pembawa keberuntungan

Di beberapa negara, kucing hitam dianggap sebagai simbol keberuntungan. Di Jepang, jika sutradara melihat kucing hitam di teater pada malam pembukaan, pertunjukan dianggap akan sukses. Di Inggris, kucing hitam di kapal menandakan keberuntungan, tetapi jika kucing itu pergi, itu bisa menjadi tanda buruk.

  1. Kucing dianggap sebagai dewi

Di Mesir kuno, kucing, termasuk kucing hitam, dianggap sebagai hewan suci. Dewi Bastet, pelindung rumah dari roh jahat, digambarkan memiliki tubuh manusia dan kepala kucing hitam. Karena itu, membunuh kucing, bahkan secara tidak sengaja, bisa dihukum mati dan kucing yang mati akan dimurnikan dan dikuburkan.

  1. Mudah berburu di malam hari

Kucing hitam memiliki kemampuan berburu lebih baik di malam hari karena bulunya yang gelap membuatnya sulit terlihat.

  1. Lebih sehat dibandingkan kucing lain

Kucing hitam dikatakan lebih sehat karena memiliki gen yang membantu melawan penyakit, namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikannya.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore