Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Februari 2025 | 00.44 WIB

6 Penyebab yang Membuat Anak menjadi Tantrum dan Perlu Diperhatikan supaya Dapat Ditangani dengan Tepat

Ilustrasi anak menangis. (freepik.com) - Image

Ilustrasi anak menangis. (freepik.com)

JawaPos.com - Tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal pada anak-anak. Meskipun demikian, apabila anak mengalami kesulitan dalam mengatur emosinya, sangat penting untuk memahami apa yang menjadi penyebabnya dan memberikan bantuan yang diperlukan.

Dengan dukungan dan pemahaman yang tepat, anak-anak dapat belajar cara mengelola perasaan mereka dengan lebih efektif, sehingga mereka bisa menghadapi situasi emosional dengan cara yang lebih sehat di masa depan. Mengutip childmind.org, berikut ini berbagai penyebab yang membuat anak menjadi tantrum dan perlu diperhatikan supaya dapat ditangani secara baik.

1. ADHD

Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh Amy Roy, PhD, dari Universitas Fordham, menemukan bahwa lebih dari 75 persen anak yang sering mengalami ledakan amarah yang parah juga memenuhi kriteria untuk ADHD. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa anak-anak tersebut sudah didiagnosis dengan ADHD sebab gangguan ini bahkan bisa terabaikan pada anak-anak yang memiliki riwayat perilaku agresif.

Vasco Lopes, PsyD, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa gejala-gejala seperti kesulitan dalam fokus, ketidakmampuan menyelesaikan tugas, dan intoleransi terhadap kebosanan, dapat berkontribusi pada peningkatan ledakan emosi. Oleh sebab itu, sangat penting guna memahami penyebab yang mendasari perilaku tersebut.

2. Kecemasan

Kecemasan juga merupakan faktor penyebab utama lainnya. Meskipun anak-anak mungkin tidak mengalami gangguan kecemasan yang parah, mereka bisa tetap bereaksi berlebihan terhadap situasi yang menyebabkan kecemasan dan menjadi marah saat merasa stres.

Anak-anak yang memiliki gangguan belajar yang belum terdiagnosis, atau yang telah mengalami trauma atau pengabaian, seringkali bereaksi dengan cara ini saat mereka dihadapkan pada situasi yang menimbulkan rasa tidak nyaman atau menyakitkan. Reaksi ini bisa jadi cara mereka mengatasi perasaan yang sulit dihadapi atau dipahami.

3. Masalah belajar

Jika anakmu sering memperlihatkan perilaku buruk yang berulang di sekolah atau saat mengerjakan pekerjaan rumah, ada kemungkinan mereka memiliki gangguan belajar yang belum terdiagnosis. Sebagai contoh, mereka mungkin mengalami kesusahan besar dengan matematika, dan soal-soal matematika mampu membuat mereka merasa sangat frustrasi dan cepat marah.

Daripada meminta bantuan, mereka mungkin merobek tugas atau mencoba mengalihkan perhatian dengan berbicara atau bekerja sama dengan teman lain, demi menghindari masalah yang sebenarnya mereka hadapi. Sikap ini bisa menjadi cara mereka menghindari perasaan tertekan atau merasa tidak mampu dalam menyelesaikan tugas tersebut.

4. Depresi dan mudah tersinggung

Depresi dan sifat mudah tersinggung juga dapat terjadi pada sebagian kecil anak-anak yang sering mengalami amukan. Sebuah gangguan baru yang dikenal dengan gangguan disregulasi suasana hati yang mengganggu (DMDD) menggambarkan anak-anak yang sering marah dengan perasaan mudah tersinggung yang bersifat kronis.

Dr. Lopes menerangkan bahwa, "Anak-anak yang sangat mudah tersinggung seperti air yang mendidih pada suhu 90° selalu siap meledak." Orang tua dari anak-anak ini cenderung selalu berhati-hati, karena anak-anak tersebut sering merespons hal-hal kecil atau perubahan kecil yang tidak sesuai dengan keinginan mereka dengan cara yang berlebihan.

5. Autisme

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore