Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Januari 2025 | 04.16 WIB

Mengenal Fenomena Love Bombing, Taktik Manipulasi Berkedok Cinta

Ilustrasi pasangan - Image

Ilustrasi pasangan

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa terlalu cepat jatuh cinta? Meski terdengar romantis, perasaan euforia yang intens ini bisa jadi sinyal bahaya. Pasalnya, perasaan itu lambat laun akan berubah menjadi situasi yang menguras emosi.

Fenomena ini dikenal sebagai love bombing, taktik manipulasi emosional yang sering kali disalah artikan sebagai cinta sejati. Love bombing bisa diartikan sebagai bentuk kontrol terselubung yang digunakan untuk membuat seseorang merasa terikat dan tergantung.

Lalu, seperti apa itu love bombing, siapa saja yang rentan menjadi korban, dan bagaimana mengenali tanda-tandanya? Berikut ulasannya yang telah dirangkum dari Psychology Today, Jumat (24/1).

Apa Itu Love Bombing?

Love bombing adalah perilaku yang memberikan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan untuk menciptakan ilusi cinta mendalam atau membuat seseorang tergila-gila. Perilaku ini bisa berisiko manipulatif dimana pelaku mengendalikan seseorang melalui pujian berlebihan atau hadiah yang tidak proporsional.

Perilaku ini mulai tidak sehat bila pelaku menggunakan cara ini untuk mendapatkan kendali atas korbannya, membuatnya merasa terikat, dan akhirnya tergantung pada hubungan tersebut. Parahnya, tujuan sebenarnya bukan cinta, melainkan kekuasaan atas korban.

Siapa yang Rentan Terjebak dalam Love Bombing?

Love bombing sering kali menargetkan mereka yang merasa kesepian, baru saja bercerai, atau memiliki harga diri rendah. Orang-orang yang tumbuh dalam keluarga disfungsional atau memiliki pengalaman cinta yang tidak sehat juga lebih rentan menjadi korban.

Sementara pelaku biasanya memiliki ciri-ciri seperti, rasa tidak aman yang mendalam, ketergantungan emosional pada pasangan, gaya keterikatan yang cemas, dan kecenderungan berperilaku narsistik.

Tanda-Tanda Love Bombing

Memberikan Hadiah Berlebihan: Anda baru saja bertemu, tetapi sudah menerima perhiasan, bunga, atau tawaran liburan mewah.

Mendesak Hubungan: Pelaku ingin mempercepat komitmen, seperti mengatakan "Aku cinta kamu" terlalu cepat.

Menuntut Perhatian: Pelaku memaksa Anda memberikan waktu dan perhatian, bahkan saat Anda sibuk.

Mengabaikan Batasan: Mereka sulit menerima "tidak" dan terus mendesak.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore