
Ilustrasi lampu Lalu lintas.
JawaPos.com - Lampu lalu lintas merupakan bagian penting ketika berkendara. Di setiap jalan yang dilalui pasti terdapat warna merah, kuning, dan hijau menjadi sinyal universal untuk mengatur kelancaran lalu lintas.
Lalu, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa warna-warna ini yang dipilih? Mengapa tidak menggunakan warna lain? Jawabannya ternyata menyimpan sejarah panjang dan logika yang menarik.
Ternyata, selain menjadi pengatur lalu lintas, lampu merah, kuning, dan hijau juga mencerminkan perjalanan panjang inovasi teknologi dan psikologi manusia. Tapi, bagaimana warna-warna ini menjadi standar global untuk sistem lalu lintas?
Dalam artikel ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai sejarah, dan filosofi di balik pemilihan warna lampu lalu lintas, yang dirangkum dari Readers Digest, Kamis (23/1).
Awal Mula Lampu Lalu Lintas
Sebelum ada lampu lalu lintas untuk kendaraan, kereta api adalah moda transportasi utama yang membutuhkan sinyal lalu lintas. Pada awalnya, kereta menggunakan merah untuk berhenti, hijau untuk hati-hati, dan putih untuk jalan.
Namun, warna putih sering menyebabkan kebingungan, terutama di malam hari ketika bisa tertukar dengan cahaya bintang. Akhirnya, hijau dipilih untuk menggantikan putih, dan kuning digunakan sebagai tanda hati-hati.
Di Amerika Serikat, lampu lalu lintas pertama kali muncul pada 1920-an seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan di jalan. William Potts, seorang polisi di Detroit, menciptakan lampu lalu lintas tiga warna pertama di dunia untuk mengatur lalu lintas di persimpangan jalan.
Standar warna merah, kuning, dan hijau kemudian ditetapkan pada 1935 untuk seluruh negara, memastikan sistem lalu lintas seragam di mana pun.
Mengapa Merah untuk Berhenti?
Pemilihan warna merah sebagai tanda berhenti memiliki alasan ilmiah yang kuat. Merah memiliki panjang gelombang terpanjang di antara warna lainnya, sehingga dapat terlihat dari jarak yang lebih jauh. Hal ini membuatnya ideal sebagai sinyal peringatan bagi pengendara. Selain itu, merah secara psikologis diasosiasikan dengan bahaya, yang memperkuat pesan bahwa pengendara harus berhenti.
Sementara, warna kuning dipilih sebagai peringatan karena lebih pendek gelombangnya dibanding merah tetapi masih cukup terlihat, memberikan jeda waktu bagi pengendara untuk memperlambat kendaraan.
Sedangkan, hijau digunakan untuk tanda aman karena secara alami diasosiasikan dengan kelancaran dan kondisi aman, meskipun panjang gelombangnya paling pendek dibandingkan dua warna lainnya.
Evolusi dan Pengaruh Budaya
Kini, lampu lalu lintas telah menjadi simbol universal yang diadopsi di hampir seluruh dunia, meskipun ada pengecualian seperti di Jepang, yang menggunakan warna biru kehijauan untuk tanda jalan.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
