
ilustrasi orang mendengarkan musik. ( freepik)
JawaPos.com - Apakah Anda pernah merasa lebih tenang setelah mendengarkan lagu favorit Anda? Atau mungkin energi Anda kembali pulih setelah menyenandungkan lagu-lagu dengan ritme yang menggugah semangat?
Ternyata, musik bukan hanya soal hiburan. Dilansir dari laman yourtango.com, penelitian terbaru menunjukkan bahwa musik dapat menjadi 'obat' yang efektif untuk kesehatan tubuh dan pikiran kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan musik untuk memengaruhi suasana hati. Misalnya, mendengarkan lagu-lagu melankolis saat galau atau menyetel playlist penuh energi untuk menyemangati diri di pagi hari.
Namun, siapa sangka, musik ternyata juga memiliki manfaat terapeutik yang signifikan. Bahkan, para peneliti kini semakin mendalami potensi musik sebagai alat pengobatan, yang suatu hari nanti mungkin diresepkan oleh dokter.
Salah satu penelitian menarik dilakukan oleh Memorial Sloan Kettering Cancer Center. Penelitian ini membandingkan efek terapi musik live dengan musik rekaman pada pasi
en kanker. Hasilnya mencengangkan: musik live mampu meningkatkan semangat dan meredakan stres serta ketegangan lebih baik dibandingkan musik rekaman.
Saat mendengarkan musik live, pasien cenderung lebih aktif secara fisik dan mental, karena perhatian mereka terfokus pada pertunjukan di depan mata. Efek ini membantu mereka melupakan sejenak rasa sakit dan tekanan yang dirasakan.
Tidak hanya itu, musik juga menunjukkan potensi besar dalam membantu pasien dengan gangguan neurologis. Sebuah artikel di The Atlantic menyebutkan bahwa pasien penyakit Parkinson, yang mengalami gangguan gerakan dan keterampilan motorik, menunjukkan perbaikan signifikan saat mendengarkan musik berirama atau dengan ketukan tetap.
Musik membantu mereka berjalan lebih stabil, membuktikan bahwa pengaruh ritme dapat mengatasi beberapa gejala penyakit ini.
Penelitian ini menegaskan bahwa musik tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga memengaruhi tubuh secara fisik. Meski begitu, para ahli seperti Ketki Karanam, salah satu pendiri The Sync Project, mencatat bahwa masih dibutuhkan lebih banyak data objektif untuk memahami bagaimana musik bekerja pada tubuh kita.
Saat ini, The Sync Project tengah mengembangkan teknologi yang dapat merekomendasikan jenis musik yang paling sesuai untuk suasana hati dan kondisi tertentu.
Bayangkan, suatu hari nanti kita bisa mengetahui lagu yang tepat untuk membantu meredakan nyeri atau menghilangkan stres hanya dengan menggunakan aplikasi.
Jika penelitian ini terus berkembang, mungkin tidak lama lagi dokter akan meresepkan lagu Taylor Swift’s “Shake It Off” untuk mengatasi pilek atau menyarankan konser live untuk memulihkan semangat.
Dunia medis dan seni musik tampaknya semakin dekat, membuka peluang baru dalam cara kita memahami dan merawat kesehatan tubuh dan jiwa.
***

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
