
Ilustrasi angpau, Imlek. (Photo by RDNE Stock projec/Pexels)
JawaPos.com - Berdasarkan kalender Masehi, perayaan Imlek 2025 akan jatuh pada hari Rabu, 29 Januari. Tahun ini, menurut kalender Lunar, akan memasuki Tahun Ular Kayu.
Saat Imlek tiba, tradisi berkumpul bersama keluarga menjadi momen yang tak terlewatkan. Persiapan untuk merayakan pun dimulai.
Salah satu tradisi yang sudah ada sejak lama dan menjadi ciri khas perayaan Imlek adalah pemberian angpau dengan amplop merah.
Tradisi ini selalu dinantikan oleh banyak orang, khususnya bagi mereka yang merayakan Imlek.
Menurut informasi dari Binus University yang dikutip JawaPos pada Rabu (22/1), angpau adalah pemberian uang tunai yang biasanya diberikan kepada anak-anak atau generasi muda yang belum menikah.
Bagi masyarakat Tionghoa, warna merah dianggap sebagai simbol keberuntungan. Oleh karena itu, pemberian angpau diharapkan membawa kebahagiaan dan berkah bagi penerimanya.
Pemberian angpau memiliki makna yang mendalam dan aturan khusus yang perlu diperhatikan. Salah satu aturan penting adalah tidak memberikan uang dengan nominal ganjil, karena dianggap berhubungan dengan kematian.
Selain itu, pemberian uang yang jumlah totalnya mengandung angka empat juga sebaiknya dihindari, karena angka tersebut dianggap melambangkan kematian.
Sekarang kita akan mengulas lebih lanjut mengenai sejarah di balik tradisi pemberian amplop merah ini.
Sejarah Pemberian Angpau
Pemberian angpau sudah ada sejak zaman Dinasti Qin (sekitar 221-206 SM). Pada masa itu, angpau berupa koin berlubang yang diikat dengan benang merah, dan disebut ‘yā suì qián’, yang berarti uang keberuntungan untuk mengusir roh jahat.
Orang tua memberikan 'yā suì qián kepada anak-anak mereka dengan harapan agar terhindar dari kesialan. Tradisi ini umumnya dilakukan saat anak-anak akan meninggalkan rumah.
Seiring waktu, koin dan benang merah itu berubah menjadi uang yang dimasukkan dalam amplop merah atau angpau. Tradisi memberikan angpau pada saat Imlek sebenarnya bermula dari sebuah legenda tentang iblis jahat bernama Sui.
Dalam cerita tersebut, Sui muncul pada malam Tahun Baru untuk menyakiti anak-anak. Jika kepala seorang anak yang sedang tidur tersentuh oleh Sui, anak tersebut akan jatuh sakit dan bisa meninggal dunia.
Untuk menghindari hal tersebut, orang tua meletakkan koin yang terikat benang merah di dekat tempat tidur anak mereka.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
