
Ilustrasi seseorang yang sedang marah dan frustasi. (cookie_studio/freepik)
JawaPos.com – Kemarahan dan dendam sering kali muncul sebagai respons terhadap perasaan disakiti atau diperlakukan tidak adil.
Meskipun keduanya adalah emosi alami, cara kita mengelolanya memiliki dampak besar pada kesehatan mental dan kualitas hidup kita.
Apakah kita membiarkan kemarahan merusak hari-hari kita atau mengubahnya menjadi peluang untuk pertumbuhan?
Begitu juga dengan dendam, yang jika tidak dikelola dengan bijak, bisa berpotensi membebani diri sendiri.
Psikolog menyarankan bahwa penting untuk memahami dan mengelola kemarahan serta dendam dengan cara yang lebih sehat dan positif.
Kemarahan sebagai Emosi Sekunder
Dilansir dari laman Psychology Today, kemarahan merupakan emosi sekunder yang muncul sebagai respons terhadap perasaan sakit hati, takut, atau tidak mampu.
Emosi ini dapat terbentuk secara instan dan tidak disadari. Ketika seseorang merasa rentan atau terancam, energi dan perhatian mereka terfokus ke dalam diri, dan kemarahan muncul sebagai cara untuk menanggulangi emosi yang lebih dalam.
Menurut Psychology Today kemarahan memiliki beberapa tujuan pertahanan yang berbeda, antara lain:
1. Menangkis Emosi yang Tidak Nyaman
Kemarahan berfungsi sebagai perisai yang menghalangi perasaan-perasaan negatif yang lebih mendalam, seperti kesedihan atau ketakutan. Saat kita merasa terancam atau disakiti, emosi-emosi tersebut bisa menjadi sulit dihadapi. Oleh karena itu, kemarahan hadir sebagai cara untuk menghindari atau menjauhkan diri dari emosi yang lebih rentan dan tidak nyaman.
2. Memberikan Rasa Kekuatan dan Kontrol
Dalam menghadapi perasaan terancam, kemarahan dapat memberikan ilusi kekuatan dan kontrol atas situasi yang tidak menyenangkan. Emosi ini sering kali memberikan rasa mampu mengendalikan keadaan yang sebelumnya tampak tidak terkendali. Dengan merasakan kekuatan dalam diri, kita cenderung merasa lebih mampu untuk menghadapi tantangan atau ancaman yang datang.
3. Mengalihkan Fokus ke Eksternal
Kemarahan memungkinkan kita untuk mengalihkan perhatian dari diri sendiri kepada pihak eksternal, seperti individu atau kelompok lain yang dianggap bertanggung jawab. Hal ini memberi kita kesempatan untuk fokus pada tindakan orang lain yang dianggap salah, alih-alih melihat ke dalam diri kita sendiri. Dengan cara ini, kemarahan sering kali menjauhkan kita dari introspeksi yang lebih mendalam tentang diri dan perasaan kita.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
