
Pelaku gaslighting biasa menggunakan beberapa frasa dengan tujuan membuat korbannya meragukan diri sendiri, baik itu terkait emosi, ingatan, atau persepsi mereka. (pexels.com)
JawaPos.com - Perilaku gaslighting adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis yang sering kali sulit dikenali. Pelaku gaslighting memiliki tujuan membuat korbannya meragukan diri sendiri, baik itu terkait emosi, ingatan, atau persepsi mereka.
Dampaknya tidak main-main, karena dapat merusak kesehatan mental dan membuat korban merasa tidak percaya diri dalam menilai realitas.
Jika Anda sering mendengar frasa-frasa tertentu yang terasa seperti meremehkan atau membatalkan perasaan Anda, waspadalah! Bisa jadi, Anda sedang menjadi korban gaslighting.
Dilansir dari laman Hack Spirit pada Kamis (16/1) berikut adalah 5 frasa yang sering digunakan pelaku gaslighting untuk memanipulasi korbannya.
Ketika Anda mengungkapkan perasaan Anda atau menunjukkan bahwa sesuatu melukai Anda, pelaku gaslighting sering merespons dengan mengatakan, "Kamu baperan." Frasa ini secara tidak langsung menyalahkan Anda atas perasaan Anda sendiri, seolah-olah emosi Anda adalah masalahnya, bukan tindakan mereka.
Padahal, setiap orang berhak merasakan apa yang mereka rasakan. Namun, pelaku gaslighting sengaja menggunakan taktik ini untuk mengalihkan perhatian dari perilaku mereka sendiri yang tidak pantas.
Lambat laun, korban bisa merasa bahwa emosi mereka tidak valid, yang tentu saja berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.
Saat Anda mengungkit sebuah peristiwa yang membuat Anda merasa sakit hati, pelaku gaslighting sering kali merespons dengan menyangkal bahwa hal itu pernah terjadi. "Kamu mengada-ngada, saya tidak ingat kejadian itu," adalah salah satu frasa yang paling sering digunakan.
Ini bukan karena mereka benar-benar lupa, melainkan cara mereka untuk membuat Anda meragukan ingatan Anda sendiri. Akibatnya, Anda mungkin mulai mempertanyakan apakah Anda salah mengingat sesuatu, dan bahkan merasa bersalah karena telah membahasnya.
Frasa ini adalah bentuk manipulasi psikologis yang dapat membuat korban kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.
Pelaku gaslighting juga sering menggunakan frasa ini untuk meremehkan emosi korban. Dengan mengatakan bahwa Anda "gila" atau "bereaksi berlebihan," mereka mencoba membuat Anda merasa tidak rasional.
Yang menarik, tuduhan ini sering kali justru memicu stres dan emosi negatif yang lebih kuat, sehingga semakin membuat korban merasa tidak terkendali.
Jika ini terjadi terus-menerus, korban bisa mulai menekan perasaan mereka sendiri karena takut dianggap "berlebihan." Padahal, emosi yang dirasakan adalah reaksi yang wajar terhadap perilaku pelaku.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
