
ilustrasi seseorang yang tidak pernah mendapat banyak like di media sosial. (freepik)
JawaPos.com – Komunikasi digital telah berkembang pesat, menawarkan kemudahan dan kecepatan dalam menjalin interaksi. Namun, di tengah berbagai keuntungan, muncul fenomena menarik: penghindaran pesan langsung (DM). Apakah ini sekadar tren, atau justru mencerminkan perubahan mendalam dalam cara kita berinteraksi di dunia digital?
Berikut adalah faktor-faktor utama yang mendasari fenomena ini dan bagaimana hal tersebut memengaruhi tingkat stres seseorang dalam komunikasi digital.
Komunikasi asinkron memungkinkan individu untuk merespons pesan di waktu yang nyaman tanpa tekanan untuk membalas secara instan.
Menurut laporan dari Preply, catatan suara sering dipilih sebagai alternatif pesan teks karena menawarkan komunikasi yang lebih bernuansa dan fleksibel. Hal ini membantu mengurangi stres akibat ekspektasi respons cepat di DM.
Banjir notifikasi dan informasi dari berbagai platform digital sering kali menyebabkan digital fatigue atau kelelahan digital.
Penelitian yang dikutip dari Refinery29 menunjukkan bahwa penggunaan berlebihan platform digital dapat memicu kecemasan dan stres. Menghindari DM menjadi salah satu cara individu mengurangi rangsangan berlebih dan memelihara kesehatan mental.
DM dianggap lebih personal dibandingkan bentuk komunikasi digital lainnya, sehingga beberapa individu memilih untuk membatasi aktivitas mereka di platform ini.
Menurut I-D Magazine, catatan suara dianggap lebih intim dibandingkan teks biasa, memungkinkan kontrol yang lebih baik atas cara berkomunikasi tanpa merasa terlalu terekspos.
Voice notes atau catatan suara menjadi pilihan populer sebagai alternatif DM. Media ini memungkinkan ekspresi emosi dan intonasi yang lebih baik, menciptakan pengalaman komunikasi yang lebih autentik.
Seperti yang dikutip dari Preply, catatan suara menawarkan fleksibilitas dan nuansa komunikasi yang lebih efisien dibandingkan teks.
Di era digital, ada ekspektasi sosial yang kuat untuk selalu terhubung dan responsif. Hal ini sering memicu stres dan kecemasan, terutama di kalangan generasi muda.
Laporan dari Refinery29 mencatat bahwa tekanan untuk selalu aktif di dunia maya mendorong individu untuk menetapkan batasan dalam interaksi digital mereka, salah satunya dengan menghindari DM.
Fenomena penghindaran DM adalah cerminan dari dinamika komunikasi modern. Preferensi terhadap komunikasi asinkron, munculnya bentuk komunikasi alternatif, serta keinginan untuk menjaga kesehatan mental menjadi alasan utama di balik tren ini.
Dalam era digital yang semakin kompleks, memahami fenomena ini penting untuk menciptakan interaksi yang lebih sehat dan bermakna, sekaligus menjaga keseimbangan antara kehidupan online dan offline.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
