
Ilustrasi pemantauan penggunaan digital anak. (Pexels)
JawaPos.com – Di zaman di mana perangkat digital telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita, tantangan dalam mengelola waktu anak-anak di depan layar menjadi semakin sulit.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dapat menghabiskan hingga delapan jam sehari di depan layar dan menyerap semua informasi pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Dilansir dari Times of India, data penggunaan digital memfokuskan bahwa anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktu mereka terjebak dalam dunia digital, seringkali mereka mengorbankan kegiatan perkembangan penting lainnya.
Namun, makna sebenarnya dari masalah ini tidak terletak pada durasi penggunaan, tetapi pada dampak besar yang dapat ditimbulkan oleh kecanduan digital pada proses-proses rumit dan formatif yang berlangsung dalam otak yang sedang berkembang.
Saat anak-anak dan remaja menjalani tahun-tahun kritis kematangan emosional dan sosial mereka, jalur-jalur saraf mereka mengalami perubahan yang cepat. Khususnya, pada usia-usia pra-remaja yang ditandai oleh lonjakan reseptor untuk dopamin.
Neurotransmitter ‘rasa senang’, di bagian otak tertentu yang dikenal sebagai ventral striatum. Pengertian neurologis ini membuat anak-anak sangat rentan terhadap daya tarik validasi sosial, termasuk perhatian dan persetujuan teman-teman mereka.
Ini bisa terjadi ketika anak-anak terus melihat layar digital, yaitu sebuah dinamika yang secara sadar di eksploitasi oleh platform media sosial.
Bahaya kecanduan digital
Ketika anak-anak dan remaja semakin beralih ke perangkat digital untuk hiburan, koneksi, dan validasi, mereka menjadi rentan terhadap efek buruk kecanduan digital. Banyak penelitian telah mengaitkan waktu layar yang berlebihan dengan sejumlah masalah.
Ini termasuk rentang perhatian yang berkurang, gangguan keterampilan sosial, peningkatan kecemasan, dan depresi, serta bahkan perubahan yang dapat diamati dalam struktur dan fungsi dalam otak.
Mengarahkan penggunaan digital
Seorang psikolog Sonali Gupta menjelaskan bahwa dalam menghadapi tantangan yang berat ini, orang tua merasa dipercayakan dengan tanggung jawab penting untuk mengarahkan penggunaan digital dan memberdayakan anak-anak mereka untuk menjalin hubungan yang sehat dengan teknologi.
Meskipun tugas tersebut mungkin tampak berat, ada beberapa strategi praktis yang dapat digunakan orang tua untuk mengurangi resiko dan menumbuhkan pengalaman digital yang lebih seimbang.
Menetapkan batasan

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
