
Ilustrasi inner child (freepik/gratispik)
JawaPos.com - Bila anak-anak terluka secara emosional dan mental, ditelantarkan, atau bahkan disiksa di masa kanak-kanak, luka batin tersebut tidak akan pernah sembuh. Anak tersebut mungkin akan bertindak berlebihan, termasuk mengamuk, menghadapi tantangan dalam berteman, dan tetap curiga terhadap motif orang lain.
Ketika anak-anak yang terluka secara emosional ini beranjak dewasa, mereka meninggalkan beberapa perilaku masa kecil mereka, tetapi mereka masih memiliki jiwa kanak-kanak yang terluka jauh di dalam jiwa mereka.
Ketika orang dewasa dengan inner child ini stres, tertekan, atau mulai merasa kewalahan, mereka sering kembali ke pola perilaku yang sudah dikenal dan perilaku yang mereka gunakan saat masih anak-anak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Inner child yang terluka juga mungkin mendambakan perhatian dan rasa memiliki yang tidak pernah mereka alami. Dalam situasi ini, individu dengan inner child yang terluka ini mungkin menoleransi perilaku dalam hubungan yang negatif, merusak, dan kasar.
Ini adalah mekanisme koping untuk mencoba mendapatkan rasa memiliki dalam hubungan, yang merupakan sesuatu yang mereka inginkan pada tingkat emosional yang dalam. Memilih pasangan terbaik dengan memahami inner child adalah pilihan paling tepat.
Tanda-tanda seseorang punya inner child
Mengenali tanda-tanda inner child yang terluka dalam diri calon pasangan sangat penting dalam membentuk hubungan yang sehat. Meskipun mungkin untuk mengatasi rasa sakit, kemarahan, frustrasi, dan kewalahan yang diungkapkan oleh mereka, itu bukanlah sesuatu yang dapat Anda lakukan sendiri.
Dia harus mau berubah, dan ini dimulai dengan mencari terapis untuk membantu memahami inner child yang terluka dan membuat perubahan positif. Dilansir JawaPos.com dari laman Psychology Today, Jumat (18/10), berikut tanda-tanda seseorang yang masih memiliki inner child dalam dirinya.
1. Tanggapan yang tiba-tiba terhadap komentar atau kejadian negatif
Orang dewasa yang tidak fleksibel dan tidak dapat menerima kritik, komentar negatif, atau perubahan rencana atau kejadian sering kali menyimpan sisi kanak-kanak yang terluka. Waspadalah terhadap drama dan tanggapan yang ekstrem terhadap hal negatif apa pun, bahkan perubahan kecil dalam kejadian dan komentar kritis dapat menjadi pemicu.
2. Menyembunyikan emosi
Terkadang anak-anak berpura-pura menerima suatu situasi, tetapi tindakan mereka menunjukkan bahwa mereka sedang kesal. Dalam beberapa kasus, individu tersebut mungkin dapat menyembunyikan emosi atau respons mereka sepenuhnya untuk sementara waktu, lalu semuanya hancur.
Hal tersebut sering kali merupakan respons dari anak yang terluka di dalam dirinya yang mencari perhatian dan persetujuan dari orang lain.
3. Memanipulasi situasi
Manipulasi pikiran dan emosi orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan adalah perilaku umum bagi anak-anak ini. Jika dilakukan sebagai orang dewasa, hal itu menghancurkan kepercayaan dan rasa hormat dalam hubungan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
