Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 Oktober 2024 | 02.32 WIB

Menurut Psikologi, Orang-orang Cerdas Ternyata Lebih Rentan dengan Rasa Malu yang Membuat Mereka Tertekan dan Kesepian, Bagaimana Bisa?

Ilustrasi orang cerdas yang rentan dengan rasa malu dan kesepian. (Freepik)

JawaPos.Com - Orang-orang dengan kecerdasan tinggi sering kali dihadapkan pada tantangan emosional yang lebih dalam daripada yang tampak di permukaan. 

Salah satu emosi kompleks yang sering dialami oleh mereka adalah rasa malu, yang ternyata bukan hanya membuat mereka merasa terisolasi, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan psikologis yang mendalam.

Rasa malu tidak hanya berhubungan dengan ketidaknyamanan sosial; pada beberapa orang, termasuk mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, rasa malu dapat mengarah pada kesepian dan perasaan keterasingan dari lingkungan sosial.

Dikutip dari Yourtango.com, menurut Asosiasi Psikologi Amerika, rasa malu adalah "emosi yang sangat tidak menyenangkan dan disadari."

 
Rasa malu sering kali diiringi oleh keinginan untuk menarik diri dari interaksi sosial. Penarikan diri ini dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan mengganggu hubungan interpersonal seseorang. 
 
Rasa malu juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Ada rasa malu yang bersifat sementara, yang umumnya tidak berdampak signifikan pada kehidupan seseorang, dan rasa malu yang bersifat kronis, yang lebih mendalam dan dapat mempengaruhi citra diri seseorang dalam jangka panjang.

Bagi orang yang sangat cerdas, rasa malu yang bersifat kronis seringkali menjadi masalah yang lebih kompleks. 

Mereka mungkin merasa berbeda atau terasing dari orang lain, meskipun secara intelektual mereka merasa lebih unggul. 

Kondisi ini bisa menciptakan lingkaran setan di mana rasa malu menyebabkan isolasi sosial, yang pada akhirnya memperburuk rasa kesepian.

Rasa Malu dan Kesepian pada Orang Cerdas

Rasa malu yang dialami oleh orang-orang dengan kecerdasan tinggi sering kali mempengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. 

Seorang pelatih sistem saraf, Dana Doswell, menjelaskan bahwa individu yang cerdas namun memiliki rasa malu yang terinternalisasi dapat mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial. 

Mereka mungkin merasa lebih pintar atau unggul dibandingkan orang lain, tetapi di sisi lain, mereka juga merasa ada sesuatu yang salah dengan diri mereka. Perasaan ini dapat mengisolasi mereka dari lingkungan sosial dan menimbulkan kesepian yang mendalam.

Doswell juga menyebut bahwa ada dua jenis utama rasa malu yang dapat dialami seseorang yaitu rasa malu eksplisit dan rasa malu implisit.

Rasa malu eksplisit adalah rasa malu yang jelas dan terlihat. Ini bisa berupa perundungan, pelecehan verbal, atau tindakan yang memalukan secara terbuka.

Contohnya, seseorang yang dipermalukan di depan umum mungkin akan merasakan rasa malu yang eksplisit ini.

Sebaliknya, rasa malu implisit lebih sulit dikenali karena sifatnya yang tersirat. Rasa malu ini tidak datang dari tindakan atau kata-kata yang jelas memalukan, melainkan dari isyarat non-verbal seperti bahasa tubuh, nada suara, atau ekspresi wajah orang lain. 

Individu dengan rasa malu implisit sering kali mempelajari batas-batas sosial melalui pengalaman ini dan secara tidak sadar menginternalisasi apa yang dianggap memalukan oleh masyarakat.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore