Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Agustus 2024 | 16.48 WIB

Menurut Psikologi, Orang yang Dibesarkan di Keluarga yang Tidak Harmonis Menunjukkan 8 Perilaku Ini Saat Dewasa

Perilaku orang dewasa yang dibesarkan dari keluarga tidak harmonis menurut Psikologi. (Pexels/ Thnh Phng) - Image

Perilaku orang dewasa yang dibesarkan dari keluarga tidak harmonis menurut Psikologi. (Pexels/ Thnh Phng)

JawaPos.com – Menurut Psikologi, latar belakang keluarga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku seseorang saat dewasa. Orang yang dibesarkan di rumah yang tidak harmonis seringkali menunjukkan tingkah lalu tertentu yang mencerminkan pengalaman masa kecil mereka.

Psikologi mengungkapkan bahwa ruang tidak harmonis dalam keluarga dapat meninggalkan dampak emosional yang mendalam, memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain ketika dewasa. Perilaku ini bisa berupa kesulitan dalam membangun hubungan, kecenderungan untuk menarik diri, atau bahkan respons emosional yang tidak stabil.

Keluarga yang tidak harmonis sering kali menciptakan lingkungan yang penuh tekanan, dan hal ini tercermin dalam perilaku individu di masa dewasa. Beberapa tingkah laku yang biasanya ditunjukkan oleh orang yang dibesarkan di keluarga demikian dapat diidentifikasi menurut psikologi.

Dilansir dari Hack Spirit pada Jumat (30/8), dijelaskan ada delapan perilaku orang dewasa yang dibesarkan dari keluarga tidak harmonis menurut Psikologi.

  1. Hipervigilans emosional

Individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga disfungsional sering mengembangkan kemampuan luar biasa untuk membaca emosi orang lain. Kepekaan ini terbentuk sebagai mekanisme pertahanan sejak dini, memungkinkan mereka mengantisipasi potensi konflik.

Meski berguna, keterampilan ini dapat memicu kecemasan berlebih dan kecenderungan selalu berhati-hati dalam interaksi. Mengenali akar dari perilaku ini penting agar bisa dikelola lebih efektif di masa dewasa.

  1. Krisis kepercayaan

Membangun kepercayaan menjadi tantangan besar bagi mereka yang dibesarkan dalam keluarga disfungsional. Pengalaman masa kecil yang dipenuhi janji kosong dan ketidakpastian sering meninggalkan bekas mendalam, membuat mereka meragukan motif dan ketulusan orang lain.

Sikap skeptis ini dapat menimbulkan ketegangan dalam hubungan. Meski sulit, menyadari adanya masalah kepercayaan adalah langkah awal menuju penyembuhan, meski prosesnya membutuhkan waktu dan kesabaran.

  1. Obsesi kontrol

Tumbuh dalam lingkungan tidak stabil sering mendorong seseorang mengembangkan kebutuhan kuat akan kontrol. Pengasuhan yang tidak konsisten dapat menyebabkan tingginya tingkat perilaku mengontrol di masa dewasa.

Kebutuhan kontrol ini muncul dalam berbagai bentuk, dari kecenderungan mengatur orang lain secara berlebihan hingga kesulitan menghadapi perubahan atau ketidakpastian. Memahami akar dari perilaku ini dapat membantu seseorang mengelola hubungan dan pertumbuhan pribadi dengan lebih baik.

  1. Tanggung jawab berlebihan

Anak-anak dalam keluarga disfungsional sering dipaksa mengambil peran dan tanggung jawab orang dewasa sejak dini. Ini bisa mengakibatkan rasa tanggung jawab berlebihan yang terbawa hingga dewasa, membuat mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan atau masalah orang lain.

Meski sikap peduli dan bertanggung jawab patut diapresiasi, penting untuk mengenali batas-batas dan tidak mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore