Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Agustus 2024 | 02.36 WIB

Peringatan Keras Bagi Orang yang diam-diam Punya Sifat Iri, Dengki dan Hasad: Matinya Dalam Keadaan Fasik!

Ilustrasi iri dengki penyakit hati yang berdampak buruk bagi kesehatan jiwa.(Pexels/Ron Lach)

JawaPos.com - Salah satu penyakit psikologi yang sering menyerang individu adalah sifat iri dan hasad. Dalam istilah hari ini biasanya dikenal dengan istilah 'Senang melihat orang susah dan gelisah melihat orang senang'.

Islam menyebut itu sebagai perilaku hasad. Karena itu sifat ini harus benar-benar dihilangkan dari keseharian kita. 

Sebab, hasad adalah keinginan yang timbul dalam hati agar nikmat yang dimiliki oleh orang lain hilang.

Dilansir dari Dompet Dhuafa, pada masa Rasulullah Saw, ada seorang sahabat yakni Abdullah bin Ubay bin Salul yang memiliki sifat hasad terhadap Nabi. 

Ia dikenal sebagai tokoh munafik di Madinah. Ia menaruh hasad terhadap Nabi karena kedudukan dan penghormatan yang diperoleh oleh Nabi.

Awalnya, Abdullah bin Ubay yang direncanakan akan diangkat sebagai tokoh dan penguasa Madinah, namun saat Rasulullah tiba di Madinah, pengaruh Abdullah menjadi pudar. 

Akhirnya Rasulullah lah yang menjadi pemimpin Kota Madinah. Hal itu menjadi permulaan perasaan dengki Abdullah bin Ubay terhadap Rasulullah Saw.

Melansir buku 49 Teladan dalam Alquran karya Ririn Rahayu Astutiningrum, saat Abdullah bin Ubay bersama Rasulullah, ia mengaku beriman dan beribadah layaknya umat Islam. 

Namun, saat ia tak bersama Rasulullah, Abdullah kembali pada agamanya yang lama serta menjelek-jelekan umat Islam dan Rasulullah. Selain itu, Abdullah bin Ubay juga kerap mengadu domba dan menjadi provokator dalam kerusuhan.

Suatu ketika, Abdullah bin Ubay jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Lalu anak laki-lakinya yang bernama Abdillah bin Abdullah bin Ubay mendatangi Rasulullah dengan meminta kain kafan untuk ayahnya dan meminta Rasulullah untuk menyalati ayahnya. 

Dengan sifat Rasulullah yang tidak pendendam, Rasulullah mendatangi kediaman Abdullah. Namun, saat Umar melihat perbuatan Rasulullah, ia berkata: 

“Wahai Rasulullah, kenapa mau menyalatkan Abdullah bin Ubay? Padahal dia adalah seorang yang munafik. Bukankah Allah melarang untuk menyalatkan orang-orang munafik?”

Rasulullah pun menjawab bahwa apabila ia mendapat pilihan dari Allah antara mendoakan atau tidak, maka pilihan beliau adalah berdoa untuk Abdullah bin Ubay. Setelah Rasulullah menyalati jenazah Abdullah bin Ubay, turunlah ayat:

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah:84)

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore