Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 April 2024 | 16.59 WIB

Pernah Dikucilkan? Ini 5 Hal yang Harus Dilakukan untuk Bangkit Kembali dan Menjalani Kehidupan Lebih Baik

Hal yang perlu dilakukan ketika dikucilkan. /Sumber foto : Pexels/Keira Burton - Image

Hal yang perlu dilakukan ketika dikucilkan. /Sumber foto : Pexels/Keira Burton

JawaPos.com – Dikucilkan dari lingkungan sosial adalah pengalaman yang tak mengenakkan bagi seseorang.

Nahasnya, salah satu jenis bullying ini, merupakan masalah sosial yang hingga hari ini sulit dihindari.

Dikutip dari jurnal Social Influence pada Selasa (30/4), disebutkan bahwa pengucilan sendiri merupakan tindakan mengabaikan, menyisihkan, mengeluarkan bahwa mendiskriminasi seseorang dari kelompok sosial tertentu.

Hal ini juga merupakan salah satu taktik kontrol sosial yang merugikan salah satu pihak.

Tak heran, ketika mereka yang dirugikan atau yang dikucilkan cenderung akan berusaha seperti mengubah perilaku mereka agar dapat diterima kembali di lingkungan sosialnya.

Meskipun hal itu berarti menjadi sangat rentan terhadap pengaruh sosial.

Disebutkan juga dalam artikel jurnal tersebut bahwa pengucilan memiliki dampak yang buruk bagi para korban.

Mereka yang dikucilkan akan mengalami stres, marah, sedih, serta menurunkan tingkat rasa memiliki, harga diri, kontrol, dan makna keberadaan atau eksistensinya.

Lantas apa yang harus dilakukan ketika kita mengalami pengucilan? Hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika kita mengalami pengalaman pahit ini?

Dilansir dari psychologytoday.com pada Selasa (30/4) disebutkan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan ketika seseorang mengalami pengucilan.

  1. Jangan sepelekan

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah jangan menyepelekan perilaku pengucilan, alias anggaplah serius pengalaman tak menyenangkan itu. Ketika kita menyepelekan perilaku menyimpang ini, berarti secara tidak langsung kita telah menormalisasinya, atau sekurang-kurangnya mengabaikan sesuatu yang buruk.

Jangan sampai menganggap pengucilan adalah bahan candaan atau menganggapnya tidak ada. Pengucilan itu ada, dan itu sangat mendiskriminasi seseorang dari lingkungan sosialnya.

  1. Memahami perspektif lain

Ketika kita bukan menjadi korban, alias pihak ketika melihat tindakan pengucilan, kita tidak hanya harus melihat perspektif dari sang korban, melainkan juga kita perlu melihat perspektif dari sang pelaku.

Tujuannya adalah untuk mencari alasan mengapa seseorang dikucilkan, mengapa tindakan tak pantas itu dilakukan dan lain sebagainya. Dengan begitu, diharapkan terdapat titik terang dalam konflik sosial tersebut dan untuk mencegah terjadinya pengulangan tindakan tak baik tersebut.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore