
Tren batik bermotif Covid-19 karya Indriya bertema Pesona Covid-19 Endorphin. (Istimewa)
JawaPos.com - Setelah Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto tampil dengan busana batik bermotif virus dan diasumsikan seperti virus Korona. Kini virus tersebut benar-benar menjadi tren di kalangan dunia fashion. Batik tetap teknik yang dipiluh pada kain wastra Nusantara kali ini.
Goresan motif virus Korona dibubuhkan di atas kain batik. Di tangan desainer, penulis dan dosen asal Bandung bernama Indriya, batik trsebut diberi nama IRD 'Pesona Covid-19 Endorphin'. Dia mengklaim batik tersebut memiliki motif batik bermuatan dakwah, pendidikan, dan bisnis syariah.
"Di mana di dalam motif tersebut mengandung filosofi. Pertama, transformasi kandungan Al-Quran secara aplikatif melalui motif batiknya, kedua yakni pendidikan berciri khas nilai ajaran ulama dan cendekiawan, ketiga yaitu implementasi kearifan lokal yang berasal dari seni budaya melalui pengembangan sikap percaya diri kepada masyarakat," kata Indriya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).
Dia mencontohkan situasi wabah yang terjadi sekarang ini seperti zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, di mana pada zaman pemerintahan saat itu pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina. Di dalam buku biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husein Haekal menjelaskan, wabah tersebut menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu.
“Pesona Covid-19 Endorphin sebagai media pendidikan islam bagian dari gaya berpikir dalam Al-Quran, dakwah, sekaligus bernilai bisnis syariah," jelasnya.
Menurut Indriya, dalam setiap helai batik terkandung simbol, filosofi, dan sekaligus budaya yang merupakan bagian dari suatu peradaban suatu bangsa. Karya batik 'Pesona Covid-19 Endorphin' berasal dari salah satu gaya berpikir Alquran yaitu kontemplasi, sebagai media pendidikan islam yang memiliki nilai filosofis tersendiri. Motif batiknya bernuansa Al-Quran yang tentunya memiliki arti religius.
"Mengandung simbol dari penciptaan mahluknya yang berpasangan, di mana Covid-19 memiliki sifat negatif dan mematikan, sedangkan endorphin memiliki sifat positif yang membuat manusia berbahagia ketika menghasilkan hormon ini di otak," katanya.
Menurut Indriya, motif batik ini merupakan pengingat kepada sang pencipta dengan segala kuasaNya mampu menciptakan sebuah virus Covid-19 yang mematikan. Dan hormon endorphin sebagai salah satu obat alami, yang dapat dihasilkan dari badan kita sendiri ketika merasa bahagia.
"Sebagai salah satu imun alami yang akan keluar di dalam otak kita, ketika kita merasakan bahagia," tutupnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=cW3QAeatc2E
https://www.youtube.com/watch?v=jvypl6GZQOE
https://www.youtube.com/watch?v=JBtKCObt2eg

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
